Oleh: Alwi Sagaf Alhadar / Kolumnis / Pemerhati Sepak Bola di Ternate
Apakah Jerman mampu mematahkan siklus “anugerah” 20 tahunan itu, menjadi 10 tahunan pada Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara ini? Ataukah mereka harus kembali menunggu lebih lama?
Ibarat alat transportasi, Timnas Jerman 2026 telah melangkah jauh ke moda mesin masa depan yang menggunakan stroom (listrik). Futuristik. Namun, hasilnya ternyata tak berbanding lurus dengan performa di lapangan.
Julukan “Mesin Diesel” yang selama ini melekat pada Jerman karena identik dengan lambat panas, seolah terpatahkan. Buktinya, pada laga perdana mereka mampu membantai Curacao, tim berjuluk “Sepeda Onthel”, dengan skor fantastis 7-1.
Namun, pada laga kedua, tenaga mereka mulai terlihat berkurang. Jerman nyaris dipermalukan tim “Gajah Krem” dari Benua Afrika setelah tertinggal 0-1 hingga jeda babak pertama.
Meski akhirnya mampu membalikkan keadaan dengan susah payah, negara penemu mobil pertama di dunia itu hanya sanggup menutup pertandingan dengan kemenangan tipis 2-1 atas Pantai Gading.
Nah, pada laga pamungkas fase grup, Jumat, 26 Juni 2026, Jerman justru benar-benar kehilangan daya stroom alias “kehabisan watt“.
Akibatnya, Jerman harus bertekuk lutut di hadapan tim “Tenaga Surya”, Ekuador, negara yang berada tepat di garis khatulistiwa (equator) dunia. Mereka kalah dengan skor 1-2.
Padahal, tim yang pada masa lalu pernah dikaitkan dengan doktrin superioritas ras Arya pada era rezim Nazi ini, merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Tim berjuluk Die Mannschaft ini, telah mengoleksi empat gelar juara dunia, yakni pada 1954 di Swiss, 1974 di Jerman Barat, 1990 di Italia, dan 2014 di Brasil. Menariknya, keempat gelar itu hadir dalam rentang waktu sekitar 20 tahun.
Apakah Jerman mampu mematahkan siklus “anugerah” 20 tahunan itu, menjadi 10 tahunan pada Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara ini? Ataukah mereka harus kembali menunggu lebih lama?
Kita tunggu…!
Ternate, 26 Juni 2026

Tinggalkan Balasan