“Pesan Bapak Muhidin, combine ini harus dirawat dan dijaga agar bisa dipergunakan selama mungkin. Semua anggota kelompok juga harus mendapatkan pelayanan yang adil dalam penggunaan alat ini,” kata Henri

DONGGALA, KAIDAH.ID – Keterbatasan alat panen masih menjadi kendala bagi petani di Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala. Dengan luas areal persawahan hampir 900 hektare, petani selama ini hanya mengandalkan sekitar lima unit combine harvester.

Kondisi tersebut kini mulai teratasi setelah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bina Bersama menerima tambahan satu unit combine harvester hasil perjuangan anggota DPR RI Komisi XI Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah, Muhidin M. Said.

Bantuan diserahkan oleh anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Fraksi Partai Golkar, Henri Kusuma Muhidin, kepada Ketua Gapoktan Bina Bersama, Nasruddin M. Taha, Selasa, 30 Juni 2026. Penyerahan itu disaksikan Kepala Desa Tonggolobibi, Moh. Saleh, perangkat desa, anggota kelompok tani, dan tokoh masyarakat

Henri mengatakan bantuan tersebut, diharapkan dapat mempercepat proses panen sekaligus mengurangi kehilangan hasil yang selama ini dialami petani akibat keterbatasan alat.

Ia juga menyampaikan pesan Muhidin M. Said agar combine harvester dimanfaatkan secara maksimal dan dirawat dengan baik sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.

“Pesan Bapak Muhidin, combine ini harus dirawat dan dijaga agar bisa dipergunakan selama mungkin. Semua anggota kelompok juga harus mendapatkan pelayanan yang adil dalam penggunaan alat ini,” kata Henri.

Menurut Henri, bantuan tersebut merupakan bentuk tindak lanjut atas aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada wakil rakyat. Ia menegaskan, kebutuhan petani akan sarana produksi akan terus diperjuangkan melalui fungsi penganggaran di parlemen.

Ketua Gapoktan Bina Bersama, Nasruddin M. Taha, mengatakan tambahan satu unit combine harvester sangat berarti bagi petani karena persoalan pascapanen selama ini masih menjadi tantangan utama.

“Dengan adanya combine harvester hasil perjuangan Bapak H. Muhidin M. Said ini, kami berharap persoalan pascapanen dapat lebih teratasi. Petani bisa lebih terbantu, hasil panen juga bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Nasruddin menjelaskan, luas areal persawahan di wilayah Tonggolobibi hampir mencapai 900 hektare, sementara jumlah combine harvester yang tersedia baru sekitar lima unit. Akibatnya, proses panen sering harus menunggu giliran sehingga pelayanan kepada petani belum optimal.

Sementara itu, Kepala Desa Tonggolobibi, Moh. Saleh, berharap perhatian terhadap sektor pertanian juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur pendukung, terutama bendungan dan jaringan irigasi. Menurutnya, pemerintah desa telah mengusulkan pengalihan status Bendungan Tonggolobibi menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, namun hingga kini masih terkendala perbedaan data mengenai luas areal persawahan.

Penyerahan bantuan diakhiri dengan serah terima simbolis combine harvester kepada Gapoktan Bina Bersama sebagai tambahan sarana panen yang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian di Desa Tonggolobibi. (*)

(Ruslan Sangadji)