Mungkin itu pesan Sahrin:
Kepemimpinan nggak harus selalu mulai dari podium.
Kadang cukup mulai dari hentakan kaki, dari ingatan kampung halaman, dari keberanian bilang “ini saya, ini asal saya”.

Oleh: Tommy R. Arief | Kolumnis

DI PANGGUNG Rakernas Partai Gerakan Rakyat, lampu sorot biasanya buat pidato.
Malam itu beda. Sorot itu jatuh ke parang, ke salawaku, dan ke langkah kaki yang menghentak lantai.

Sahrin Hamid maju. Bukan sebagai Ketua Umum. Tapi sebagai anak Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara, yang pulang kampung lewat tarian.

Musik tifa ditabuh. Dan seketika, ruangan itu bukan lagi ballroom hotel di Jakarta.
Rasanya kayak di tanah Halmahera. Bau laut, bau cengkeh, bau semangat para leluhur.

Cakalele. Tarian perang itu memang rumahnya.
Wajar kalau gerakannya nggak kaku. Wajar kalau ayunan parangnya mantap. Karena ini bukan dipelajari seminggu buat acara. Ini tarian yang besar bareng dia sejak kecil di Galela.

Di barisan penonton, ada yang nangis.
“Akhirnya ada pejabat pusat yang berani angkat budaya kita ke atas panggung nasional,” bisik seorang ibu asal Ternate.

Sahrin Hamid lahir 1975. Dari ormas pendukung Anies Baswedan, sekarang resmi menahkodai Partai Gerakan Rakyat sejak dikukuhkan di Rakernas I, 18 Januari 2026. Tugasnya berat: kejar legalitas ke 38 provinsi, baru 13 SKT yang beres.

Tapi malam itu dia nggak ngomongin SKT. Dia ngomong pakai badan.
Dia bilang: “Kami partai baru, tapi akar kami dalam. Kami datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk melindungi. Kayak Cakalele dulu melindungi kampung.”

Di era politik yang serba digital, 2 menit Cakalele itu viral.
Bukan karena gimmick. Tapi karena jujur.
Karena yang nari memang anaknya tanah itu.

Mungkin itu pesan Sahrin:
Kepemimpinan nggak harus selalu mulai dari podium.
Kadang cukup mulai dari hentakan kaki, dari ingatan kampung halaman, dari keberanian bilang “ini saya, ini asal saya”.

Dan ketika parang terakhir dihentakkan, tepuk tangan paling keras justru datang dari anak-anak muda.
Mereka baru sadar, politik juga bisa segagah ini. (*)

Editor: Ruslan Sangadji