Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Lahir di Mindelo, Tanjung Verde, pada 3 Juni 1986 dengan nama lengkap Josimar José Évora Dias, hidupnya bahkan sudah memiliki kisah unik sejak lahir. Sang ayah sebenarnya ingin menamainya Valdano, terinspirasi legenda Argentina Jorge Valdano. Namun, pemerintah saat itu tidak mengizinkan nama tersebut.

TIDAK SEMUA kekalahan meninggalkan luka. Ada kalanya, sebuah kekalahan justru melahirkan penghormatan yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri. Itulah yang terjadi setelah laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Tanjung Verde (Cape Verde).

Di atas kertas, Argentina memang menang 3-2 dan melangkah ke babak berikutnya. Namun, setelah peluit panjang berbunyi, sorotan justru tertuju kepada seorang pria yang berdiri di bawah mistar gawang tim yang kalah.

Namanya Vozinha

Selama lebih dari 90 menit, penjaga gawang berusia 40 tahun itu seolah menjadi tembok yang sulit ditembus. Berkali-kali ia menggagalkan peluang emas Argentina. Lionel Messi dan para penyerang Albiceleste dibuat frustrasi oleh penyelamatan demi penyelamatan yang ia lakukan dengan penuh keberanian.

Tiga gol memang akhirnya bersarang di gawangnya. Tetapi, tidak ada yang bisa menghapus kenyataan bahwa tanpa aksi-aksi heroik Vozinha, Argentina mungkin sudah mengakhiri pertandingan jauh lebih cepat.

Tanjung Verde akhirnya tersingkir. Namun, mereka pulang dengan kepala tegak.

Lalu, lahirlah momen yang tak terekam dalam jalannya pertandingan, tetapi justru menjadi kisah yang paling membekas.

Usai pertandingan, Vozinha memberanikan diri menghampiri Lionel Messi. Ia hanya ingin menyapa pemain yang selama bertahun-tahun ia kagumi.

Yang terjadi kemudian jauh di luar dugaannya.

Messi Memeluknya

Bukan sekadar berjabat tangan, bukan pula basa-basi khas seusai pertandingan. Kapten Argentina itu memeluk sang kiper dan berkata,

“Kamu hebat. Rakyatmu harus bangga kepadamu.”

Kalimat sederhana itu menjadi hadiah terbesar bagi seorang penjaga gawang yang baru saja tersingkir dari Piala Dunia.

“Saya menghampiri Messi setelah pertandingan. Dia memeluk saya dan berkata, ‘Kamu hebat. Rakyatmu harus bangga padamu.’ Itu adalah momen yang luar biasa bagi saya,” kenang Vozinha.

Bagi banyak pemain, bertukar jersey dengan Lionel Messi adalah mimpi. Bagi Vozinha, ia mendapatkan lebih dari itu.

Vozinha

Mendapatkan Penghormatan

Setelah berbincang singkat, Vozinha meminta bertukar jersey. Messi langsung mengiyakan dan berjanji menyerahkan kostumnya setelah menyelesaikan sesi wawancara.

“Momen seperti ini akan selalu terukir di dalam hati selamanya,” ujar Vozinha.

Kisah Vozinha sendiri adalah cerita tentang mimpi yang tidak pernah mengenal kata terlambat.

Lahir di Mindelo, Tanjung Verde, pada 3 Juni 1986 dengan nama lengkap Josimar José Évora Dias, hidupnya bahkan sudah memiliki kisah unik sejak lahir. Sang ayah sebenarnya ingin menamainya Valdano, terinspirasi legenda Argentina Jorge Valdano. Namun, pemerintah saat itu tidak mengizinkan nama tersebut.

Sebagai gantinya, ia diberi nama Josimar, mengikuti bek Brasil yang bersinar di Piala Dunia 1986.

Karier profesionalnya pun datang jauh lebih lambat dibanding kebanyakan pesepak bola. Vozinha baru benar-benar bermain di level profesional saat berusia 25 tahun.

Ia menjalani perjalanan panjang dari Tanjung Verde menuju Slovakia, Angola, Moldova, Siprus, hingga akhirnya berlabuh di klub Portugal, Chaves.

Tak sedikit yang mengira kariernya telah memasuki penghujung jalan. Bahkan, ia sendiri sempat berpikir untuk pensiun dari tim nasional.

“Saya berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi kemudian saya melanjutkan karena mimpi ini,” tuturnya.

Mimpi itu Bernama Piala Dunia

Dan ketika Tanjung Verde akhirnya lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah, keputusan bertahan itu berubah menjadi salah satu pilihan terbaik dalam hidupnya.

Pada usia 40 tahun, Vozinha mencatatkan sejarah sebagai salah satu pemain tertua yang menjalani debut di Piala Dunia. Sebuah pencapaian yang menjadi simbol bahwa kerja keras tidak mengenal batas usia.

Namun, Rekor Hanyalah Angka

Warisan terbesar Vozinha justru lahir dari keberanian Tanjung Verde menghadapi tim-tim besar tanpa rasa gentar. Mereka menahan imbang Spanyol di fase grup, memaksa Argentina bertarung hingga menit-menit terakhir, dan menunjukkan kepada dunia bahwa negara kecil pun mampu berdiri sejajar di panggung terbesar sepak bola.

FIFA bahkan memberikan penghormatan khusus kepada Tanjung Verde sebagai debutan yang langsung meninggalkan jejak dalam sejarah turnamen.

Dan di antara semua cerita indah itu, ada satu adegan yang mungkin akan dikenang lebih lama daripada hasil pertandingan.

Seorang juara dunia memeluk seorang kiper yang baru saja kalah.

Karena dalam sepak bola, tidak semua penghargaan diberikan kepada mereka yang menang.

Ada kalanya, penghormatan tertinggi diberikan kepada mereka yang berjuang tanpa pernah menyerah. (*)