FIFA: Dewa Sepak Bola yang Pilih-Pilih Lawan (Analisis Inkonsistensi Kekuasaan, Fair Play, dan Netralitas Politik Dalam Pentas Persepakbolaan Dunia)

Dr. Moh. Tavip, S.H., M.H / Akademisi / Pemerhati Sepak Bola

Pengantar Bagian 2:

Pada bagian pertama (klik di sini), kita sudah lihat data telanjang. FIFA banned Indonesia 349 hari karena SK Menpora. FIFA diam saat AS tolak visa wasit. Total 3019 hari untuk negara kecil, 0 hari untuk negara kuat. Kini kita bedah sisi hukum dan hikmahnya.

  1. Diskursus Argumentasi Menyertai Inkonsistensi FIFA:

Bedah Hukum:
Pendekatan Doktrin dan Asas

Kalau pakai kacamata Hukum Organisasi Internasional, FIFA bermasalah di 3 titik:

  1. Melanggar Asas Persamaan Kedaulatan / Sovereign Equality
    Article 2 (1) Piagam PBB dan praktik umum hukum internasional: semua anggota setara.
    Pelanggaran FIFA: Membedakan perlakuan berdasarkan ukuran pasar dan kekuatan politik. Ini diskriminasi kelembagaan.
  2. Terjebak Doktrin Ultra Vires Selektif (Doktrin Ultra Vires adalah prinsip dalam hukum perusahaan yang menyatakan bahwa, suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan atau organ perusahaan di luar kewenangan atau tujuan yang diberikan oleh anggaran dasar atau undang-undang, adalah tidak sah atau dapat dibatalkan)
    FIFA hanya boleh bertindak sesuai Statuta Pasal 14: larang intervensi pemerintah.
    Pelanggaran FIFA: Pasal itu dipakai buat gantung Indonesia 349 hari. Tapi tidak dipakai saat AS intervensi visa wasit. Kewenangan ada, tapi dipakai tebang pilih. Ini abuse of discretion.
  3. Mengabaikan Asas Proporsionalitas
    Hukuman harus sebanding dengan pelanggaran.
    Fakta: Kuwait bikin UU = 782 hari banned. AS tolak wasit = 0 hari. Pelanggaran sejenis, hasil vonis beda. Ini cacat hukum.

Teori yang Menjelaskan: Realisme Institusional. Organisasi internasional tidak pernah netral. Dia cerminan kuasa anggotanya. FIFA tunduk pada hegemoni: AS, Eropa, dan penyandang dana.
Jadi “statuta” hanyalah sekedar teks, sementara “Kuasa” adalah konteks.

  1. Argumen Tandingan:

Agar fair, setidak-tidaknya secara kontempelatif begini kira-kira alasan di balik sikap FIFA,

  1. Argumen Kedaulatan Federasi: “FIFA tidak menghukum negara. FIFA menghukum federasi anggotanya. PSSI, FA Kuwait, ZIFA itu anggota FIFA yang tanda tangan Statuta. Mereka setuju tunduk. Jadi saat pemerintah intervensi, yang melanggar kontrak adalah federasinya.”
  2. Argumen Konteks dan Yurisdiksi: “Kasus AS tolak visa wasit itu ranah imigrasi negara berdaulat. FIFA tidak punya yurisdiksi memaksa negara terbitkan visa. Beda dengan Indonesia. Menpora secara aktif membekukan PSSI lewat SK. Itu intervensi langsung. Yang satu pasif, yang satu aktif.”
  3. Argumen Politik vs Teknis: “Kasus Rusia itu keputusan Biro Dewan FIFA karena ‘keadaan luar biasa’ force majeure. Perang bikin keamanan tidak terjamin. Ini bukan sanksi politik, tapi keputusan teknis demi keselamatan.”
  4. Argumen Pasar dan Keberlangsungan: “Tugas FIFA adalah menggelar turnamen. Tuan rumah seperti Qatar dan AS sudah investasi miliaran dolar. Membatalkan Piala Dunia merugikan 211 anggota lain. Karena itu kami pilih jalur dialog, bukan hukuman. Ini demi the good of the game.”

Menyoroti Argumentasi FIFA:

Argumen 1 dan 2 runtuh kalau ditanya: kenapa pemerintah Kuwait bikin UU dianggap intervensi, tapi pemerintah AS bikin aturan visa tidak dianggap intervensi? Padahal Keduanya sama-sama state action.
FIFA pilih definisi “intervensi” yang menguntungkan dia.

Argumen 3 soal Rusia itu pengakuan telak: FIFA bisa bertindak politik kalau mau. Berarti dalih “netral dari politik” gugur.

Argumen 4 artinya realistis jujur, duit dan keberlangsungan event lebih penting dari konsistensi statuta.

  1. Di Penghujung Perenungan:

Sepak Bola, Kekuasaan, dan Standar Ganda

Lagi-lagi dan sekali lagi saya mau bilang, bahwa dari data yang dikumpulkan tampaknya bahwa peristiwa dan keadaan ini bukanlah merupakan hal yang kebetulan, semua Itu telah membentuk pola dan keteraturan.

Doktrin hukum bilang FIFA harus setara. Realitanya FIFA pakai Hukum Rimba Berdasi. Yang kuat dilindungi, yang lemah dikorbankan.

Jadi inkonsistensi FIFA bukan tudingan. Itu fitur utama sistemnya. Statuta adalah kitab suci untuk mengatur yang lemah. Lobi dan kuasa adalah kitab suci untuk negosiasi dengan yang kuat.

Selama pendapatan FIFA 90 persen datang dari Piala Dunia di negara besar, jangan harap dia galak ke yang kasih makan. PSSI bisa di-banned setahun karena SK Menpora. US Soccer tidak akan di-banned sehari pun karena visa.

Itulah wajah asli fair play versi FIFA: adil di lapangan, pilih kasih di ruang sidang.

Hikmah untuk kita dari semua ini apa?.
Minimal kita tau, kita lagi nonton pertandingan apa: sepak bola, atau dagelan kuasa.

Banyak benarnya pandangan yang dikemukan oleh coach Timnas Senegal, viral, karena di berbagai media pandangannya dimuat, intinya : “Ajang Ini tidak lebih dari sekedar hanyalah sebuah hiburan, kami rela untuk kehilangan kesempatan dan tidak menjadi juaranya jika kami harus berpaling dari kehilangan ketaatan kami terhadap Allah Subhanahu Wata’ala”.

Jika ajang piala dunia berisi dagelan kuasa, apa tidak sebaiknya dipikirkan peringatan Allah dalam QS. Luqman: 33, yang artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang ketika itu seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu terpedaya oleh penipu dalam menaati Allah.”

Jadi, ukur-ukur waktu untuk nonton siaran piala dunia.

Sok Agamis nih yeee!!!

(Tamat)