PALU, KAIDAH.ID – Sebuah buku reflektif bertajuk: Menata Kota, Menyusun Harapan: Kisah Inspiratif dari Palu, karya Salihudin, resmi terbit pada Januari 2026 dan mulai menarik perhatian publik, khususnya kalangan pemerintahan, akademisi, dan pegiat kota.
Diterbitkan oleh Adab Indramayu, buku setebal 111 halaman ini, menawarkan sudut pandang berbeda dalam melihat pembangunan kota. Tidak sekadar membahas infrastruktur dan kebijakan, penulis mengajak pembaca memahami kota sebagai ruang hidup manusia yang sarat dengan pengalaman, ingatan, luka, dan harapan.
Sejak bagian awal, buku ini menegaskan gagasan Utama, bahwa menulis tentang kota berarti menulis tentang manusia. Perspektif ini menjadi benang merah dalam seluruh pembahasan, terutama dalam melihat bagaimana Palu bangkit pascabencana 28 September 2018 dan menyusun kembali arah pembangunannya.
Buku ini juga diperkuat dengan sambutan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, pengantar Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin, serta pengantar akademik oleh Muhd. Nur Sangadji. Kehadiran para tokoh tersebut, menegaskan posisi buku ini di antara praktik pemerintahan dan refleksi ilmiah.
Secara struktur, buku ini membahas berbagai aspek pembangunan kota, mulai dari hubungan antara kota dan harapan, tata ruang, infrastruktur, hingga konsep pemerintahan kolaboratif dan keberlanjutan lingkungan. Penulis menekankan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat, komunitas, dan sektor swasta.
Salah satu gagasan yang menonjol adalah pentingnya kota kolaboratif dan pemerintahan terbuka. Dalam buku ini, masa depan Palu digambarkan bertumpu pada partisipasi warga dan dialog antar pemangku kepentingan, bukan pada kekuasaan yang terpusat.
Selain itu, buku ini juga menghadirkan sisi lokal yang kuat melalui pembahasan tentang ruang-ruang publik seperti Taman Vatulemo, budaya Surabe Kaili, layanan publik, hingga kehidupan pesisir dan kuliner. Pendekatan ini membuat pembahasan tetap membumi dan dekat dengan realitas masyarakat.
Menariknya, penulis turut mengangkat konsep seperti Happy City Index dan Global Flourishing Study untuk menggeser paradigma pembangunan kota. Ukuran keberhasilan tidak lagi semata pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan warga.
Meski bernuansa reflektif, buku ini tidak lepas dari catatan kritis. Minimnya data empiris dan perbandingan dengan kota lain, menjadi catatan bagi sebagian pembaca. Namun, hal tersebut justru menegaskan karakter buku sebagai kumpulan esai pemikiran, bukan laporan penelitian teknis.
Secara keseluruhan, karya ini dinilai relevan bagi berbagai kalangan, mulai dari pejabat publik hingga masyarakat umum yang peduli pada masa depan kota. Buku ini menawarkan arah moral dalam pembangunan: bahwa kota yang maju adalah kota yang tetap manusiawi, menjaga lingkungan, serta merawat ingatan kolektif warganya.
Melalui buku ini, penulis tidak hanya menampilkan Palu sebagai kota yang bertumbuh, tetapi juga sebagai ruang yang terus belajar dari masa lalu dan menata harapan menuju masa depan.
Anda dapat memilikinya dengan cara membeli secara online melalui shoope, tokopedia dan adab store. Dengan membaca buku ini, kita akan akan menemukan relevansinya, bahwa buku ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan