Oleh: Farid Dj. Nasar / Abnaulkhairaat
Azan Zuhur baru saja menggema di langit Kota Palu. Suaranya memecah siang yang tenang, merambat dari menara-menara masjid ke rumah-rumah warga. Di waktu yang sakral itu, seorang lelaki sepuh yang sepanjang hidupnya begitu akrab dengan masjid, doa, dan zikir, menghembuskan napas terakhirnya dengan damai.
Namanya Awad bin Umar Majham Alamrie. Namun masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan sederhana yang terasa hangat di telinga: Ami Awad.
Usianya telah sangat senja, diperkirakan antara 96 hingga 98 tahun. Ia wafat pada Senin 04 Mei 2026 siang, tepat ketika panggilan salat Zuhur berkumandang. Seolah hidupnya memang ditakdirkan menyatu dengan waktu-waktu ibadah yang selama ini dijaganya dengan penuh istiqamah.
Tidak ada kegelisahan menjelang kepergiannya. Beberapa hari sebelumnya, Ami Awad bahkan sempat menyampaikan firasat itu kepada anaknya dengan nada yang tenang.
“Hari Jumat atau Senin nanti Aba pergi. Sudah saya lihat tempat saya di samping Masjid Rumah Putih.”
Kalimat itu tidak terdengar sebagai ketakutan menghadapi maut. Ia justru menyerupai seorang musafir tua, yang telah mengetahui ujung perjalanannya, lalu menerimanya dengan hati lapang dan penuh kerelaan.
Ami Awad adalah bagian dari generasi awal Abnaulkhairaat yang hidup di masa Guru Tua, HS Idrus bin Salim Aljufri. Ami Awad lahir di Tawaeli dari seorang ibu bernama Siti Amiera Lasima, perempuan asli setempat. Bahasa Kaili Rai yang kental dalam tutur katanya, menjadi penanda bahwa akar tradisi dan tanah kelahirannya tidak pernah ia tinggalkan.
Tetapi hidup Ami Awad tidak sekadar tentang asal-usul. Ia adalah tentang pengabdian yang panjang dan sunyi.
MENJALANKAN AMANAH HABIB SAGGAF
Di Masjid Alkhairaat, Ami Awad bukan hanya imam shalat. Ia adalah penjaga ritme ibadah, sosok yang memandu takbir, dan wajah yang hampir selalu hadir di setiap waktu shalat. Amanah itu datang melalui rekomendasi langsung dari almarhum HS Saggaf Aljufri, dan dijalankannya tanpa banyak bicara, tanpa mencari pujian. Posisi ini juga membuat beliau sering mendampingi tokoh-tokoh penting yang datang berziarah ke makam Guru Tua yang berada tepat di depan masjid.
Kedekatan Ami Awad dengan Habib Saggaf, bukan sekadar hubungan antara pimpinan dan orang yang diberi amanah. Ada kehangatan yang tumbuh dari perjalanan panjang bersama.
Dalam berbagai safari dakwah dan perjalanan ke daerah untuk urusan kealkhairaatan, Ami Awad kerap diajak menemani. Ia juga dipercaya menjadi pengawas eksternal sekolah-sekolah Alkhairaat, tugas yang dijalaninya dengan rasa tanggung jawab dan kebanggaan.
YA ARHAMAR RAHIMIN
Bagi banyak jamaah, Ami Awad bukan sekadar imam. Ia adalah keteduhan itu sendiri. Setiap selesai memimpin doa, ada satu zikir yang nyaris tak pernah absen dari lisannya:
Ya Arhamar Rahimin, Ya Arhamar Rahimin, Ya Arhamar Rahimin, Farrij ‘alal muslimin. Sebuah doa yang berarti: Wahai Yang Maha Pengasih melebihi segala kasih sayang, limpahkanlah pertolongan kepada kaum muslimin.
Zikir itu begitu melekat pada dirinya. Ia melafalkannya bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi seperti napas yang mengalir alami dari dalam jiwa.
Kenangan tentang zikir itu kembali hadir, ketika penulis bersama Ustadz Haekal menjenguk Ami Awad saat dirawat di Rumah Sakit Alkhairaat. Saat itu, Ustadz Haekal mencoba menghibur beliau dengan melantunkan zikir kesayangannya.
Ami Awad tidak banyak bicara. Ia hanya mengangkat jari telunjuknya perlahan ke atas. Sebuah gerakan kecil yang justru terasa sangat dalam maknanya. Seolah ia sedang mengingatkan, bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Yang Maha Cinta.
JENAZAHNYA DISHALATKAN DI DUA MASJID
Hari pemakamannya berlangsung pada Selasa, 05 Mei 2026 pagi.Jenazahnya dishalatkan di dua masjid. Jamaah terlebih dauhulu menyalatkam jenazahnya di Masjid Nurul Abrar, masjid yang dekat dengan kediamannya. Setelah itu, shalat jenazah kembali dilaksanakan di Masjid Alkhairaat, masjid yang selama puluhan tahun menjadi ruang pengabdiannya.
Dari sana, Ami Awad diantar menuju pemakaman terakhirnya di Pemakaman Umum Pogego.
Ada suasana yang dirasakan berbeda oleh banyak pelayat pagi itu. Setelah beberapa hari Kota Palu dilanda panas terik, langit tiba-tiba berubah mendung. Udara menjadi lebih teduh, seakan alam ikut menurunkan penghormatan terakhir.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya perubahan cuaca. Namun bagi mereka yang mengenal Ami Awad, suasana itu terasa seperti tanda perpisahan seorang hamba saleh, yang berpulang dalam keadaan husnul khatimah.
Hingga usia senjanya, Ami Awad tidak banyak berubah. Ia tetap ramah, murah senyum, dan istiqamah. Waktu tidak mengikis kelembutan sikapnya.
Malam kedua setelah kepergiannya, rumah duka di Jalan Anggur Raya, Kecamatan Tatanga, masih dipenuhi pelayat. Ratusan jamaah datang menghadiri tahlilan dan takziah. Para ustadz, sahabat, murid, dan masyarakat silih berganti memanjatkan doa.
Mereka mengenang seorang lelaki yang sepanjang hidupnya memilih jalan sunyi: mengabdi tanpa banyak bicara, bekerja tanpa ingin dipuji, dan memberi tanpa berharap balasan.
Ami Awad telah pergi.
Namun orang-orang seperti dirinya tidak benar-benar hilang. Mereka menetap dalam ingatan banyak orang, hidup dalam doa-doa yang terus dipanjatkan, dan tinggal dalam jejak kebaikan yang tak selesai meski raganya telah tiada.
Selamat jalan, Ami Awad.
Allahummagfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu.
Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan