PALU, KAIDAH.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, menyoroti kondisi fiskal daerah yang mengalami kontraksi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Gubernur Anwar Hafid mengungkapkan, pada tahun 2025, transfer keuangan daerah tercatat sebesar Rp535 miliar, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi Rp1,2 triliun.

Meski demikian, katanya, APBD Sulteng mengalami tekanan hingga tersisa sekitar Rp4,3 triliun akibat kontraksi di sektor pemerintahan.

“Syukur Sulawesi Tengah masih memiliki kinerja fiskal yang cukup baik. Insya Allah tahun depan kita bisa tumbuh bersama sektor pengolahan, pertanian, dan perikanan, tidak hanya bergantung pada sektor industri,” kata Gubernur Anwar Hafid saat menghadiri Forum Ekonomi Keuangan Sulteng (FRESH) dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi di Sriti Convention Hall, Kamis, 07 Mei 2026.

Menurutnya, ketahanan ekonomi Sulteng perlu diperkuat melalui diversifikasi sektor unggulan daerah, agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sektor industri pengolahan.

Ia menilai, sektor pertanian, perikanan, dan pengolahan memiliki potensi besar, untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menyoroti persoalan kemiskinan dan kebutuhan hunian layak di Sulteng. Berdasarkan data yang dipaparkan, terdapat lebih dari 87 ribu rumah tidak layak huni, yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Donggala, Sigi, dan Tojo Una Una.

Sementara itu, kata dia, di Palu sekitar 50 ribu warga belum memiliki rumah dan masih tinggal di rumah sewa maupun kos-kosan.

“Prospek Sulteng ke depan akan semakin baik dengan pengelolaan potensi daerah yang maksimal. Peluang ekonomi Sulteng masih sangat besar,” katanya.

Anwar Hafid berharap, forum FRESH tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga mampu melahirkan rekomendasi konkret, mengenai potensi ekonomi daerah yang dapat dijadikan acuan pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan ke depan. (*)

(Ruslan Sangadji)