Pernahkah Anda membaca sebuah berita, lalu merasa ada kalimat yang terdengar janggal? Atau mungkin melihat papan nama kantor pemerintah yang seolah tidak ada yang salah, padahal jika diperiksa menurut aturan bahasa Indonesia, ternyata keliru?
Yang lebih mengejutkan, kesalahan itu sering kali bukan berasal dari masyarakat biasa. Media massa, lembaga pendidikan, perusahaan besar, hingga pejabat negara pun masih kerap melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan itu kemudian dibaca oleh jutaan orang, ditiru, diulang, dan akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar.
Inilah ironi terbesar dalam penggunaan kaidah bahasa Indonesia. Semakin sering sebuah kesalahan muncul, semakin banyak orang mempercayainya sebagai kebenaran.
Padahal, bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Bahasa adalah wajah sebuah bangsa. Cara kita menulis mencerminkan cara kita berpikir. Ketika bahasa digunakan secara serampangan, pesan yang ingin disampaikan pun bisa berubah, bahkan kehilangan maknanya.
Kaidah Bahasa Bukan Sekadar Aturan Guru di Sekolah
Masih banyak orang menganggap kaidah bahasa hanyalah kumpulan aturan yang dipelajari saat pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah lulus sekolah, aturan itu seolah tidak lagi penting.
Anggapan tersebut keliru.
Kaidah bahasa merupakan pedoman agar komunikasi berjalan jelas, tepat, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Dalam dunia jurnalistik, hukum, pemerintahan, pendidikan, hingga bisnis, satu kata yang salah dapat mengubah arti sebuah informasi.
Bayangkan sebuah berita yang salah menempatkan tanda baca. Atau surat keputusan pemerintah yang menggunakan kata yang tidak sesuai makna. Dalam beberapa kasus, kesalahan seperti ini bukan sekadar persoalan tata bahasa, melainkan dapat memicu kesalahpahaman bahkan sengketa.
Karena itulah setiap bahasa memiliki kaidah. Bahasa Indonesia pun demikian.
Banyak Orang Masih Mengenal PUEBI, Padahal Aturannya Sudah Berubah
Jika ditanya pedoman bahasa Indonesia yang berlaku saat ini, sebagian besar orang kemungkinan akan menjawab PUEBI.
Jawaban tersebut sebenarnya sudah tidak tepat.
Sejak 16 Agustus 2022, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V sebagai pedoman resmi penggunaan bahasa Indonesia. Nama PUEBI tidak lagi digunakan sebagai nama pedoman utama.
Menariknya, perubahan ini tidak terlalu disadari masyarakat. Mesin pencari masih dipenuhi orang yang mencari “PUEBI”, sementara banyak buku, modul pelatihan, bahkan materi pembelajaran masih menggunakan istilah lama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan aturan bahasa sering kali berjalan lebih cepat daripada penyebaran informasinya.
Mengapa Media dan Pejabat Masih Sering Salah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya cukup kompleks.
Pertama, sebagian besar penulis mengandalkan kebiasaan, bukan rujukan resmi. Kata yang sering dibaca akan terasa benar, meskipun sebenarnya keliru.
Kedua, proses produksi berita berlangsung sangat cepat. Dalam persaingan media digital, kecepatan sering kali lebih diutamakan daripada ketelitian. Akibatnya, kesalahan yang seharusnya dapat diperbaiki lolos hingga terbit.
Ketiga, pengaruh media sosial membuat bahasa informal semakin mendominasi. Banyak bentuk penulisan yang awalnya hanya digunakan dalam percakapan akhirnya terbawa ke dalam tulisan resmi.
Keempat, tidak semua institusi memiliki penyunting bahasa. Padahal, editor bahasa berperan penting memastikan setiap kalimat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Akibatnya, kesalahan kecil terus berulang selama bertahun-tahun.
Kesalahan yang Terlalu Sering Diulang Hingga Dianggap Benar
Ada sebuah fenomena menarik dalam linguistik. Ketika sebuah bentuk yang salah terus digunakan oleh banyak orang, masyarakat perlahan menganggapnya sebagai bentuk yang benar.
Inilah yang terjadi pada banyak kata dalam bahasa Indonesia.
Misalnya, masih banyak orang menulis “ijin”, padahal bentuk bakunya adalah “ijin”.
Begitu pula dengan “resiko” yang seharusnya “risiko”, “aktifitas” yang benar “aktivitas”, atau “sekedar” yang seharusnya “sekadar”.
Kesalahan-kesalahan tersebut bukan hanya ditemukan di media sosial. Tidak sedikit papan nama kantor, dokumen resmi, siaran pers, bahkan berita media nasional yang masih menggunakannya.
Semakin sering seseorang melihat bentuk yang salah, semakin kuat keyakinannya bahwa bentuk itulah yang benar.
Kesalahan “Di” yang Tidak Pernah Ada Habisnya
Jika harus memilih satu kesalahan paling populer dalam bahasa Indonesia, mungkin jawabannya adalah penggunaan kata “di”.
Masalahnya sebenarnya sangat sederhana.
Jika “di” menunjukkan tempat, penulisannya dipisah.
Contohnya:
- di rumah
- di sekolah
- di kantor
Namun jika “di-“ merupakan awalan pembentuk kata kerja, penulisannya harus disambung.
Contohnya:
- ditulis
- diperiksa
- dibaca
Meski aturan ini telah diajarkan sejak sekolah dasar, kesalahan masih sangat mudah di temukan. Bahkan tidak sedikit papan informasi pemerintah yang masih menulis “di larang”, “di jual”, atau “di sediakan”.
Ironisnya, tulisan tersebut justru dipasang di ruang publik dan dibaca oleh ribuan orang setiap hari.
“Di Mana” Bukan Kata Sambung
Kesalahan lain yang sangat sering muncul adalah penggunaan kata “di mana” sebagai penghubung antarkalimat.
Contoh yang sering ditemukan:
Indonesia adalah negara di mana masyarakatnya sangat ramah.
Kalimat tersebut memang terasa wajar karena pengaruh bahasa Inggris, terutama frasa where.
Namun dalam kaidah bahasa Indonesia, penggunaan seperti itu tidak dianjurkan.
Kalimat tersebut lebih tepat ditulis:
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat ramah.
Atau:
Indonesia merupakan negara tempat masyarakatnya dikenal ramah.
Kesalahan ini sangat sering ditemukan dalam berita, proposal, skripsi, hingga pidato resmi.
Huruf Kapital yang Dipakai Berlebihan
Huruf kapital memiliki fungsi tertentu, bukan sekadar membuat tulisan terlihat penting.
Sayangnya, masih banyak penulis yang menggunakannya hampir di setiap kata.
Contohnya:
“Pemerintah Akan Memberikan Bantuan Kepada Seluruh Masyarakat.”
Padahal, dalam kaidah bahasa Indonesia, huruf kapital digunakan pada awal kalimat, nama orang, nama lembaga, nama tempat, atau unsur tertentu yang memang diatur secara khusus.
Menggunakan huruf kapital secara berlebihan justru membuat tulisan tampak kurang profesional.
Bahasa Asing Terlihat Keren, Tetapi Belum Tentu Tepat
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan istilah asing meningkat sangat pesat.
Kata seperti update, support, meeting, briefing, awareness, atau achievement sering muncul bahkan ketika sudah tersedia padanan dalam bahasa Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menganggap bahasa asing lebih modern dibandingkan bahasa Indonesia.
Padahal, bahasa Indonesia telah memiliki ribuan padanan istilah yang dibakukan oleh Badan Bahasa.
Menggunakan bahasa Indonesia bukan berarti anti terhadap bahasa asing. Sebaliknya, memilih padanan yang tepat menunjukkan penghargaan terhadap bahasa nasional sekaligus memudahkan pembaca memahami isi tulisan.
Mengapa kaidah Bahasa Penting bagi Media?
Media bukan hanya menyampaikan informasi.
Media juga mengajarkan cara masyarakat menggunakan bahasa.
Setiap hari, jutaan orang membaca judul berita, unggahan media sosial, hingga siaran pers. Tanpa disadari, semua itu menjadi sumber belajar bahasa yang sangat besar.
Karena itulah tanggung jawab media tidak berhenti pada akurasi informasi. Ketelitian dalam menggunakan kaidah bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut.
Satu kesalahan mungkin tampak sepele.
Namun jika kesalahan itu dibaca jutaan orang setiap hari, dampaknya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Bahasa yang baik tidak lahir karena semua orang sempurna. Bahasa yang baik lahir karena ada kemauan untuk terus belajar, memperbaiki, dan menghargai aturan yang menjadi kesepakatan bersama.
Dan mungkin, setelah membaca artikel ini, Anda akan mulai menyadari bahwa selama ini bukan hanya orang lain yang pernah keliru.
Bisa jadi, kita semua pernah melakukannya. Bedanya, sekarang kita tahu bagaimana memperbaikinya.
Sepanjang artikel ini, kami sengaja menyisipkan tiga kesalahan penulisan. Semuanya berkaitan dengan kaidah bahasa yang baru saja dibahas. Bisakah Anda menemukan ketiganya?

Tinggalkan Balasan