Tak perlu menanyakan apa gunanya puasa. Setiap yang Allah wajibkan pasti mengandung hikmah, meski tidak selalu segera tersingkap oleh akal kita.

Menanyakan gunanya puasa, sering kali lahir dari cara pandang yang penuh kalkulasi. Seolah-olah ibadah harus lebih dulu dibuktikan manfaatnya, dihitung untung ruginya, baru kemudian dilaksanakan. Padahal, keyakinan tidak dibangun di atas hitung-hitungan. Iman tidak tumbuh dari neraca laba dan rugi.

Jika setiap ibadah kita timbang dengan pertanyaan, “Apa keuntungannya untukku?” maka tanpa sadar, kita sedang memindahkan pusat ibadah dari Allah kepada diri sendiri. Kita menjadikan manfaat sebagai alasan utama, bukan ketaatan. Kita menjadikan hasil sebagai tujuan, bukan karena kita ridha.

Dalam Al-Qur’an, perintah puasa tidak disertai syarat, bahwa kita harus memahami seluruh rahasianya lebih dulu. Ia datang sebagai panggilan ketaatan. Puasa bukan sekadar latihan fisik, bukan hanya terapi kesehatan, bukan pula sekadar solidaritas sosial. Semua itu mungkin ada, tetapi itu bukan inti terdalamnya.

Intinya adalah tunduk.

Ketika Allah memerintahkan, sikap seorang mukmin adalah mendengar dan melaksanakan. Bukan karena ia tidak berpikir, tetapi karena ia percaya. Bukan karena ia anti-akal, tetapi karena ia menempatkan akal di bawah cahaya wahyu.

Menanyakan guna dalam arti mencari pemahaman, tentu tidak salah. Tetapi menjadikannya sebagai syarat sebelum taat, itulah yang menggeser iman menjadi transaksi. Seakan-akan kita berkata, “Jika menguntungkan, aku jalankan. Jika tidak jelas manfaatnya, aku pertimbangkan.”

Ramadhan mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar manfaat: ia mengajarkan kepasrahan. Lapar dan dahaga bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk menyadarkan bahwa kita ini hamba. Kita tidak selalu harus tahu alasan di balik setiap perintah. Kita cukup tahu, bahwa yang memerintahkan adalah Allah Yang Maha Mengetahui.

Maka cukup lakukan saja. Tak perlu bertanya lagi dalam nada meragukan. Laksanakan saja dengan hati yang yakin.

Karena dalam ketaatan yang tulus, hikmah akan datang dengan sendirinya. Dan dalam kepasrahan yang penuh iman, Allah membuka rahasia demi rahasia kepada hamba-Nya. (*)

Wallahu A’lam