Oleh: Adhie M Massardi / Kolumnis

Miliaran pasang mata tertuju ke 3 negara di Amerika Utara—AS, Meksiko dan Kanada—tempat digelarnya kompetisi sepakbola Piala Dunia FIFA 2026. Apa yang menarik dari bola? Kita mulai dari uang.

Ada sesuatu yang menarik ketika uang masuk ke hampir semua ruang kehidupan manusia. Ketika uang masuk ke hutan, pohon berubah menjadi angka. Ketika uang masuk ke pengadilan, vonis berubah menjadi bisnis. Ketika uang masuk ke demokrasi, suara berubah menjadi komoditas. Ketika uang masuk ke pendidikan, ilmu perlahan berubah menjadi sertifikat. Dan ketika uang masuk ke seni, makna sering kali berubah menjadi tren.

Namun anehnya, ada satu ruang besar dalam peradaban modern yang tidak sepenuhnya runtuh ketika uang datang ke dalamnya: sepakbola. Mengapa uang tidak pernah benar-benar menang melawan bola?

Padahal tidak ada ruang yang lebih terbuka terhadap uang dibandingkan sepakbola modern. Di sana ada hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor global, industri taruhan, bursa transfer pemain, hingga ekonomi digital yang bergerak dalam hitungan detik. Stadion berubah menjadi pusat konsumsi raksasa. Klub menjadi korporasi. Pemain menjadi aset. Penonton menjadi data.

Tetapi sesuatu tetap bertahan.

Orang masih marah ketika wasit dianggap tidak adil. Orang masih kecewa ketika pertandingan dianggap diatur. Dan jutaan penonton tetap menuntut agar permainan berlangsung jujur.

Di sinilah sepakbola menghadirkan paradoks yang jarang dibahas.

Uang memang masuk ke dalam permainan. Namun tidak seperti di banyak tempat lain, uang tidak sepenuhnya berhasil menjadi penguasa. Ia justru dipaksa menjaga permainan tetap dipercaya.

Selama ini kita sering memahami sepakbola hanya sebagai olahraga, hiburan, atau industri. Padahal di dalamnya terdapat satu laboratorium sosial yang sangat besar: bagaimana kepercayaan bekerja di dalam sistem yang penuh persaingan.

Sebuah pertandingan sepakbola hanya berlangsung sembilan puluh menit. Tetapi agar sembilan puluh menit itu dipercaya oleh jutaan manusia, dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar aturan.

Harus ada keyakinan bahwa pertandingan tidak sepenuhnya dimanipulasi. Harus ada keyakinan bahwa aturan berlaku bagi semua. Harus ada keyakinan bahwa hasil pertandingan lahir dari permainan, bukan semata-mata dari transaksi.

Tanpa itu semua, sepakbola kehilangan alasan untuk ditonton.

Di titik inilah ekonomi menemukan batasnya.

Industri boleh tumbuh sebesar apa pun, tetapi ia bergantung pada satu sumber kehidupan yang tidak bisa diproduksi oleh uang: trust.

Tanpa trust, pertandingan berubah menjadi pertunjukan kosong. Tanpa trust, penonton berhenti peduli. Dan ketika penonton berhenti percaya, seluruh ekonomi yang berdiri di atasnya mulai kehilangan tenaga hidup.

Karena itu, secara paradoks, industri sepakbola justru berkepentingan menjaga kepercayaan terhadap permainan.

Mereka membutuhkan wasit yang dipercaya. Mereka membutuhkan kompetisi yang dianggap fair. Mereka membutuhkan aturan yang tampak bekerja. Mereka membutuhkan drama yang terasa nyata.

Bukan terutama karena moralitas, melainkan karena kebutuhan biologis sistem.

Di sinilah saya mulai melihat sepakbola bukan lagi sebagai olahraga biasa, melainkan sebagai organisme sosial.

Seperti tubuh manusia, ia hidup karena ada aliran yang terus bergerak di dalamnya. Dalam tubuh, aliran itu adalah darah. Dalam sepakbola, aliran itu adalah trust.

Trust menghubungkan pemain dengan penonton. Trust menghubungkan klub dengan pendukungnya. Trust menghubungkan aturan dengan penerimaan publik. Trust menghubungkan emosi dengan makna.