JAKARTA, KAIDAH.ID – Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) menyampaikan pernyataan resmi, menyikapi polemik yang berkembang di tengah masyarakat, terkait pernyataan Jusuf Kalla yang dinilai menimbulkan kesalahpahaman, khususnya di kalangan umat Nasrani.
Koordinator Presidium MN KAHMI, Abdullah Puteh, menegaskan penting bagi seluruh elemen bangsa, untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman Indonesia. Menurutnya, perbedaan latar belakang agama tidak boleh menjadi alasan untuk terjadinya perpecahan.
“Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip ini harus terus dijaga sebagai fondasi utama keutuhan bangsa,” tegas Abdullah dalam pernyataan tertulisnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal MN KAHMI, Syamsul Qomar, menilai bahwa pernyataan Jusuf Kalla perlu dipahami secara utuh dan kontekstual. Ia menegaskan, polemik yang muncul saat ini, lebih disebabkan oleh penafsiran yang tidak lengkap, bukan karena adanya niat untuk menyinggung kelompok tertentu.

“Kami melihat pentingnya kehati-hatian dalam memahami pernyataan publik. Kesalahpahaman bisa terjadi jika konteks tidak dipahami secara menyeluruh,” kata Syamsul.
MN KAHMI juga mengingatkan agar perbedaan tafsir tidak dimanfaatkan untuk memicu polarisasi berbasis agama. Organisasi ini secara tegas menolak narasi yang berpotensi memecah belah persatuan dan merusak semangat persaudaraan kebangsaan.
Dalam upaya meredam ketegangan, MN KAHMI mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para tokoh agama, untuk mengedepankan dialog dan klarifikasi (tabayyun). Langkah ini dinilai penting guna mencegah kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Selain itu, MN KAHMI menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan yang moderat dan inklusif. Mereka juga menyoroti rekam jejak Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional yang selama ini berperan dalam menjaga perdamaian serta menyelesaikan berbagai konflik sosial dan keagamaan di Indonesia.
“MN KAHMI mengenal rekam jejak Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional yang konsisten dalam menjaga
perdamaian, termasuk dalam penyelesaian konflik sosial dan keagamaan di Indonesia. Oleh karena itu,
tidak tepat jika beliau dipersepsikan sebagai figur yang intoleran,” tegas Abdullah Puteh.
Di akhir pernyataannya, Abdullah Puteh dan Syamsul Qomar mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Mereka juga mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya keluarga besar KAHMI, untuk bersama-sama menjaga stabilitas nasional demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)
(Ruslan Sangadji)


Tinggalkan Balasan