Rabu, 24 Juli 2024

Darah Mengalir di Tanah Harapan. Cerita Aksa Tombolotutu Tentang Emas di Tinombo

TEMUI PENDEMO - Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura saat menemui para pendemo di ruangan kerjanya. Mereka berdemonstrasi sebagai wujud solidaritas terhadap tewasnya Erfaldi saat unjuk rasa menolak perusahaan tambang emas di Tinombo Selatan, Parigi Moutong | Foto: tangkapan layar

SIANG ITU, matahari seakan berada sejengkal dari kepala. Seorang lelaki berkacamata Rayban, berdiri memegang jas berwarna gelap di tangan kiri, sembari menarik dalam-dalam sebatang rokok.

Lelaki itu bernama Andi Aksa Tombolotutu, putra dari Kuti Tombolotutu bergelar Datu Pamusu itu kemudian menunjuk hamparan seluas pandangan mata di Tinombo dan sekitarnya di Kabupaten Parigi Moutong.

Kepada Mulhanan, ayahnya berpesan: “Ini adalah tanah harapan. Jangan diolah, tapi boleh digarap untuk persawahan,” kata Andi Aksa Tombolotutu.

Di awal titahnya itu, tak ada yang paham maksudnya. Andi Mulhanan Tombolotutu, putra Andi Aksa Tombolotutu mengaku saat menyampaikan ini adalah tanah harapan, tak ada lagi yang bertanya maksudnya.

“Saya dan anak cucunya hanya tahu bahwa tanah harapan itu tak boleh diolah. Maka saya berpesan kepada saudara-saudara saya agar tidak diolah dan tidak mencari tahu apa maksudnya,” kata Kak Tony, sapaan akrab Andi Mulhanan Tombolotutu.

Waktu terus berjalan, beberapa saat kemudian masyarakat mafhum, tanah harapan tak boleh diolah, karena di tanah ini tersembunyi bijih logam mulai.

Di awal era Orde Baru, sekira tahun 1969, masyarakat di Tinombo dan Kasimbar mengolah emas di sekitar wilayah tersebut. Tetapi dengan cara tradisional. Mereka mendulang. Tak ada deru mesin dari excavator yang menggali lobang mengambil bijih emas untuk diolah.

Sekira 1971-1973, masyarakat setempat meninggalkan aktivitas mendulang emas. Itu terjadi seiring masuknya perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang mengolah kayu hitam alias Ebony.

Masyarakat ramai-ramai meninggalkan aktivitas mendulang, mereka mencari kayu hitam untuk dijual kepada perusahaan HPH. Warga meninggalkan emas kuning, beralih ke emas hitam.

Pasca reformasi, hadir perusahaan tambang emas di Moutong, Desa Lobu dan di Kasimbar Tinombo.

Kandungan emas di tanah harapan akhirnya kembali diolah. Padahal, seharusnya cukup diolah dengan cara underground, tetapi yang terjadi dilakukan dengan cara open field. Akibatnya banyak korban, karena tertimbun longsor dan lainnya.

Andi Mulhanan mengatakan, belakangan ayahnya berpesan untuk tidak mengolah tanah harapan, yaitu untuk tambang emas dan kayu hitam.

“Jika mengolah kayu hitam itu bagus, pasti semua rumah dan perabotan di rumah nenek moyang kita sudah menggunakan kayu hitam,” kata Mulhanan mengutip pesan ayahnya.

Banyak contoh, para pengusaha kayu hitam tak bertahan lama. Hanya beberapa saat menikmati hasil, kemudian bangkrut.

Itulah kemudian yang mengharuskan Mulhanan Tombolotutu tidak mau berusaha di tambang emas dan kayu hitam, meskipun banyak lokasi warisan keluarga mereka yang berisi logam mulia dan kayu hitam.

Pesan Andi Aksa Tombolotutu itu sejalan dengan semangat Tombolotutu, yang bersumpah untuk tidak menyerahkan satu gram emas pun kepada Belanda, sampai akhirnya ia diburu dan harus bergerilya melawan Belanda.

KEMBALI MEMAKAN KORBAN