Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Buat saya, itulah yang membuat tendangan penalti selalu menarik. Bukan sekadar soal bola masuk atau tidak. Di situlah pertarungan sebenarnya terjadi. Bukan antara penendang dan kiper, melainkan antara seorang pemain dengan dirinya sendiri. Mengendalikan rasa gugup dalam hitungan detik sering kali jauh lebih sulit daripada menendang bola itu sendiri.
SAYA MENONTON pertandingan Portugal melawan Kroasia pada Jumat, 3 Juli 2026 WIB pagi. Portugal menang 2-1. Seusai pertandingan, Cristiano Ronaldo kembali ramai menjadi perbincangan di media sosial. Bukan gol penaltinya yang paling menarik perhatian saya, melainkan gerakan bibirnya sesaat sebelum menendang bola.
Ada yang yakin Ronaldo mengucapkan: “Bismillah.” Ada juga yang bersikeras: Ah, dia bilang Wish Me Luck.
Jujur saja, saya tidak berani memastikan. Potongan videonya terlalu singkat, sudut kameranya juga bukan yang paling ideal. Lagi pula, sampai sekarang Ronaldo belum pernah menjelaskan apa yang sebenarnya dia ucapkan. Hehehe…
Tapi, justru bukan itu yang bikin saya kepikiran.
Yang langsung terlintas di kepala saya malah satu pertanyaan: bagaimana rasanya berdiri di titik penalti?
Saya pernah merasakannya. Waktu masih sekolah dan kuliah, saya beberapa kali menjadi eksekutor penalti. Jadi, saya tahu sedikit bagaimana rasanya. Kalau cuma menonton dari televisi memang kelihatannya mudah. Bola diam. Jarak ke gawang cuma 12 meter. Tinggal tendang. Selesai.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Semakin besar pertandingannya, semakin besar pula tekanannya. Puluhan ribu pasang mata di stadion tertuju kepada kita. Jutaan orang menonton dari rumah. Kalau gol, semua bersorak. Kalau gagal, siap-siap saja cuplikan videonya diputar berulang-ulang di media sosial. Hukuman sosial. Hukuman batin. Kadang yang terakhir justru lebih berat.
Mungkin karena itulah banyak pemain punya ritual kecil sebelum mengeksekusi penalti. Ada yang menarik napas panjang, ada yang menutup mata sejenak, ada yang komat-kamit, ada juga yang berdoa.
Menurut saya, ritual itu bukan soal percaya takhayul atau semacamnya. Itu lebih seperti cara setiap orang berdamai dengan rasa gugup. Cara menenangkan pikiran dalam beberapa detik yang bisa menentukan hasil pertandingan.
Kalau memang Ronaldo mengucapkan “Bismillah”, ya itu urusan dia dengan keyakinannya. Kalau ternyata yang dia ucapkan Wish Me Luck, juga tidak ada yang salah. Bahkan, bisa saja dia mengucapkan kalimat lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh netizen.
Media sosial memang lucu. Kita sibuk menebak satu atau dua kata yang keluar dari mulut Ronaldo, padahal yang jauh lebih menarik justru momen beberapa detik sebelum bola ditendang. Di situlah pertarungan sebenarnya terjadi. Bukan antara penendang dan kiper, melainkan antara seorang pemain dengan dirinya sendiri.
Buat saya, itulah yang membuat tendangan penalti selalu menarik. Bukan sekadar soal bola masuk atau tidak, tetapi tentang bagaimana seseorang mengendalikan rasa gugup di bawah tekanan yang luar biasa.
Buat saya, itulah yang membuat tendangan penalti selalu menarik. Bukan sekadar soal bola masuk atau tidak. Di situlah pertarungan sebenarnya terjadi. Bukan antara penendang dan kiper, melainkan antara seorang pemain dengan dirinya sendiri. Mengendalikan rasa gugup dalam hitungan detik sering kali jauh lebih sulit daripada menendang bola itu sendiri.
Kalau menurut kalian, Cristiano Ronaldo sebenarnya bilang apa? “Bismillah” atau Wish Me Luck? (*)

Tinggalkan Balasan