Andika / Pemerhati Pembangunan

Prabowo telah memiliki kalimat dasarnya. Yang belum tampak adalah keberanian untuk menjadikannya cerita nasional; cerita yang lebih dulu memenuhi kesadaran rakyat sebelum diisi oleh kecemasan, kecurigaan, dan tafsir dari mereka yang takut pada perubahan.

PRESIDEN Prabowo Subianto sebenarnya telah mengucapkan kalimat yang dapat menjadi dasar bagi seluruh arah pemerintahannya: tujuan kemerdekaan adalah “merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kelaparan, merdeka dari penderitaan.”

Kalimat itu seharusnya menjadi lebih dari kutipan pidato. Kutipan ini dapat menjadi cerita besar tentang pemerintahan: bahwa kemerdekaan belum selesai selama anak-anak masih tumbuh dalam kekurangan gizi, petani tetap miskin di tanah yang subur, pekerja tidak mampu memiliki rumah, dan kekayaan alam tidak kembali sebagai kemakmuran bagi rakyat.

Namun cerita itu belum lahir.

Yang hadir di depan publik adalah program Makan Bergizi Gratis, swasembada pangan, program tiga juta rumah, hilirisasi, dan pengelolaan aset negara. Semuanya besar. Semuanya membutuhkan keberanian politik. Tetapi semuanya disampaikan sebagai program yang berdiri sendiri: target penerima, nilai anggaran, jumlah produksi, unit rumah, atau investasi yang masuk.

Di situlah masalahnya. Program besar tanpa narasi adalah rumah tanpa penghuni. Ia memiliki bentuk, anggaran, dan struktur, tetapi tidak memiliki jiwa yang membuat rakyat merasa ikut tinggal di dalamnya.

Akibatnya, ruang publik segera diisi oleh para pengkritik. Makan Bergizi Gratis dipersempit menjadi soal pemborosan anggaran. Swasembada pangan dibaca semata sebagai ambisi produksi. Perumahan dianggap proyek beton. Hilirisasi dicurigai sebagai perpanjangan ekstraksi. Danantara dilihat sebagai pusat baru kekuasaan ekonomi.

Sebagian kritik itu sah dan harus dijawab. Tidak ada program publik yang kebal dari pertanyaan tentang biaya, tata kelola, dampak lingkungan, atau risiko penyalahgunaan kekuasaan. Tetapi ketiadaan narasi membuat pemerintah menghadapi kritik dalam posisi yang lemah. Pemerintah sibuk membela angka, sementara para pengkritik lebih dahulu menentukan arti programnya.

Di sinilah kritik terhadap Prabowo Subianto menjadi lebih serius: Prabowo tampak memiliki program, tetapi belum cukup memiliki filsafat politik yang membuat program-program itu berbicara dalam satu bahasa.

Filsafat itu bukan teori rumit. Tetapi keyakinan dasar bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyat kalah dalam hidup, hanya karena lahir miskin, tinggal jauh dari pusat ekonomi, bekerja di sektor yang lemah, atau hidup di daerah yang kekayaannya terus diambil. Dari keyakinan itu, program-program pemerintah memperoleh tempatnya.

Makan Bergizi Gratis menjadi kemerdekaan anak dari kelaparan. Pangan menjadi kemerdekaan petani dari kerentanan. Perumahan menjadi kemerdekaan pekerja dari hidup yang sementara. Hilirisasi menjadi kemerdekaan bangsa dari kebiasaan menjual kekayaan tanpa membangun kekuatan rakyat. Pengelolaan aset negara menjadi kemerdekaan ekonomi dari kekayaan yang hanya berputar di sekitar kaum mapan.

Jika cerita itu dibangun, kritik tetap akan ada. Tetapi kritik tidak lagi mudah mengobrak-abrik program tanpa perlawanan makna. Pemerintah dapat berkata: silakan kritik pelaksanaannya, awasi anggarannya, tuntut transparansinya. Tetapi jangan hilangkan tujuan besarnya: republik ini sedang berusaha membebaskan rakyat dari bentuk-bentuk penderitaan yang terlalu lama dianggap biasa.

Tanpa narasi, pemerintah hanya memiliki administrasi. Dengan narasi, ia memiliki arah.

Prabowo telah memiliki kalimat dasarnya. Yang belum tampak adalah keberanian untuk menjadikannya cerita nasional; cerita yang lebih dulu memenuhi kesadaran rakyat sebelum diisi oleh kecemasan, kecurigaan, dan tafsir dari mereka yang takut pada perubahan. (*)

Editor: Ruslan Sangadji