Dr.Mohammad Tavip S.H.M.Hum / Akademisi/Pemerhati Sepak Bola
Tuhan tidak melempar dadu. Dia hanya mencatat, siapa yang sungguh-sungguh menggoreskan keringatnya di atas garis takdir
Waktu di bangku SMA dulu, saya pernah baca satu quotes di sebuah majalah. Jangan tanya nama majalahnya, lupa.
Pun jangan pernah tanya apakah quotes itu benar-benar dari Albert Einstein yang kondang itu.
Anggap saja, demi keberlangsungan tulisan ini, Einstein yang akan saya sebut berulang kali nanti bukanlah Einstein sang jenius fisika.
Melainkan Einstein lain yang pernah berbisik pelan:
“Tuhan tidak ikut bermain dadu di atas dunia ini. Meski Dia seringkali berteka-teki, tapi Dia tidak pernah culas”.
Maksudnya sederhana: Semesta ini bukan meja judi.
Takdir tidak pernah diundi. Ia ditulis.
Tuhan boleh misterius dalam cara-Nya. Tapi Dia tidak pernah curang dalam hukum-Nya.
Dan hukum itu, ternyata berlaku juga di atas rumput hijau yang kita sebut Piala Dunia.
Tim Sepak Bola: Takdir yang Telah Ditulis
Setiap tim yang melangkah ke Piala Dunia, datang membawa gulungan takdirnya sendiri.
Ada yang lahir dari negeri yang napasnya bola. Akademinya sudah berdiri satu abad, lapangannya empuk, sains olahraganya maju. Itu takdir.
Ada pula yang lahir dari negeri yang berjuang hanya untuk punya bola. Lapangannya tanah, gawangnya dari bambu. Itu juga takdir.
Prancis punya kedalaman skuad. Maroko punya tembok mental. Jepang punya disiplin yang nyaris sunyi.
Itu semua garis-garis yang telah digambar jauh sebelum peluit pertama ditiup wasit.
Takdir adalah “batas”. Dan Tuhan, dalam keadilan-Nya, tidak pernah berbohong tentang batas itu.
Keringat yang Menghapus Jejak Lama
Tapi perhatikan baik-baik kalimat Einstein yang kedua: “Dia tidak pernah culas”.
Artinya, Tuhan tidak pernah menutup pintu. Dia hanya memberi papan, dan pena ada di tangan manusia.
Inilah yang disebut “keringat”.
Siapa pun boleh berdoa sampai air matanya habis saat injury time.
Siapa pun boleh menyalahkan wasit, VAR, bahkan arah angin.
Tapi ketika bola bergulir, semesta hanya bertanya satu hal: “Berapa akurat umpanmu?”
Memang, Tuhan tidak akan menjawab doa untuk menang dan menjadi juara, jika tim itu tidak bisa passing bola. Jika tidak mampu membuat gol lebih banyak dari lawannya. Dan jika gawangnya tidak dijaga penjaga gawang yang handal.
Penjaga gawang yang tangannya ragu, bola akan masuk.
Striker yang kakinya malas berlatih, bola akan melambung.
Tim yang hanya parkir bus tanpa rencana, akan ditinggalkan zaman.
Itu bukan konspirasi. Jangan cepat menuduh. Pun itu bukan sial. Itu hukum sebab-akibat.
Brasil 1950 punya takdir sebagai raksasa. Tapi Uruguay menghapusnya dengan keberanian.
Islandia 2016 takdirnya adalah tim kecil. Tapi mereka menghapusnya dengan disiplin. Mereka menaklukkan Inggris.
Tuhan tidak melempar dadu. Dia hanya mencatat, siapa yang sungguh-sungguh menggoreskan keringatnya di atas garis takdir.
Doa yang Tidak Dijawab Wasit
Dan di sinilah letak pilunya kita, para suporter di tribun.
Kita sering menengadah ke langit dan berbisik: “Ya Tuhan, menangkan timku malam ini”. Padahal tim itu latihan hanya dua kali seminggu. Taktiknya kabur. Passing-nya patah-patah.
Kita meminta mukjizat, tapi lupa meminta kerja keras.
Kita menyuruh langit bergerak, padahal kaki kita sendiri diam di tempat.
Wasit di langit itu diam, bukan karena tuli.
Dia diam karena menunggu. Menunggu kita melakukan bagian kita terlebih dahulu.
Bagaimana Doa yang Sebenarnya?
Maka, jika masih ingin berdoa sebelum Piala Dunia dimulai, ubahlah bunyi doamu.
Jangan lagi: “Ya Tuhan, berikan kami kemenangan”.
Tapi: “Ya Tuhan, berikan kami tim yang mau berjuang. Berikan kami pelatih yang berpikir. Berikan kami pemain yang kuat dan tangguh. Kakinya jangan gampang kram, supaya passing-nya akurat dan bisa menciptakan peluang untuk gol”.
Karena takdir memang telah ditulis.
Tapi keringatlah yang punya kuasa untuk menghapusnya, dan menulis ulang.
Dan semesta, seperti kata Einstein…
tidak pernah curang. Ia hanya setia pada hukumnya sendiri. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan