Masyarakat menjadi mahal untuk dijalankan.

Semua harus diawasi. Semua harus diverifikasi. Semua harus dicurigai.

Dan di situlah peradaban mulai kehilangan efisiensi terdalamnya: kemampuan untuk saling percaya.

Sepakbola memberi pelajaran menarik tentang hal ini.

Ia menunjukkan bahwa bahkan industri sebesar apa pun tetap membutuhkan trust sebagai fondasi biologisnya. Tanpa trust, uang tidak memiliki tempat untuk hidup.

Karena itu, sepakbola mungkin bukan sekadar permainan. Ia adalah salah satu cermin paling jujur tentang bagaimana kehidupan sosial bekerja.

Ia memperlihatkan bahwa kekuasaan bisa membesar. Ekonomi bisa meluas. Teknologi bisa semakin canggih. Tetapi pada akhirnya, semua sistem tetap bergantung pada sesuatu yang sangat sederhana: kepercayaan bahwa permainan masih layak dipercaya.

Mungkin di situlah kita perlu mulai melihat trust bukan sekadar sebagai nilai moral, melainkan sebagai fungsi kehidupan.

Ia adalah energi penghubung. Ia menjaga konektivitas antarorganisme sosial tetap hidup. Ia memungkinkan manusia bekerja sama tanpa harus terus-menerus dipaksa.

Dan ketika trust masih berfungsi, ekosistem dapat bertahan bahkan di bawah tekanan ekonomi yang sangat besar.

Sepakbola memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Bahwa trust bisa hidup di dunia nyata, bukan di negeri utopia.

Ia menerima uang. Ia menerima industri. Ia menerima modernitas. Namun jauh di dalam dirinya, permainan itu tetap dijaga oleh sesuatu yang lebih tua daripada ekonomi: kepercayaan manusia bahwa permainan harus berlangsung adil agar tetap bermakna.

Barangkali karena itulah sepakbola tidak pernah sepenuhnya bisa dimiliki.

Ia bundar, sederhana, dan mudah dipahami. Ia menerima aturan, tetapi tidak kehilangan kebebasannya. Ketika ekonomi datang, industri justru dipaksa tunduk kepadanya. Sebab di dalam bola, masih tersimpan magma peradaban yang tak pernah padam.  (*)

Editor: Ruslan Sangadji