Tapi pagi tadi dunia juga belajar: tim yang paling diingat, adalah tim yang berani bikin yang terbaik itu panik.
Skor akhir 3-2 untuk Argentina. Tapi yang pulang dengan kepala paling tegak pagi ini (WIB) bukan juara dunia. Itu Tanjung Verde. Negara kecil yang berani bikin Tifosi satu stadion gigit kuku sampai exstra time.
Sepak bola itu aneh.
Ada yang menang sorak-sorak, ada yang kalah angkat kompor. Tapi ada juga yang kalah… dan tetap bikin semua orang berdiri tepuk tangan.
Itu yang dilakukan Tanjung Verde tadi pagi.
Melawan Argentina, tim dengan 3 bintang di dada. Tim yang isinya pemain-pemain 100 juta euro.
Cabo Verde datang bukan buat foto bareng. Mereka datang buat ngasih perlawanan.
Tertinggal, lalu menyamakan 2-2. Maksa juara dunia kerja lembur.
Di tribun ada Shakira. Di lapangan ada keringat, tekel, dan air mata.
Argentina menang, iya. Tapi mereka menang dengan napas ngos-ngosan dan “jantung copot”.
“Tim terbaik itu tim yang menang” — kata orang.
Tapi pagi tadi dunia juga belajar: tim yang paling diingat, adalah tim yang berani bikin yang terbaik itu panik.
Terima kasih, Tanjung Verde.
Kalian kalah di papan skor. Kalian menang di hati kami.
Dan kalian udah taruh nama Cabo Verde di peta sepak bola dunia.
“Kami mungkin kecil di peta. Tapi pagi ini, kami bikin dunia menyebut nama kami.
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan