Dr. Moh. Tavip, S.H., M.H / Akademisi / Pemerhati Sepak Bola
FIFA punya mantra sakti: Football unites the world.
Di atas kertas, dia netral. Di lapangan, dia polisi jalanan.
Di ruang sidang, dia hakim.
Berita agung lainnya yang berhembus dari rahimnya, politik dilarang masuk stadion. Ungkapan langitan menyertainya: semua anggota FIFA setara, fair play harga mati.
Tapi sejarah merekam satu hal: FIFA konsisten menuntut konsistensi dari anggota, tapi tidak konsisten menuntut dirinya sendiri. Kekuasaannya absolut saat hadapi yang kecil. Loyo saat hadapi yang besar. Takluk di bawah pertimbangan ekonomi-politik
Saya akan uraikan satu persatu perilaku polisi jalanan ini, berdasar hasil rekam yang sebisa mungkin saya kumpulkan dari berbagai sumber.
- Kala FIFA Jadi Dewa di Hadapan yang Lemah: Kasus PSSI Nurdin Halid
Tsunami olah raga sepak bola menerpa Indonesia, buka lembar hitam dari satu titik ini, Ingat tragedi Tahun 2011 dan 2015?. PSSI kisruh. Pemerintah turun tangan lewat Menpora, terbitkan SK terkait pengakuan kepengurusan PSSI yang sah.
Apa yang terjadi?, FIFA berang lalu angkat palu, bikin vonis: ini pelanggaran statuta, dalam bentuk intervensi pemerintah dalam tubuh dan aliran darah FIFA.
Bencana tak dapat dihindari, hukuman sulit dimitigasi, Indonesia dilarang ikut kompetisi internasional.
Semua laga resmi di bawah bendera FIFA haram digelar di setiap jengkal tanah Indonesia, sebuah Negara berdaulat.
Hukum Internasional menempatkan penghormatan pada status itu setinggi langit, menembus layer tujuh lapisnya. Indonesia takluk bukan oleh badan internasional sederajat PBB, hmmmm!!!
Efeknya ngeri dan menakutkan. Timnas terancam tamat, klub-klub bingung. Pemain nganggur..
Kedaulatan negara soal urus olahraga sendiri, kalah sama Statuta FIFA.
Pesannya jelas: “mesiaka dotaku, atau kusuvuraka dako ripomoreta.”, berlaku dalil: ane ala, ala…ane boli, boli (Ikut aku atau keluar dari permainan. Kalau ambil, ambil. Kalau tak mau, tinggalkan)
Di sini FIFA nunjukin dominasinya. Dia bisa bikin satu negara 270 juta orang puasa bola.
Alasannya? Menjaga sepak bola dari politik. Prinsipnya mulia. Eksekusinya kejam.
- Kala FIFA Jadi Tamu di Hadapan yang Kuat: Kasus Amerika & Iran
Ganti lensa, geser ke Piala Dunia 1994 dan 2022. Tuan rumahnya Amerika.
Soal Wasit Somalia
Di Piala Dunia 1994, wasit asal Somalia ditolak masuk AS karena kebijakan visa. FIFA diam. Tidak ada surat teguran. Tidak ada ancaman pindah tuan rumah. Padahal ini bentuk intervensi politik paling telanjang: negara tuan rumah milih siapa boleh kerja, siapa tidak. Kalau yang nolak visa itu Indonesia, sangat mungkin beda sikapnya, kena banned semusim.
Terhadap Timnas Iran Pada Piala Dunia 2022.
Selama Piala Dunia di Qatar, Tim Iran terintimidasi oleh gestur politik. Di Tim AS, saat laga persahabatan atau turnamen, mereka dapat perlakuan berbeda dari tim lain, apalagi jika dibanding dengan Tim Iran. Keamanan ekstra yang rasa-rasanya kayak pengawasan. Media AS memframing ini sebagsi bukan sepak bola, tapi geopolitik.
Sikap FIFA apa? Sibuk jualan focus on football. Tidak ada investigasi soal fair treatment. Tidak ada satgas fair play untuk itu. Standarnya jadi begini: Kalau negara kuat yang bikin ulah, itu “situasi kompleks”. Kalau negara lemah, itu “pelanggaran statuta”.
- Rangkuman Besar Sanksi FIFA: Pola Penakluk dan Takluk
Deskripsi berikut ini menampilkan peran sebagai penakluk dan ditaklukkan dari performa FIFA.
Negara yang Dihukum Keras: Penakluk Kejam Terhadap Negara Kecil
- Negara Brunei: Dikenai sanksi dari 29 September 2009 sampai 31 Mei 2011. Total durasi 609 hari. Alasan FIFA: pemerintah intervensi federasi. Dampak: total dilarang main di semua kompetisi FIFA. Skor pasar/kuasa: 2 dari 10.
- Negara Indonesia: Dikenai sanksi dari 30 Mei 2015 sampai 13 Mei 2016. Total durasi 349 hari. Alasan FIFA: Menpora membekukan PSSI. Dampak: timnas dan klub dilarang ikut kompetisi internasional. Skor pasar/kuasa: 4 dari 10.
- Negara Kuwait: Dikenai sanksi dari 16 Oktober 2015 sampai 6 Desember 2017. Total durasi 782 hari. Alasan FIFA: UU Olahraga baru dianggap intervensi pemerintah. Dampak: dilarang ikut Kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia. Skor pasar/kuasa: 3 dari 10.
- Negara Pakistan: Sanksi pertama dari 11 Oktober 2017 sampai 13 Maret 2018 selama 153 hari. Sanksi kedua dari 7 April 2021 sampai 29 Juni 2022 selama 448 hari. Alasan FIFA: pengadilan ambil alih federasi dan kisruh kantor federasi. Dampak: dilarang total dua kali. Skor pasar/kuasa: 2 dari 10.
- Negara Zimbabwe: Dikenai sanksi dari 24 Februari 2022 sampai 10 Juli 2023. Total durasi 501 hari. Alasan FIFA: pemerintah membubarkan federasi. Dampak: dilarang total. Skor pasar/kuasa: 2 dari 10.
- Negara Kenya: Dikenai sanksi dari 24 Februari 2022 sampai 28 November 2022. Total durasi 277 hari. Alasan FIFA: pemerintah ambil alih federasi. Dampak: dilarang total. Skor pasar/kuasa: 2 dari 10.
FIFA Takluk Pada Negara Besar dan Kuat
- Negara Amerika Serikat: Kasus Piala Dunia 1994 terkait penolakan visa wasit Somalia. Durasi banned: 0 hari. Alasan seharusnya kena: intervensi negara ke penugasan official. Dampak nyata: Piala Dunia tetap jalan normal. Skor pasar/kuasa: 10 dari 10.
- Negara Amerika Serikat: Kasus 2022 sampai sekarang terkait perlakuan diskriminatif ke Iran. Durasi banned: 0 hari. Alasan seharusnya kena: gagal jamin fair treatment ke peserta. Dampak nyata: tetap jadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Skor pasar/kuasa: 10 dari 10.
Takluk Karena Faktor Kekuatan Duit, Meski Bukan Negara Besar dan kuat
- Negara Qatar: Kasus Piala Dunia 2022 terkait pelanggaran HAM pekerja dan larangan bir di stadion. Durasi banned: 0 hari. Alasan seharusnya kena: isu politik dan HAM berat. Dampak nyata: status tuan rumah jalan terus. Skor pasar/kuasa: 9 dari 10.
- Negara Israel: Kasus sejak 2015 sampai sekarang terkait desakan banned dari Palestina dan PFA. Durasi banned: 0 hari. Alasan seharusnya kena: konflik geopolitik berkepanjangan. Dampak nyata: tetap ikut semua kompetisi FIFA. Skor pasar/kuasa: 8 dari 10. Sebagai Penakluk: Atas desakan geopolitik-global, meski berhadapan dengan negara besar dan kuat
- Negara Rusia: Dikenai sanksi dari 28 Februari 2022 sampai sekarang. Durasi sudah 1300 hari lebih. Alasan FIFA: invasi ke Ukraina. Dampak: dilarang total. Skor pasar/kuasa: 7 dari 10. Catatan: ini anomali karena FIFA ikut tekanan politik global, bukan murni statuta.
Data ini bukanlah kebetulan. Itu pola. Tapi mengapa FIFA bisa bertindak demikian? Atas dasar hukum apa asosiasi swasta mengatur negara berdaulat? Bedah hukum dan argumennya kita lanjut di bagian berikutnya. (*)
(Bersambung)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan