PALU, KAIDAH.ID – Langkah tegas aparat dalam menjaga keamanan kembali terlihat. Tim Densus 88 Antiteror Polri berhasil menangkap delapan terduga teroris di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), tepatnya di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong, Rabu, 06 Mei 2026 dini hari.

Penindakan tersebut mendapat dukungan dari tokoh intelektual dan moderasi beragama, Zainal Abidin. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah itu menilai, langkah aparat sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman radikalisme dan terorisme.

“Terorisme adalah ancaman nyata. Terkadang penganut paham ini tidak tampak dalam keseharian, tetapi ideologi yang mereka bawa bisa berakibat fatal jika dibiarkan,” kata Prof. Zainal yang juga Guru Besar UIN Datokarama Palu, Rabu, 06 Mei 2026 sore.

Ia mengajak masyarakat, untuk tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya proses hukum kepada aparat. Menurutnya, setiap tindakan yang dilakukan Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Densus 88, telah melalui proses pengumpulan data dan bukti yang kuat.

Penangkapan ini menyasar delapan orang berinisial R (32), AT (29), RP (32), ZA (37), A (43), A (46), S (47), dan DP (39). Mereka diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menyebut para terduga aktif menyebarkan propaganda melalui media sosial. Mereka membagikan konten berupa gambar dan video yang bertujuan memengaruhi masyarakat agar terpapar paham radikal.

Menanggapi hal itu, Prof. Zainal menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap konten digital yang bersifat provokatif. Ia juga mengingatkan agar penegakan hukum tidak menimbulkan kecurigaan antarsesama warga.

“Kita percayakan kepada Densus, karena setiap tindakan didasarkan pada bukti yang kuat. Yang bersalah akan dihukum, dan jika tidak terbukti tentu dibebaskan. Ini demi menjaga kita semua dari ancaman terorisme,” tegasnya.

Operasi penangkapan yang berlangsung antara pukul 01.30 hingga 03.30 WITA tersebut, masih dalam tahap pengembangan. Aparat terus melakukan pendalaman guna mengungkap kemungkinan jaringan yang lebih luas.

Prof. Zainal berharap, peristiwa ini menjadi momentum memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan di Bumi Tadulako.

“Kita harus terus merawat kerukunan yang sudah terbangun di Sulawesi Tengah. Jangan sampai kita saling curiga. Justru ini saatnya kita semakin solid dan saling menghargai,” tandasnya. (*)

(Ruslan Sangadji)