Oleh: Muhd Nur Sangadji / Pemerhati Sepak Bola / Akademisi Untad
Adinda ku, Ruslan (Ochan) Sangadji menulis kurang lebih begini untuk piala dunia 2026: “Pertandingan antara Spanyol vs Portugal, 7 Juli 2026 nanti, adalah Perang antara Ternate melawan Tidore dalam sejarah”. Saya membenarkannya. Karena itu, saya remajakan (rejouvenite) artikel sejarah yang pernah saya tulis. Tentu, dengan sedikit modifikasi. Semoga relevan dan berfaedah.
Dalam sebuah artikel, saya bercerita tentang sejumlah kota dunia. Lantas, mengapa harus dibandingkan dengan Ternate. Kota kecil di pulau kecil yang kelilingnya hanyalah sekitar 42 kilometer. Itu, karena kota kecil ini pernah berkedudukan setara dengan kota-kota dunia semenjak abad ke 15. Di sebelahnya, ada Pulau Tidore dengan ibukota Soasio.
Ini bandingannya. Ambilah contoh, Kota pelabuhan Sunda kelapa yang berubah manjadi Jayakarta, kemudian Batavia. Dan, kota pelabuhan Malaka yang kala itu telah menjadi pusat perdagangan. Dua kota ini adalah kota yang sangat penting di Asia Tenggara bagi para pelaut dan pedagang dunia. Arab, Cina dan Eropa.
Di Eropa ada Kota Sevilla. Kota tempat bertolaknya armada Spanyol yang dipimpin Fernando de Malgelhaen atau Ferdinand Magellan. Perjalanan itu bertujuan ke Ternate dan Tidore. Meskipun Magellan wafat di philipina. Namun, perjalanan dengan dua kapal tersisa bisa tiba di Maluku. Adalah Sebastian del Cano yang mengambil alih pimpinan pelayaran, dan berhasil membuang sauh di Pulau Tidore pada tahun 1521. Setelah, sebelumnya ditolak di Ternate.
Juga, Kota Lisbon di Portugal. Dari kota inilah sejumlah pelaut handal bangsa Portugis mengincar Ternate. Diawali oleh Barthlomeus Diaz, kemudian Vasco de Gama. Perjalanan terjauh kedua armada ini hanya sampai di India. Nanti, Alfonso d’Bourquerue, barulah berhasil mencapai Ternate pada tahun 1512.
Begitulah posisi pentingnya Ternate, sebagai kota yang menjadi incaran kaum elit dan bangsawan Eropa. Semua lantaran rempah-rempah, khususnya cengkih dan Pala. Tapi, itu cumalah atau tinggalah glory of history. Hari, ini bila kita sebut Ternate. Biasa-biasa saja. Bahkan nyaris kurang dikenal oleh generasi. Orang, seperti telah melupakan sejarah besar ini. Mungkin, kita juga yang kurang memperkenalkannya. Hari ini, saya buka website Ternate, minim sekali informasinya. (Tapi sangat populer di media sosial serupa Tiktok dan YouTube: red).
Padahal, keindahan Ternate, relatif tidak berubah dari sisi bentang alam. Sayang, terkesan tumbuh pesat membebani dirinya sendiri. Kota kepulauan ini berkembang dengan aglomerasi merambah ke puncak. Okupasi pemukiman menuju selatan dan pegunungan terkesan marak dan tidak terkendali. Beban daya dukung dan daya tampung wilayah, butuh konfirmasi perhitungan. Tapi apriori, terlampaui.
Dengan luasan 162,17 km2 dan jumlah penduduk kurang dari 300 ribu jiwa, kota ini masuk kategori kota kecil menuju sedang. Namun, di pusat kota, kepadatannya sangat tinggi. Dan, kota kecil yang terletak di pulau kecil itu, mestinya sangat Indah dan unik.
Faktanya, masih butuh upaya keras. Kota kecil di Pulau Ternate ini, dalam keramaian Piala Dunia 2026 ini, penuh warna warni bendera mancanegara. Tidak terkecuali tetangganya, Kota Tidore.
Di pertandingan Spanyol melawan Portugal nanti, pasti tidak banyak yang ingat. Bahwa itu adalah pertandingan mati hidup dalam perang masa lalu antara Tidore (Spanyol) melawan Ternate (Portugal). Sama dengan Iran melawan Amerika pada perang saat ini. Sayang sekali, Iran sudah lebih dahulu pulang sebelum piala dunia usai. (*)
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan