Sepak bola memang tidak mengenal belas kasihan. Publik sepak bola selalu memuja yang muda, yang cepat, dan yang sedang berada di puncak.

Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID

SETIAP LEGENDA selalu berhadapan dengan satu lawan yang tak pernah bisa dikalahkan. Bukan bek tangguh. Bukan pelatih jenius. Bukan pula rival yang hebat. Namanya adalah waktu. Di Dallas, waktu akhirnya menyentuh Cristiano Ronaldo.

Peluit panjang yang mengakhiri kemenangan Spanyol atas Portugal dengan skor 1-0, bukan sekadar menutup satu pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026. Peluit itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan seorang anak dari Madeira, yang selama lebih dari dua puluh tahun memaksa dunia untuk terus menyebut namanya.

Cristiano Ronaldo.

Barangkali, inilah kali pertama kita benar-benar melihat Cristiano sebagai manusia biasa.

Tidak ada selebrasi “Siuuu”. Tidak ada sprint yang membuat bek lawan kehilangan napas. Tidak ada sundulan yang seolah menantang hukum gravitasi.

Yang ada hanyalah seorang pria berusia 41 tahun, yang berjalan meninggalkan lapangan dengan langkah yang terasa lebih berat daripada biasanya.

Mimpi itu selesai.

Piala Dunia akan selalu menjadi satu-satunya trofi yang tidak pernah berhasil disentuhnya.

Ironisnya, justru di penghujung karier inilah, kritik datang paling keras. Ada yang mengatakan Ronaldo menjadi beban Portugal. Ada yang menilai ia terlalu lama bertahan. Ada pula yang beranggapan, pelatih seharusnya lebih berani memberi panggung kepada generasi baru.

Mungkin mereka benar.

Sepak bola memang tidak mengenal belas kasihan. Publik sepak bola selalu memuja yang muda, yang cepat, dan yang sedang berada di puncak.

Tetapi sejarah tidak pernah ditulis hanya oleh mereka yang masih mampu berlari paling kencang.

Empat pertandingan.

Tiga gol.

Pada usia 41 tahun.

Catatan itu mungkin tidak spektakuler jika dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo sepuluh tahun lalu. Namun bagi seorang pemain yang telah melewati lebih dari dua dekade di level tertinggi, angka itu justru menjadi bukti bahwa naluri seorang pembunuh di depan gawang tidak pernah benar-benar mati.

Lalu saya teringat ucapan Guillem Balague.

“Cristiano tetaplah Cristiano hingga akhir.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menjelaskan satu hal yang sering kita lupakan.

Cristiano Ronaldo bukan sekadar pesepak bola.

Ia adalah fenomena.

Ia adalah ukuran yang ia ciptakan sendiri.

Masalahnya, ketika seseorang menciptakan standar setinggi langit, dunia akan terus memintanya terbang, bahkan ketika sayapnya mulai lelah.

Itulah yang dialami Ronaldo.

Saat mencetak 50 gol semusim, orang menganggap itu biasa.

Saat mencetak tiga gol di Piala Dunia pada usia 41 tahun, orang bertanya apakah ia sudah habis.

Begitulah hidup seorang legenda.

Mereka tidak pernah dibandingkan dengan orang lain.

Mereka selalu dibandingkan dengan versi terbaik dirinya sendiri.

Zulham Zamrun dan Cristiano Ronaldo

Di tengah semua renungan itu, pikiran saya justru melayang ribuan kilometer dari Dallas.

Ke Ternate.

Ke seorang pria bernama Zulham Zamrun.

Mantan pemain Persib Bandung dan mantan pemain Timnas Garuda, itu adalah paman saya. Meski hubungan kami adalah paman dan keponakan, ia selalu memanggil saya “kakak” karena usia saya lebih tua.

Di Indonesia, banyak orang pernah mengenalnya dengan julukan CR7 Indonesia.

Julukan itu bukan sekadar romantisme. Cara berlari, keberanian menggiring bola, naluri mencetak gol, hingga selebrasinya membuat orang mudah menghubungkannya dengan Cristiano Ronaldo. Pokoknya Zulham itu Ronaldo abis.

Namun ini bukan tulisan tentang Zulham.

Ini tetap tulisan tentang Cristiano.

Tentang bagaimana seorang pemain bisa menjadi bagian dari hidup orang lain tanpa pernah mengenalnya secara pribadi.

Ketika Portugal tersingkir, Zulham menangis.

Tangisan itu bukan karena Portugal kalah.

Bukan pula karena Cristiano gagal menjadi juara dunia.

Tangisan itu lahir, karena seorang anak yang pernah menjadikan Ronaldo sebagai inspirasi akhirnya, menyaksikan bab terakhir dari kisah idolanya.

Saya membayangkan, mungkin jutaan orang di seluruh dunia merasakan hal yang sama.

Sebab Ronaldo bukan hanya milik Portugal.

Ia sudah menjadi milik sejarah sepak bola.

Dan sejarah, seperti juga kenangan, tidak pernah benar-benar mengenal kata pensiun.

Kelak, anak-anak akan mengenal Cristiano Ronaldo dari video-video di internet.

Mereka akan melihat gol-golnya, trofi-trofinya, rekor-rekornya.

Tetapi mereka tidak akan pernah benar-benar merasakan, bagaimana rasanya hidup di masa ketika setiap akhir pekan, dunia selalu menunggu apa lagi yang akan dilakukan seorang Cristiano Ronaldo.

Kami yang hidup di era itu beruntung.

Kami menyaksikan rivalitasnya dengan Messi.

Kami menyaksikan obsesinya menaklukkan batas usia.

Kami menyaksikan seorang manusia yang menolak menyerah kepada waktu selama mungkin.

Kini waktu akhirnya menang.

Tetapi kemenangan waktu tidak pernah mampu menghapus warisan.

Cristiano mungkin gagal membawa pulang Piala Dunia.

Namun ia membawa pulang sesuatu yang lebih sulit dimiliki oleh seorang atlet.

Rasa hormat.

Inspirasi.

Dan cinta dari jutaan orang yang bahkan tidak pernah berjabat tangan dengannya.

Termasuk seorang Zulham Zamrun di Ternate.

Dan mungkin… juga kita.

Karena pada akhirnya, legenda tidak dikenang dari bagaimana ia memulai.

Legenda dikenang dari bagaimana dunia merasa kehilangan ketika ia berhenti. (*)

Catatan: Sebagian tulisan ini dibantu oleh ChatGpt