PALU, KAIDAH.ID – Rencana Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, melakukan kunjungan kerja ke China untuk menjajaki kerja sama di bidang pertanian mendapat perhatian Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Muhd Nur Sangadji. Dia menilai, kunjungan tersebut harus benar-benar menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di daerah.

Dalam tulisannya yang dibuat di atas pesawat Garuda rute Palu-Jakarta, Kamis, 07 Mei 2026, Muhd Nur Sangadji mengungkapkan, China layak menjadi tempat belajar, karena berhasil membangun sektor pertanian modern berbasis teknologi, meski memiliki jumlah penduduk sangat besar.

“China meruntuhkan asumsi lama bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai negara kecil dengan jumlah penduduk sedikit. Dengan populasi sekitar lima kali lipat Indonesia, mereka justru mampu menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi dunia,” tulisnya.

Ia menuturkan, selama perjalanan dirinya sempat berdiskusi dengan anggota DPR RI, Muhammad Ajbar, mengenai masa depan pertanian dan ketahanan pangan daerah. Keduanya sama-sama memiliki latar belakang pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu.

Menurutnya, kemajuan pertanian China, terlihat dari penerapan teknologi modern seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), drone pertanian, hingga rumah kaca pintar (smart greenhouse) yang mampu mengatur suhu, kelembapan, dan pencahayaan secara otomatis.

“Drone digunakan untuk pemupukan, penyemprotan, dan pemantauan kesehatan tanaman. Bahkan wilayah gurun berhasil diubah menjadi kawasan produktif dengan dukungan teknologi tinggi,” tulisnya.

Selain itu, China juga dinilai berhasil memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian, serta perlindungan terhadap petani melalui program asuransi pertanian.

Prof. Muhd Nur Sangadji menyoroti kondisi petani Indonesia yang masih menghadapi banyak persoalan, mulai dari keterbatasan bibit, pupuk, irigasi, hingga pemasaran hasil panen.

Karena itu, ia menegaskan, setiap kunjungan belajar ke luar negeri, harus berorientasi pada penerapan nyata di daerah.

Ia menyebut, ada lima pertanyaan penting yang perlu dijawab sebelum mengadopsi sebuah inovasi pertanian, yakni apakah program tersebut menguntungkan secara ekonomi, memungkinkan diterapkan secara teknis, dapat diterima secara sosial, berkelanjutan secara ekologis, dan didukung sumber daya lokal.

“Kita membutuhkan kolaborasi progresif antara pemerintah, dunia usaha, NGO, masyarakat, dan perguruan tinggi, agar inovasi pertanian benar-benar dapat diwujudkan,” tulisnya.

Ia berharap, kunjungan kerja ke China tersebut dapat membawa manfaat besar bagi pengembangan sektor pertanian Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah. (*)

(Ruslan Sangadji)