Riuh percakapan terdengar di sudut-sudut ruang Musyawarah Provinsi (Muprov) VIII KADIN Sulawesi Tengah di Grand Sya Hotel, Palu, Rabu, 20 Mei 2026. Para pengusaha, tokoh organisasi, dan peserta Muprov datang membawa harapan yang sama: lahirnya kepemimpinan baru tanpa meninggalkan luka di rumah besar KADIN.
Di tengah dinamika forum itu, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Azis Syamsuddin, menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi sarat makna. Ia berharap pemilihan Ketua Umum KADIN Sulteng tidak berakhir lewat voting.
“Lebih baik musyawarah mufakat,” begitu pesan yang terus mengalir dalam berbagai percakapan di arena Muprov.
Harapan itu sejalan dengan keinginan Wakil Gubernur Sulteng, Reny A. Lamadjido. Saat membuka Musprov, Wagub Reny mengingatkan agar forum para pengusaha itu tetap teduh, damai, dan jauh dari keributan.
Baginya, Muprov VIII KADIN Sulteng bukan arena saling menjatuhkan. KADIN harus tetap menjadi rumah besar dunia usaha, tempat lahirnya gagasan, kolaborasi, dan persaudaraan untuk membangun ekonomi Sulawesi Tengah.
Karena itu, forum tersebut diharapkan menjadi ruang memperkuat kebersamaan, bukan pertarungan yang justru memecah soliditas para pengusaha.
Di tengah suasana yang dipenuhi lobi dan negosiasi, Azis Syamsuddin sempat melontarkan satu kata yang membuat banyak peserta tersenyum dan saling berpandangan.
Miracle.
Keajaiban.
Sebuah harapan, agar musyawarah mufakat benar-benar lahir di tengah kontestasi yang sedang berlangsung.
Dan perlahan, “keajaiban” itu seperti menemukan jalannya.
Salah satu kandidat, M. Nur Dg. Rahmatu, menunjukkan sikap yang membuat suasana forum mencair. Kandidat petahana itu memilih legowo. Ia menerima dorongan agar tidak melanjutkan pertarungan hingga voting, dan bersedia ditempatkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.
Sikap itu langsung mendapat apresiasi dari Azis Syamsuddin. Ia mengaku bangga dengan kebesaran jiwa M. Nur Rahmatu.
Keputusan tersebut sekaligus mengubah peta persaingan.
Kini tinggal dua nama yang menjadi pusat perhatian: Endi Hermawan dan Gufran Ahmad.
Namun hingga sore menjelang malam, pintu-pintu komunikasi belum tertutup. Lobi masih berlangsung. Negosiasi berpindah dari satu meja ke meja lain. Percakapan kecil terus terjadi, kadang serius, kadang diselingi tawa. Bahkan para kandidat dan pendukungnya masih duduk di meja makan yang sama.
Mungkin mereka sedang mencoba menjaga satu warisan lama di kalangan organisasi pengusaha: bertanding untuk bersanding. Sebuah warisan yang populer yang ditinggalkan Bahlil Lahadalia saat memimpin BPP HIPMI.
Semua masih mungkin terjadi.
Meski banyak peserta mulai membaca arah angin, dan menebak ke mana dukungan akan bermuara, terutama bila melihat faktor senioritas, akhir cerita Muprov VIII KADIN Sulteng masih tetap dinanti.
Di tengah keramaian itu, seorang pengurus KADIN Sulteng demisioner hanya melontarkan satu kata pendek ketika ditanya kemungkinan akhir Musprov.
“Bertarung.”
Satu kata yang menggantung di udara. Mungkin artinya voting. Mungkin pula sekadar penegasan bahwa setiap kontestasi selalu memiliki akhirnya sendiri. Namun setelah mengucapkan kata itu, ia hanya tersenyum dan tak menjelaskan lebih jauh. (*)

Tinggalkan Balasan