Prancis bisa menang dengan 2 cara. Cantik saat ada ruang. Ngot saat tidak ada ruang. Jika mereka lulus ujian ini, jalan menuju trofi kembali terbuka. Dan jika Mbappé bisa tetap tajam meski dikepung, maka mimpi Sepatu Emas keduanya bukan lagi sekadar mimpi.
PRANCIS punya segudang bintang, kecepatan kelas dunia, dan mental juara. Tapi ada satu tipe lawan yang selalu jadi mimpi buruk Les Bleus: tim yang parkir bus, main keras, dan menolak diajak open play. Di tengah ujian taktis itu, ada satu mimpi pribadi yang menyala: Kylian Mbappé ingin Sepatu Emas lagi.
Prancis adalah tim transisi terbaik di dunia. Kasih mereka ruang 10 meter di belakang, maka bola akan sampai ke kaki Mbappé dalam 3 detik. Dembélé menusuk dari sisi, Theo Hernandez overlap, Griezmann jadi penghubung. Gol. Efisien, cepat, mematikan.
Masalahnya, tidak semua tim mau memberi ruang itu. Ketika Piala Dunia atau laga besar datang, banyak tim kecil dan menengah datang dengan satu misi: merusak. Lima bek sejajar. Dua gelandang pemotong. Sayap dikawal berlapis. Dan ya, tekel keras jadi senjata utama.
Bagi Didier Deschamps ini adalah ujian terberat. Tanpa ruang, kecepatan Mbappé, Dembélé, dan Coman jadi tidak ada artinya. Aliran bola patah di tengah karena Rabiot dan Tchouaméni dipotong duluan. Fullback ragu naik karena takut kena serangan balik. Akhirnya Prancis dipaksa bermain seperti yang tidak mereka suka: membongkar pertahanan rapat.
Di titik inilah kreativitas diuji. Griezmann harus turun terlalu dalam untuk jemput bola. Tidak ada playmaker murni tipe klasik yang bisa memberi satu umpan kunci dari celah sempit. Solusinya pun kembali ke hal klasik: duel udara, crossing, tembakan dari luar kotak, dan set piece. Indah? Tidak selalu. Efektif? Terkadang.
Ini bukan soal Prancis pengecut. Ini soal strategi. Tim seperti Paraguay, Maroko, atau Tunisia “tidak punya pilihan”. Adu skill 1 lawan 1 pasti kalah. Jadi mereka memilih perang fisik, memotong ritme, dan menunggu 1-2 peluang dari bola mati. Selama wasit membiarkan kontak fisik, cara ini akan tetap hidup.
Di tengah semua itu, ada target pribadi yang membakar Mbappé. Setelah mencetak 8 gol dan membawa pulang Sepatu Emas di Qatar 2022, ambisinya jelas: mengulanginya. Bagi striker, tidak ada penghargaan individu yang lebih bergengsi di level timnas selain jadi top skor Piala Dunia.
Tapi justru di sinilah tantangannya berlipat. Lawan akan mengunci dia dengan 2-3 pemain. Setiap sentuhan akan diganjal. Setiap lari akan dipotong. Gol-golnya harus datang dari penalti, free kick, atau satu momen jenius di ruang yang hampir tidak ada.
Sepatu Emas Piala Dunia memang bukan barang baru bagi Prancis. Sebelum Mbappé di 2022, nama-nama besar lain juga pernah merasakannya. Harry Kane 2018, James Rodriguez 2014, Thomas Müller 2010, Miroslav Klose 2006, Ronaldo 2002, hingga Davor Šuker 1998. Daftar itu jadi bukti bahwa untuk jadi top skor, kamu tidak hanya butuh gol. Kamu butuh tim yang bisa mengantarkanmu ke sana.
Kesimpulannya sederhana: Prancis bisa menang dengan 2 cara. Cantik saat ada ruang. Ngot saat tidak ada ruang. Jika mereka lulus ujian ini, jalan menuju trofi kembali terbuka. Dan jika Mbappé bisa tetap tajam meski dikepung, maka mimpi Sepatu Emas keduanya bukan lagi sekadar mimpi.
Karena di sepak bola, terkadang ujian terberat bukan melawan tim terbaik. Tapi melawan tim yang paling tidak mau kalah. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan