Persaudaraan antarmanusia harus dibangun atas dasar ketulusan tanpa mencampuradukkan keyakinan masing-masing.

PALU, KAIDAH.ID – Program Ngopi (Ngobrol Pintar) Kerukunan yang digagas Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Warkop Tjik Vera, Jalan H. Agus Salim, Kota Palu, dipadati peserta hingga meluber ke area luar warung kop, pada Jumat, 7 Agustus 2026 pagi.

Forum yang dikemas santai namun sarat gagasan itu menghadirkan tokoh agama, pemerintah, akademisi, aparat keamanan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum dalam satu ruang dialog untuk memperkuat semangat moderasi beragama dan kebersamaan di Sulteng.

Diskusi dipandu anggota FKUB Sulteng, Endang Susan, dengan suasana hangat dan interaktif. Berbagai isu mengenai kerukunan, toleransi, hingga tantangan keberagaman dibahas secara terbuka.

Ketua FKUB Provinsi Sulteng, KH. Zainal Abidin, mengatakan agama hadir untuk menghadirkan kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan dalam kehidupan manusia. Karena itu, menurutnya, tidak seharusnya ajaran agama dijadikan alat untuk membenci ataupun mengintimidasi pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda.

“Saya pernah berkata, Tuhan dan agama itu tidak perlu dibela. Tuhan menurunkan agama supaya kita membela manusia,” kata Prof. Zainal Abidin.

Guru Besar UIN Datokarama Palu itu menilai seluruh agama memiliki nilai-nilai universal yang sama, yakni menjunjung kemanusiaan, keadilan, kasih sayang, kepedulian sosial, kebenaran, dan sikap saling menghargai.

Ia menegaskan, FKUB akan terus mengembangkan program-program edukatif tentang moderasi beragama, agar kerukunan dan kedamaian di Sulteng semakin kuat.

“Kita akan terus sosialisasikan pemahaman moderasi beragama ini, supaya kerukunan dan kedamaian betul-betul dapat tercipta dan senantiasa terjaga di Provinsi Sulawesi Tengah,” katanya.

Kak Cudy Berbagi Pengalaman

Kegiatan tersebut juga dihadiri mantan Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura, yang berbagi pengalaman membangun hubungan lintas agama selama menjadi kepala daerah.

Pria yang akrab disapa Kak Cudy itu menekankan, persaudaraan antarmanusia harus dibangun atas dasar ketulusan tanpa mencampuradukkan keyakinan masing-masing.

“Mari kita ke depan, pemahaman yang harus dipahami bersama ialah kemanusiaan itu di atas segala-galanya. Agama ini menuntun kita untuk memanusiakan manusia lainnya meskipun berbeda keyakinan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi FKUB Sulteng dalam membangun ruang-ruang dialog lintas agama. Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, kata dia, siap mendukung pembentukan kepengurusan FKUB hingga tingkat kecamatan.

“Kami melihat FKUB ini sangat positif kegiatan-kegiatannya. Sehingga kami mendukung pembentukan FKUB di semua kecamatan se-Kabupaten Parigi Moutong,” ungkap Abdul Sahid.

Dari pihak mitra, Team Leader Project Inclusion Sulawesi Tengah Wahana Visi Indonesia, Kristian Edi Suseno, memaparkan berbagai program yang dijalankan organisasinya, untuk mendukung pembangunan daerah dalam sepuluh tahun mendatang. Fokus program tersebut mencakup perlindungan anak, pemberdayaan kelompok rentan, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan mengenai penguatan moderasi beragama, toleransi, dan tantangan kehidupan masyarakat yang semakin majemuk.

Forum Ngopi Kerukunan kali ini juga dihadiri perwakilan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Dirbinmas Polda Sulteng Kombes Pol Sirajuddin Ramly, Ketua PSMTI Wijaya Chandra, Wakil Rektor UIN Datokarama Palu Prof. Dr. H. Hamlan, unsur Kesbangpol Provinsi Sulawesi Tengah, Kesbangpol Kota Palu, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, serta ratusan pengunjung dari berbagai latar belakang. (*)

(Ruslan Sangadji)