PARIGI, KAIDAH.ID – Lebih dari 10 pengusaha asal Kabupaten Parigi Moutong, melaporkan dugaan penipuan terkait pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sausu Torono ke pihak kepolisian.
Para pengusaha mengaku telah menyetor dana hingga ratusan juta rupiah, kepada seorang berinisial HBM sejak akhir 2024 hingga November 2025. Setoran dilakukan secara bertahap, namun tanpa disertai kontrak kerja sama yang jelas.
HBM disebut menghindari penandatanganan kontrak, meskipun dana dari para pengusaha telah diterima. Ia juga mengaku sebagai representasi dari Yayasan Pelita Prabu Berjaya Indonesia di Jakarta.
Salah satu pengusaha, Herman, mengaku mengalami kerugian hingga Rp170 juta. “Kami diberi janji tanpa tinta, jadi supplier apa saja. Uang saya Rp170 juta, saya serahkan bertahap kepada seseorang berinisial H (HBM). Sampai hari ini, tak pernah berwujud,” katanya.
Hal serupa disampaikan Alex, yang mengaku menyetor sekitar Rp200 juta. Ia menyebut, penyerahan uang dilakukan secara langsung, bahkan melalui penarikan di layanan Brilink. “Dari penarikan di Brilink bersama si H (HBM), disaksikan teman-temannya. Lalu pengadaan peralatan dapur, biaya transport ke Jakarta, sampai uang muka mobil. Semua demi dapur MBG yang dijanjikan,” tutur Alex.
Sementara itu, Asrul mengaku telah menyetor Rp87 juta secara bertahap. “Saya sudah setor Rp87 juta,” ucapnya singkat.
Pengakuan lebih memilukan datang dari Rostin, warga Kampal, yang mengaku kehilangan Rp140 juta. Ia mengatakan, permintaan uang dilakukan hampir setiap hari dengan berbagai alasan.
“Si H (HBM) minta uang hampir setiap hari. Renovasi dapur, transport ke Jakarta untuk berkas. Saya bahkan disuruh ambil uang bank Rp20 juta. Uangnya diambil si H (HBM), tapi cicilan tak dibayar. Saya yang dikejar bank,” ungkapnya.
Para pengusaha menyebut, HBM menjanjikan titik dapur MBG dan meminta dana dengan berbagai dalih, mulai dari pengurusan administrasi, dijanjikan beberapa titik dapur, transportasi, hingga renovasi. Namun setelah dana diserahkan, proyek yang dijanjikan tidak kunjung terealisasi sesuai kesepakatan.
Informasi yang dihimpun kaidah.ID menyebut, dapur MBG di Sausu Torono memang telah dibangun dan mulai beroperasi sejak Februari 2026. Namun para pengusaha mengaku tidak menerima sepeserpun keuntungan. Mereka juga menyebut pihak yayasan kini menguasai penuh dapur tersebut.
Merasa dirugikan, para pengusaha akhirnya melaporkan kasus ini ke kepolisian untuk diproses lebih lanjut. Informasi yang diperoleh, pihak kepolisian akan melakukan mediasi atas laporan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak HBM maupun Yayasan Pelita Prabu Berjaya Indonesia terkait tudingan tersebut. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan