Menurutnya, sebagian dari operator perempuan tersebut, berasal dari latar belakang pendidikan non-teknis seperti kebidanan, namun mampu beradaptasi melalui pelatihan dan pembinaan yang diberikan perusahaan.

“Banyak operator hoist crane perempuan yang awalnya tidak memiliki latar belakang teknis. Namun setelah direkrut, mereka mendapatkan pembinaan dan pelatihan sehingga mampu menjalankan pekerjaan dengan baik,” tambahnya.

IMIP juga menyediakan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi karyawan, di antaranya pelatihan pengoperasian alat berat, furnace, ahli K3, hingga penyelamatan di ruang terbatas. Upaya ini dilakukan untuk memastikan seluruh pekerja memiliki standar keselamatan dan kemampuan yang memadai.

Selain itu, IMIP turut memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan kerja melalui penerapan standar K3 serta penyediaan fasilitas pendukung bagi karyawati, seperti layanan kesehatan, ruang istirahat, transportasi kawasan, hingga layanan khusus bagi pekerja hamil.

“IMIP berkomitmen terus menghadirkan kesempatan yang sama bagi seluruh pekerja dalam lingkungan kerja yang inklusif, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pertumbuhan industri,” tandas Achmanto Mendatu. (*)

(Ruslan Sangadji)