PALU, KAIDAH.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya di Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu, bukan Sesar Palu Koro yang menjadi sumber gempa besar dan tsunami Palu pada 2018.

Kepala BMKG, Wijayanto, mengatakan hasil analisis menunjukkan, gempa yang terjadi kali ini berasal dari aktivitas sesar aktif Sausu yang berada di wilayah Sulawesi Tengah.

“Jadi gempa ini akibat aktivitas Sesar Aktif Sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palu Koro seperti gempa di 2018,” kata Wijayanto dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BMKG, Selasa siang.

Penjelasan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran sebagian masyarakat, yang mengaitkan gempa kali ini dengan aktivitas Sesar Palu Koro sebagai pemicu gempa magnitudo 74 dan tsunami dahsyat di Teluk Palu pada 28 September 2018.

Menurut Wijayanto, wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di sekitar Palu, memiliki sejumlah sumber gempa aktif selain Sesar Palu Koro. Di antaranya adalah Sesar Sausu dan Sesar Ampana.

“Kota Palu memiliki cukup banyak sumber gempa atau sesar-sesar aktif. Selain Sausu dan Palu Koro, ada pula Sesar Ampana,” ujarnya.

Meski demikian, BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir bahwa aktivitas Sesar Sausu akan memicu gempa besar dari sesar lainnya.

“Sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya bukan berarti akan memicu gempa yang lebih besar. Biasanya hanya memicu gempa-gempa kecil saja,” jelas Wijayanto.

Saat ini BMKG masih terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas seismik pascagempa, termasuk memonitor distribusi gempa susulan yang masih terjadi di sekitar pusat gempa.

“Kita evaluasi terus aktivitas gempa susulan distribusinya ke mana. Nanti kita bisa lihat dan petakan secara spasial apakah arahnya tetap di pusat gempa itu sendiri atau akan menyebar ke Sesar Ampana maupun Sesar Palu Koro,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan gempa yang terjadi termasuk kategori gempa dangkal karena memiliki kedalaman hanya 10 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan gempa bumi jenis dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu,” kata Nelly.

Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa tersebut memiliki karakteristik pergerakan turun atau normal fault.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault,” tambahnya.

Gempa magnitudo 6,7 yang berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu itu dirasakan kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong. Sejumlah kerusakan bangunan dilaporkan terjadi, terutama di wilayah Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong.

Hingga saat ini BMKG terus memantau perkembangan aktivitas gempa susulan dan mengimbau masyarakat tetap tenang serta mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan BMKG maupun pemerintah daerah. (*)

(Ruslan Sangadji)