Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Berangkat dari satu kalimat sederhana: jadi pejabat itu jangan lupa diri. Sebenarnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar etika jabatan. Kita sedang bicara tentang ingatan. Tentang kesadaran akan asal-usul. Tentang kemampuan seseorang untuk tetap mengenali dirinya sendiri ketika kekuasaan datang membawa tepuk tangan, pengawalan, dan fasilitas.
Menjadi pejabat bukanlah peristiwa jatuhnya mahkota dari langit. Tidak ada satu pun manusia yang lahir dengan kursi jabatan di punggungnya. Semua pejabat, tanpa kecuali, pernah berdiri di titik yang sama dengan rakyat biasa: antre, menunggu, berharap. Ada yang dulu naik angkot, naik perahu, berjalan kaki jauh untuk sekolah, bahkan merasakan pahitnya hidup ketika pintu-pintu tertutup satu per satu. Jabatan seharusnya menjadi pengingat akan perjalanan itu, bukan penghapusnya.
Dalam keyakinan spiritual, kekuasaan bukan semata hasil kecakapan manusia. Al-Qur’an mengingatkan dalam QS Ali ‘Imran ayat 26 bahwa Allah memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki; Dia memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Ayat ini mengajarkan satu kesadaran penting: jabatan bukan milik pribadi, melainkan titipan yang bisa datang dan pergi tanpa peringatan.
Lupa diri jarang datang dengan wajah kasar. Ia hadir perlahan, nyaris tak terasa. Dimulai dari sapaan yang tak lagi dibalas, dari tangan yang enggan menjabat, dari telinga yang menutup diri dari keluhan. Awalnya hanya jarak kecil (antara pejabat dan rakyat), namun jarak itu melebar ketika kekuasaan dibiarkan memanjakan ego. Saat seseorang mulai merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain, di situlah ia sesungguhnya sedang kehilangan pijakan batin.
Kekuasaan, betapapun tinggi, tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia bertumpu pada kepercayaan publik, pada doa banyak orang, dan pada ridha Tuhan. Ketika seseorang lupa pada penopang-penopang itu, ia mudah terjebak dalam ilusi keagungan. Padahal, semakin tinggi kedudukan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap dan kepekaan.
Jabatan itu sejatinya amanah, bukan mahkota. Amanah berarti titipan, dan setiap titipan kelak diminta pertanggungjawaban. QS Ali ‘Imran ayat 26 menegaskan bahwa segala kebaikan berada di tangan Tuhan. Maka tidak ada alasan untuk merasa paling berjasa, apalagi merasa kebal dari koreksi. Kursi empuk di ruang ber-AC, iring-iringan kendaraan, dan sorotan kamera hanyalah pelengkap sementara. Yang kekal justru jejak: apakah kehadirannya membawa manfaat, atau justru meninggalkan luka.
Pejabat yang tidak lupa diri akan selalu ingat satu hal: ia bukan sedang naik derajat sebagai manusia, melainkan sedang menambah beban sebagai pelayan. Ia sadar bahwa setiap keputusan punya dampak, setiap kata punya bobot, dan setiap sikap akan dicatat (bukan hanya oleh sejarah) tetapi juga oleh Yang Maha Memberi Kekuasaan.
Pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Nama akan pelan-pelan menghilang dari baliho, pengawalan akan berhenti, dan pintu-pintu yang dulu terbuka lebar akan kembali biasa saja. Di titik itulah pesan QS Ali ‘Imran ayat 26 menemukan maknanya yang paling jujur: kekuasaan bisa dicabut kapan saja, tetapi sikap selama berkuasa akan tinggal lebih lama dalam ingatan orang.
Maka benar adanya: jadi pejabat itu jangan lupa diri. Jangan lupa dari mana datang, jangan lupa untuk siapa bekerja, dan jangan lupa kepada siapa kelak kekuasaan itu dipertanggungjawabkan. Karena yang abadi bukan jabatan, melainkan cara kita menjalaninya dengan kesadaran, kerendahan hati, dan iman yang terjaga. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan