Oleh: Muhd Nur Sangadji / Guru Besar Universitad Tadulako Palu
Artikel ini saya tulis di dalam pesawat Garuda rute Palu-Jakarta, Kamis, 07 Mei 2026, setelah membaca postingan tentang rencana Gubernur Anwar Hafid mengunjungi China untuk agenda kerja sama di bidang pertanian.
Di pesawat, saya bertemu Dinda Ajbar, anggota DPR RI. Karena kami sama-sama berlatar belakang Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu, percakapan kami pun mengalir hangat membahas pertanian dan masa depan pangan daerah. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Dalam khutbah Jumat yang saya sampaikan kemarin di Masjid Agung Baitul Khairaat, saya sempat mengutip hadis populer: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.” Terlepas dari sahih atau tidaknya hadis tersebut, ada pertanyaan menarik: mengapa China?
Setidaknya ada dua alasan apriori: jarak dan peradaban. Sejak dulu, China dikenal sebagai pusat peradaban besar dunia. Kini, negara itu kembali menunjukkan dirinya sebagai kekuatan global, termasuk di bidang pertanian.
China juga meruntuhkan asumsi lama, bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai oleh negara kecil dengan jumlah penduduk sedikit. Selama ini kita mungkin mudah memahami kemajuan Singapura karena wilayahnya kecil dan populasinya terbatas dibanding Indonesia.
Namun China berbeda. Dengan jumlah penduduk sekitar lima kali lipat Indonesia, negara itu justru mampu melesat menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi dunia. Di titik ini, kita kehabisan alasan.
Daripada terus menjadi bangsa yang sibuk memproduksi alasan, lebih baik kita merenung dan berpikir.
Lalu, apa yang membuat pertanian China layak dipelajari?
Kemajuan pertanian China terlihat nyata dalam penerapan teknologi modern. Mereka menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), drone pertanian, hingga smart greenhouse untuk mengotomatisasi irigasi, suhu, dan pemantauan tanaman. Bahkan wilayah gurun tandus, berhasil diubah menjadi pusat produksi pangan melalui teknologi budidaya modern, termasuk tambak air asin dan penggunaan robot otonom.
PERTANIAN PINTAR DAN DIGITAL
China mengembangkan smart agriculture berbasis big data dan AI. Teknologi ini memungkinkan pengelolaan pertanian dilakukan secara otomatis dan presisi. Drone digunakan secara luas untuk pemupukan, penyemprotan, serta pemantauan kesehatan tanaman.
Mereka juga berhasil mengoptimalkan lahan ekstrem, termasuk wilayah gurun, menjadi kawasan produktif untuk buah-buahan dan hasil laut. Semua dilakukan dengan dukungan teknologi tinggi.
RUMAH KACA PINTAR
Rumah kaca moderen di China memungkinkan pengaturan suhu, kelembapan, dan pencahayaan dilakukan melalui telepon genggam. Sistem ini membuat produksi pertanian menjadi lebih efisien, stabil, dan tidak terlalu bergantung pada cuaca.
China juga terus mengembangkan varietas padi unggul berdaya hasil tinggi, serta budidaya perikanan air asin. Di sisi lain, mekanisasi pertanian dilakukan secara intensif, mulai dari mesin penabur benih hingga teknologi panen modern.
Semua inovasi tersebut dirancang, untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
PERLINDUNGAN TERHADAP PETANI
Hal lain yang sangat penting, adalah perlindungan terhadap petani. Pemerintah China memberikan asuransi pertanian untuk komoditas utama seperti padi, gandum, dan jagung. Risiko gagal panen bahkan dapat ditanggung hingga 80 persen.
Di sinilah kita merasa miris melihat kondisi petani kita. Banyak petani Indonesia masih berjuang sendiri menghadapi persoalan yang berada di luar kemampuan mereka, mulai dari ketersediaan sarana produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan, lahan, dan irigasi, hingga masalah pemasaran hasil panen.
Karena itu, jika kita pergi belajar ke China, maka sejak awal kita harus berpikir: apa yang benar-benar bisa kita bawa pulang untuk diterapkan di daerah kita sendiri?.
Maka, kaidah umum dalam bentuk pertanyaan berikut ini, bisa dipakai sebagai alur fikir dan tindakan:
- Apakah inovasi tersebut menguntungkan secara ekonomi (economically profitable)?
- Apakah memungkinkan diterapkan secara teknis (technically possible)?
- Apakah dapat diterima secara sosial (socially acceptable)?
- Apakah berkelanjutan secara ekologis (ecologically sustainable)?
- Dan apakah didukung oleh sumber daya lokal (locally supportable)?
Kita membutuhkan kolaborasi progresif dari seluruh pemangku kepentingan: pemerintah, dunia usaha, NGO, masyarakat, dan perguruan tinggi. Sebab, togetherness makes everything easier to achieve (Kebersamaan membuat segala sesuatu lebih mudah untuk dicapai).
Semoga kunjungan belajar ini benar-benar membawa manfaat besar bagi Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah. Amin ya rabbal ‘alamin. (*)

Tinggalkan Balasan