Senin, 22 April 2024

FKUB Sulteng dan SMA GKST Palu Sepakat Cegah Perundungan di Sekolah

PERUNDUNGAN - FKUB Sulteng dan SMA GKST Palu sepakat cegah perundungan di sekolah | Foto: FKUB

PALU, KAIDAH.ID – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama SMA Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Immanuel Palu, sepakat mencegah perundungan di lingkungan sekolah tersebut.

Kesepakatan itu, menjadi satu di antara upaya untuk melindungi pelajar dari praktik kekerasan di lingkungan sekolah dan di rumah.

Sekretaris FKUB Sulteng Haji Munif Aziz Godal, pada pertemuan dengan pihak SMA GKST, Selasa, 27 Februari 2024 pagi menjelaskan, perundungan atau bullying memberikan dampak buruk terhadap perkembangan mental pelajar, sehingga harus dicegah secara sistematis dan massif.

“Upaya pencegahan ini harus terus dilakukan, dan FKUB menjadikan pencegahan perundungan ini sebagai satu prioritas program,” kata Munif Godal pada sosialisasi pencegahan perundungan yang dihadiri 100 pelajar SMA GKST, guru dan Pengurus FKUB.

Dia mengatakan, perundungan merupakan perilaku negatif yang sangat membahayakan korbannya.

Berdasarkan data hasil penelitian 40 – 80 persen anak usia sekolah mengalami perundungan. Kemudian, 60 persen siswa SD, SMP, SMA menyatakan bahwa perundungan merupakan sesuatu masalah besar yang mempengaruhi kehidupan mereka.

“Mereka sering khawatir menjadi korban kekerasan dan pelecehan di sekolah, dibandingkan ketika mereka menuju sekolah atau pulang sekolah,” tegas Munif.

Penelitian tahun 2022 terhadap 1500 pelajar SMP dan SMA di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya, ditemukan bahwa 67 persen siswa mengaku pernah terjadi perundungan di sekolah mereka.

Data Komnas Perlindungan Anak tahun 2022 menyebutkan, 98 kasus kekerasan fisik, 108 kekerasan seksual dan 176 kekerasan psikis pernah menimpa para pelajar.

Atas dasar itu, kata Munif Godal, FKUB Sulteng terus melakukan sosialisasi pencegahan perundungan berbasis sekolah.

Perundungan dapat terjadi di sekolah, karena adanya anak yang merasa dominan atau memiliki harga diri/konsep diri yang rendah di sekolah.

Di samping itu, anak tersebut juga memiliki karakter agresif, karena pengalaman atau pola asuh keluarga yang kurang sesuai.

“Ini juga dipengaruhi minimnya pengawasan dan rendahnya kepedulian sekolah terhadap perilaku siswa-siswinya,” ujarnya.

“Lingkungan sekolah yang mendukung tumbuh suburnya premanisme di sekolah, misalnya geng/kelompok yang tidak terorganisir, dan tidak mempunyai tujuan yang jelas, bisa menyebabkan terjadinya perundungan di sekolah,” tambah Munif.

Sementara itu, Kepala SMA GKST Immanuel Palu Rita Christi Luntungan, menyambut baik kehadiran FKUB Sulteng di sekolah yang dipimpinnya.

“Kehadiran FKUB Sulteng menambah penguatan terhadap SMA GKST, dalam pencegahan perundungan di tingkat pelajar,” tandasnya. (M. Subarkah*)