MENJELANG HARI RAYA IDUL FITRI 1447 HIJRIAH, halaman rumah Menteri Hukum Republik Indonesia, Supratman Andi Agtas, di Jalan Lagarutu, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, tampak dipenuhi ribuah warga.

Sejak siang hari, masyarakat berdatangan. Anak-anak berlarian di antara kerumunan, sementara para ibu dan bapak menunggu dengan sabar. Mereka datang dari berbagai sudut kota dan sekitarnya, berkumpul di halaman rumah itu dengan satu tujuan: mengikuti tradisi bagi-bagi hagala.

Di tengah suasana Ramadhan yang kian mendekati Lebaran, Supratman Andi Agtas memilih cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan. Ia membagikan sedekah kepada warga yang datang, dengan pecahan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per orang.

Satu per satu warga maju menerima sedekah tersebut. Senyum dan ucapan terima kasih terdengar bersahutan. Bagi sebagian warga, bantuan itu menjadi tambahan kebahagiaan menjelang hari raya.

Langkah Menteri Hukum RI ini, mencerminkan pesan yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto kepada para pejabat negara. Presiden mengingatkan agar pejabat menunjukkan empati kepada masyarakat, terutama menjelang Lebaran.

Meski tidak melarang open house, Presiden Prabowo mengimbau, agar open house tidak digelar secara berlebihan atau bermewah-mewahan.

Di Palu, empati itu diwujudkan seorang menteri melalui tradisi lokal yang sudah lama hidup di tengah masyarakat: hagala.

Dalam tradisi setempat, hagala bukan sekadar memberi sedekah. Istilah ini diyakini berasal dari bahasa Arab, dari dua suku kata: haq dan Allah. Maknanya mengandung pesan bahwa dalam setiap rezeki yang dimiliki seseorang, terdapat hak Allah yang harus dibagikan kepada sesama.

Karena itu, hagala selalu menjadi momen berbagi kebahagiaan menjelang Lebaran. Warga yang datang tidak sekadar menerima bantuan, tetapi juga merasakan kebersamaan dan kepedulian sosial.

Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palu. Setiap Ramadhan menjelang Idul Fitri, pemandangan warga berkumpul di halaman rumah untuk hagala selalu menjadi cerita yang berulang dari tahun ke tahun.

Dan di halaman rumah Supratman Andi Agtas sore itu, tradisi lama tersebut kembali hidup, sebagai cara sederhana berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Anak-anak yang pulang dengan uang di tangan, ibu-ibu yang tersenyum lega, dan para orang tua yang saling bertukar doa, semua menyatu dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Di tengah riuhnya kehidupan modern, tradisi sederhana seperti hagala masih bertahan, yang mengingatkan kita, bahwa berbagi tidak harus mewah.

Kadang, cukup dengan membuka halaman rumah dan membuka hati. (*)

(Ruslan Sangadji)