PALU, KAIDAH.ID – Penutupan sementara Jembatan III Palu pascagempa magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu dan sekitarnya pada Selasa, 16 Juni 2026, memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi jembatan tersebut. Namun, dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Alamsyah Palenga, mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan adanya kerusakan struktur jembatan hanya berdasarkan foto yang beredar.
Menurut Alamsyah, dirinya belum melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi, sehingga belum dapat memberikan kesimpulan teknis mengenai kondisi jembatan. Meski demikian, dari foto yang beredar, bagian yang dianggap retak kemungkinan merupakan zona pertemuan antara pelat jembatan dan pelat injak yang memang secara desain dibuat terpisah.
“Saya belum mengecek ke lapangan. Tapi kalau keretakan jembatan dinilai dari foto ini, rasanya ini bukan retak. Zona ini adalah zona pertemuan antara pelat jembatan dan pelat injak. Memang kedua bagian ini saat dibuat tidak menyatu atau tidak monolit, tetapi secara struktural memang dibuat terpisah,” kata Alamsyah.
Ia menjelaskan, bagian tersebut kemungkinan sebelumnya tertutup lapisan aspal sehingga terlihat menyatu. Ketika terjadi gempa, lapisan aspal itu bisa mengalami pecah atau retak sehingga memunculkan kesan seolah-olah struktur jembatan mengalami kerusakan.
“Bisa jadi saat dilakukan pengaspalan di atasnya, aspalnya menutupi penuh sehingga kita melihatnya menyatu, seolah tersambung. Maka saat terjadi gempa, retaklah bagian aspalnya. Jadi itu bukan retak, setidaknya demikian saya harapkan sehingga jembatan tidak rusak dan bisa digunakan kembali,” ujarnya.
Meski demikian, Alamsyah menilai langkah pemerintah menutup sementara akses Jembatan III Palu sudah tepat. Menurutnya, pemeriksaan menyeluruh tetap harus dilakukan sebelum jembatan kembali difungsikan.
“Iya, itu sudah benar sebagai tindakan pencegahan, sebelum struktur jembatan diperiksa secara menyeluruh oleh ahli structural forensik dan dinyatakan aman atau tidak aman untuk difungsikan kembali,” katanya.
Alamsyah menjelaskan, jembatan pada umumnya memang dirancang tidak sepenuhnya kaku. Struktur tertentu sengaja dibuat memiliki kelenturan, agar mampu mengakomodasi pemuaian akibat perubahan suhu maupun lendutan saat menerima beban kendaraan.
“Pelat jembatan memang didesain tidak kaku tetapi memiliki kelenturan tertentu untuk membiarkannya sedikit memuai saat terkena panas atau melendut saat menerima beban. Kalau kita melewati jembatan kadang jembatannya terasa berayun, itu adalah efek dari ketidak-kakuan jembatan,” jelasnya.
Karena itu, apabila hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan tidak ada kerusakan struktural, munculnya celah atau retakan pada lapisan penutup, justru dapat menjadi indikasi bahwa sistem yang dirancang untuk mengakomodasi pergerakan struktur bekerja sebagaimana mestinya.
“Jadi kalau memang benar tidak ada kerusakan struktural, semoga demikian, saya malah senang retakan itu terjadi yang menunjukkan bahwa desainnya bekerja dengan sempurna,” ujarnya.
Hingga saat ini, pemerintah daerah maupun instansi teknis terkait masih melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Jembatan III Palu. Belum ada pernyataan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun kapan jembatan tersebut dapat kembali dibuka untuk umum. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan