Selain memperkuat pendapatan, proyek Pulau Laut juga memperluas portofolio operasional Darma Henwa di Kalimantan Selatan. Sebelumnya, perseroan telah menggarap proyek tambang jangka panjang di kawasan Asam-Asam dan Kintap. Kehadiran kontrak baru dari Sebuku Sejaka Coal semakin memperkokoh posisi perusahaan sebagai salah satu kontraktor pertambangan nasional.

JAKARTA, KAIDAH.ID – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengamankan kontrak jasa pertambangan batu bara senilai sekitar USD1,3 miliar atau setara Rp22 triliun. Kontrak tersebut diperoleh melalui anak usahanya, PT DH Kontraktama Batubara (DHKB), berdasarkan Surat Penunjukan dan Perintah Kerja (SPPK) yang ditandatangani pada 29 Juni 2026 bersama PT Sebuku Sejaka Coal (SSC).

Dalam kerja sama tersebut, DHKB ditunjuk sebagai kontraktor utama eksklusif untuk mengelola area tambang Pit SSC di Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Kontrak berlaku selama lima tahun atau hingga masa izin konsesi tambang berakhir.

Selama periode kontrak, DHKB menargetkan produksi batu bara mencapai 5 juta ton per tahun, dengan pekerjaan pengupasan lapisan tanah penutup (waste removal) hingga 55 juta bank cubic meter (bcm) setiap tahun.

Ruang lingkup pekerjaan mencakup seluruh aktivitas utama pertambangan, mulai dari perencanaan tambang, pembukaan lahan, pengupasan tanah penutup, penambangan dan pemuatan batu bara, pengangkutan, hingga pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur jalan angkut.

Kontrak bernilai jumbo tersebut, dinilai menjadi tonggak penting bagi PT Darma Henwa Tbk. Bahana Sekuritas menilai, proyek Pulau Laut akan memperkuat diversifikasi sumber pendapatan perseroan, yang selama ini masih didominasi proyek-proyek berafiliasi dengan Grup Bumi Resources.

KONTRAK EKSTERNAL PERTAMA DEWA

Analis Bahana Sekuritas Jeremy Mikael dalam laporan risetnya menyebut, proyek ini merupakan kontrak jasa pertambangan eksternal pertama yang berhasil diraih Darma Henwa. Keberhasilan tersebut, dinilai dapat meningkatkan rekam jejak perusahaan sekaligus membuka peluang memperoleh proyek-proyek serupa di masa mendatang.

Meski menurunkan target harga saham DEWA, dari Rp850 menjadi Rp600 per saham untuk mencerminkan premi risiko pasar yang lebih tinggi, Bahana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham perseroan.

OPTIMISME INVESTOR

Optimisme investor tercermin pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Saham DEWA ditutup menguat 4,67 persen ke level Rp314 per saham, setelah pasar merespons positif nilai kontrak yang mencapai Rp22 triliun beserta prospek pendapatan jangka panjangnya.

Secara nominal, kontrak tersebut memberikan visibilitas pendapatan yang cukup besar. Dengan total nilai sekitar Rp22 triliun selama lima tahun, proyek Pulau Laut berpotensi menyumbang pendapatan rata-rata sekitar Rp4,4 triliun per tahun apabila realisasi pekerjaan berjalan sesuai jadwal.

Tambahan proyek ini juga diperkirakan meningkatkan utilisasi armada alat berat milik DHKB. Volume pekerjaan pengupasan tanah penutup sebesar 55 juta bcm per tahun, serta target produksi batu bara 5 juta ton per tahun memberikan kepastian aktivitas operasional dalam jangka panjang.

PERBARUI ARMADA ALAT BERAT

Meski demikian, skala proyek yang besar juga akan diikuti kebutuhan investasi yang signifikan. Perusahaan diperkirakan harus menambah, maupun memperbarui armada alat berat secara bertahap, untuk memenuhi target produksi, sehingga belanja modal dan biaya penyusutan berpotensi meningkat pada tahap awal pelaksanaan proyek.

Karena itu, besarnya nilai kontrak tidak serta-merta langsung tercermin dalam laba bersih. Kinerja keuntungan perusahaan, akan sangat bergantung pada efisiensi operasional, produktivitas alat berat, pengendalian biaya bahan bakar, biaya perawatan, serta efektivitas pelaksanaan proyek di lapangan.

Berdasarkan simulasi nilai kontrak tahunan sekitar Rp4,4 triliun, tambahan laba bersih dapat bervariasi sesuai margin yang dicapai. Dengan margin bersih 2 persen, proyek ini berpotensi menghasilkan laba sekitar Rp88 miliar per tahun. Jika margin mencapai 3,5 persen, laba diperkirakan sekitar Rp154 miliar per tahun, sedangkan pada margin 5 persen kontribusinya dapat mencapai sekitar Rp220 miliar per tahun.

Selain memperkuat pendapatan, proyek Pulau Laut juga memperluas portofolio operasional Darma Henwa di Kalimantan Selatan. Sebelumnya, perseroan telah menggarap proyek tambang jangka panjang di kawasan Asam-Asam dan Kintap. Kehadiran kontrak baru dari Sebuku Sejaka Coal semakin memperkokoh posisi perusahaan sebagai salah satu kontraktor pertambangan nasional.

Kontrak ini juga hadir di tengah momentum positif perseroan setelah para pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai perdana untuk tahun buku 2025. (*)

(Ruslan Sangadji)