Oleh: Tommy R. Arief | Mantan Direktur Media PSSI dan Jurnalis Senior

Prediksi boleh berbeda. Dukungan pun boleh terbagi. Namun, satu hal yang diyakini Brigjen TNI Muhammad Suardi Samiran, final Piala Dunia akan menjadi panggung indah yang memperlihatkan bahwa sepak bola, di atas segalanya, adalah tentang sportivitas, karakter, dan kemanusiaan

DI SELA PADATNYA tugas sebagai perwira tinggi TNI AD, Brigjen TNI Muhammad Suardi Samiran masih menyempatkan diri menendang bola di Lapangan Caprina. Usia boleh bertambah, tetapi semangat “Jenderal Gila Bola” seolah tak pernah mengenal kata pensiun.

Sore itu, usai berkeringat di lapangan, pandangannya tertuju pada tayangan ulang pertandingan Argentina melawan Spanyol. Senin, 20 Juli 2026 dini hari waktu Indonesia, dunia akan menyaksikan partai puncak Piala Dunia 2026. Dari pengalaman panjangnya sejak bermain di Turnamen Suratin hingga meniti karier militer, Suardi memandang sepak bola lebih dari sekadar permainan.

“Sepak bola itu cermin kehidupan,” katanya.

Final Itu Soal Hati, Bukan Cuma Kaki

Bagi Brigjen Suardi, Argentina dan Spanyol menghadirkan dua filosofi yang berbeda.

“Spanyol itu ibarat sebuah orkestra. Semua bergerak dalam satu komando, permainan rapi dengan umpan-umpan pendek yang mengalir. Argentina berbeda. Mereka seperti pejuang. Jatuh bangun, tetapi mentalnya tidak pernah mati. Apalagi ada Messi. Bola seakan-akan punya magnet dan dia menjadi pusat gravitasinya.”

Saat diminta memprediksi hasil pertandingan, ia lebih dulu tersenyum.

“Kalau pakai logika pelatih, saya pilih Spanyol menang 2-0 karena kualitas timnya lebih merata. Kalau Messi berhasil dikunci, Argentina bisa kehilangan arah. Tapi kalau pakai hati mantan pemain, final itu selalu 50:50. Yang menang adalah tim yang paling lapar dan paling disiplin selama 90 menit.”

Pelajaran dari Suratin hingga Barak

Bagi Suardi, lapangan hijau adalah ruang belajar pertama yang membentuk karakternya.

“Dulu, waktu bermain di Suratin dan PSM pada era 1980-an, pelatih kami tidak hanya mengajarkan teknik. Yang diajarkan justru disiplin: datang tepat waktu, menghormati senior, berlari sampai muntah, lalu bangkit lagi. Itulah hakikat disiplin militer.”

Dari lapangan itulah perjalanan hidupnya berlanjut. Ia pernah berkarier di Bank Bumi Daya sebelum akhirnya diterima di Akademi Militer Magelang. Namun, sepak bola tak pernah benar-benar ditinggalkan.

“Bagi saya, sepak bola adalah terapi. Setelah lelah menjalankan tugas, cukup bermain 30 menit, kepala langsung terasa lebih jernih.”

Pesan untuk Generasi Muda

Menjelang akhir perbincangan, nada suaranya terdengar lebih pelan, tetapi penuh ketegasan.

“Anak-anak PSM, anak-anak Suratin, dengarkan. Jangan mengejar viral lebih dulu. Kejarlah karakter. Teknik bisa terus diasah. Tetapi kalau mental rapuh, sedikit mendapat tekanan saja sudah buyar.”

Baginya, Turnamen Suratin bukan sekadar kompetisi usia muda.

“Suratin adalah pabriknya patriot. Dari rumput lapangan itulah lahir pemain-pemain yang bukan hanya piawai menggiring bola, tetapi juga mencintai tanah air. Di lapangan kita belajar menerima kekalahan, merayakan kemenangan, bekerja sama, dan menghormati lawan. Nilai-nilai itulah yang membentuk manusia.”

Prediksi boleh berbeda. Dukungan pun boleh terbagi. Namun, satu hal yang diyakini Brigjen Muhammad Suardi Samiran, final Piala Dunia akan menjadi panggung indah yang memperlihatkan bahwa sepak bola, di atas segalanya, adalah tentang sportivitas, karakter, dan kemanusiaan. (*)

Editor: Ruslan Sangadji