“Ka MBG bisa tidak hari Jumat makanannya kasi enak karna besok ulang tahunnya papaku. Saya te punya uang untuk belikan hadiah jadi saya mau kasih MBG ku saja. Jadi besok MBG nya kasi enak mo supaya itu bisa jadi kado buat papaku pliss.”
Jumat itu ingin ia buat istimewa. Bukan karena hari mulia bagi umat Islam, bukan hanya karena hari yang disebut sebagai haji bagi orang miskin. Tapi karena besok, ayahnya berulang tahun, dan ia tak punya apa-apa untuk diberikan selain harapan kecil yang ditulis di atas secarik kertas.
Surat itu tak lebih besar dari lembaran buku tulis sekolah. Ditulis tangan, dengan ejaan yang apa adanya. Tidak ada kop surat, tidak ada tanda tangan jelas. Hanya kalimat polos yang langsung menohok siapa pun yang membacanya:
“Ka MBG bisa tidak hari Jumat makanannya kasi enak karna besok ulang tahunnya papaku. Saya te punya uang untuk belikan hadiah jadi saya mau kasih MBG ku saja. Jadi besok MBG nya kasi enak mo supaya itu bisa jadi kado buat papaku pliss.”
Tak ada nama. Tak ada alamat. Tapi dari kata “te” dan “mo”, orang Palu pasti tahu, ini anak kampung sendiri. Logat yang tumbuh di halaman sekolah, di percakapan sehari-hari yang jujur dan tanpa dibuat-buat.
Ia tidak sedang meminta mainan. Tidak meminta uang. Tidak meminta kue ulang tahun.
Ia hanya ingin makanan yang diterimanya di sekolah dari program Presiden Prabowo, dibuat “lebih enak” satu hari saja. Supaya bisa dibawa pulang sebagai hadiah untuk papanya yang ulang tahun.
Karena ia tak punya uang untuk membeli kado.
Kita tidak tahu siapa anak itu. Tapi kita tahu satu hal: ia sedang berusaha, dengan caranya sendiri, membuat ayahnya merasa dirayakan.
Di kepalanya yang masih kecil, hitungannya sederhana. Kalau tak bisa membeli hadiah, maka apa yang ia punya saja yang diberikan. Dan yang ia punya adalah makanan dari “MBG”.
Entah itu nama seseorang, singkatan sebuah tempat makan, atau program berbagi. Yang jelas, bagi anak itu, “MBG” adalah sesuatu yang berarti. Cukup berarti untuk dijadikan hadiah ulang tahun.
Permintaannya pun tidak berlebihan. Ia tak menyuruh. Ia memohon. Diakhiri dengan satu kata yang membuat dada sesak: “pliss.”
Tidak ada drama. Tidak ada keluhan tentang hidup. Hanya cinta yang ditulis seadanya.
Surat itu kini beredar di media sosial. Banyak yang membagikan. Banyak yang terdiam setelah membacanya. Di tengah kabar besar dan perdebatan yang tak ada habisnya, kisah kecil ini terasa seperti jeda, mengingatkan bahwa di luar sana, ada anak-anak yang sedang belajar mencintai dengan segala keterbatasan.
Pemilik “MBG” yang menerima surat itu disebut sedang mencari siapa penulisnya. Belum jelas apakah permintaan itu sudah terpenuhi. Tapi banyak orang diam-diam berharap: semoga hari Jumat itu benar-benar berbeda.
Semoga makanannya benar-benar “dibuat enak”.
Semoga seorang ayah tersenyum tanpa tahu betapa besar usaha kecil anaknya.
Di Palu, kota yang pernah jatuh dan bangkit karena bencana, kisah seperti ini terasa dekat. Kesederhanaan bukan hal asing. Keterbatasan bukan cerita baru. Tapi di sanalah sering kali cinta tumbuh paling kuat.
Mungkin anak itu tak pernah menyangka suratnya akan viral. Mungkin baginya, itu hanya cara sederhana untuk membahagiakan orang yang ia panggil papa.
Dan mungkin, pada Jumat itu, sebungkus makanan berpindah tangan, dari tangan kecil yang penuh harap, ke tangan seorang ayah yang tak menyadari bahwa itulah hadiah paling mahal yang pernah ia terima.
Karena kadang, yang membuat sesuatu berharga bukanlah harganya.
Melainkan ketulusannya.

Tinggalkan Balasan