PELUIT PANJANG belum dibunyikan. Tapi pertandingan praktis sudah selesai. Delapan bulan lalu, Muhidin M Said masuk sebagai pemain pengganti.

Statusnya, hanya Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan. Itu berarti ia menjadi kapten tim, meski bukan pemain inti. Tugasnya sederhana, tetapi berat: menghentikan kebuntuan dan membawa Golkar Sulsel kembali bermain di lapangan yang semestinya, bernama Musyawarah Daerah.

Banyak yang tahu, itu bukan pekerjaan mudah. Muhidin tidak memilih duduk di balik meja. Ia turun ke lapangan. Menyusuri seluruh daerah pemilihan di Sulawesi Selatan, bertemu para pengurus, berdialog dengan kader, mendengar satu per satu aspirasi, lalu berbicara dari hati ke hati.

“Karena memang politik itu, pada akhirnya bukan sekadar soal menghitung dukungan. Politik politik itu seni merawat kepercayaan,” kata Muhidin M. Said yang juga Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI itu.

Memilih Menjadi Jembatan, Bukan Tembok

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada perbedaan pandangan, ada banyak kepentingan yang harus dipertemukan, bahkan ada ego yang harus diredam. Namun justru di situlah kepemimpinan diuji. Muhidin memilih menjadi jembatan, bukan tembok.

Satu demi satu simpul berhasil dirajut. Perbedaan tidak dipertajam, tetapi dipertemukan. Aspirasi tidak dipertentangkan, melainkan dicari titik temunya.

Hasilnya kini terlihat jelas. Musda Golkar Sulawesi Selatan akan digelar pada 18 Juli 2026. Lebih dari sekadar agenda organisasi, Musda kali ini menjadi penanda bahwa masa transisi telah selesai.

Yang lebih menarik, harapan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, agar kepemimpinan dipilih melalui musyawarah mufakat, benar-benar diwujudkan. Bukan sekadar slogan.

Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sepertinya akan mendapatkan kepercayaan Bersama, untuk memimpin Golkar Sulawesi Selatan secara aklamasi. Tidak ada duel yang menguras energi. Tidak ada pertarungan yang menyisakan luka politik. Yang lahir adalah kesepahaman, bahwa persatuan jauh lebih mahal daripada kemenangan sesaat.

Tentu, setiap keputusan politik hampir mustahil memuaskan semua pihak. Selalu ada yang sepakat, selalu ada yang menyimpan keberatan. Itulah wajah demokrasi, termasuk di Partai Golkar. Perbedaan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dikelola agar tidak berubah menjadi perpecahan.

Dan di Situlah Kedewasaan Politik Diuji

Mereka yang hari ini mungkin belum sejalan, tetap berada di rumah besar yang sama. Sebab Golkar selalu mengajarkan, bahwa kompetisi berakhir ketika keputusan organisasi telah diambil. Setelah itu, tidak ada lagi kubu-kubuan. Yang ada adalah bekerja bersama, menata kembali organisasi, meruntuhkan sekat-sekat yang sempat muncul, lalu melangkah ke tujuan yang sama.

Prestasi seorang Plt, bukan diukur dari berapa lama ia bertahan di kursi, melainkan seberapa cepat ia mampu menyelesaikan tugas yang dipercayakan.

Sejarah mencatat, dua Plt sebelumnya bahkan menghabiskan waktu hingga sekitar tiga tahun tanpa berhasil menggelar Musda. Situasi itu membuat roda organisasi di tingkat provinsi akhirnya harus diambil alih oleh DPP di Jakarta.

Muhidin M Said Memilih Jalan yang Berbeda

Ia datang bukan untuk memperpanjang masa transisi, tetapi mengakhirinya. Datang bukan untuk menambah persoalan, melainkan menyelesaikannya.

Dalam sepak bola, tidak semua pemain terbaik adalah pencetak gol. Ada yang justru menjadi penentu kemenangan karena mampu memberi umpan matang, mengatur ritme permainan, dan memastikan tim mencapai garis akhir tanpa drama.

Mungkin, itulah peran yang dimainkan Muhidin M. Said selama delapan bulan terakhir.

Di ujung perjalanannya, ia meninggalkan satu kalimat yang layak menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar Golkar Sulawesi Selatan:

“Kita boleh tidur di kasur yang berbeda, tetapi mimpi kita tetap sama,” kata Muhidin.

Mimpi itu adalah mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan.

Karena pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang siapa yang menang dalam sebuah Musda. Politik adalah tentang bagaimana semua kembali berdiri dalam satu barisan, setelah keputusan diambil. Dan dari sanalah, pertandingan yang sesungguhnya baru dimulai. (*)

(Ruslan Sangadji)