“Jangan hanya kaki yang bergerak waktu musik babunyi, tetapi tangan diam ketika basudara membutuhkan bantuan!” kata Ci Tuty.

JAKARTA, KAIDAH.ID – Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Halmahera Utara (IKA Halut) Jabodetabek di Gedung Pusdatin Kementerian Sosial, Cawang, Jakarta Timur, Sabtu, 10 Oktober 2026, tidak sekadar menjadi seremoni pergantian kepengurusan. Tarian Saloi dan Susiru serta pembacaan puisi yang sarat kritik, menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga budaya, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Di tengah suasana yang kental dengan nuansa kampung halaman itu, percakapan dua perempuan, Ci Fany, pemilik Bangi Coffee, dan Ci Tuty, perempuan enerjik yang dikenal serba bisa, menyampaikan pesan sederhana tentang harapan terhadap organisasi kekeluargaan di tanah rantau.

Bagi keduanya, pelantikan merupakan awal dari perjalanan panjang pengabdian, bukan tujuan akhir sebuah organisasi. Kepengurusan baru IKA Halut Jabodetabek, diharapkan mampu menerjemahkan semangat persaudaraan ke dalam program yang menyentuh kebutuhan anggota.

“Bagus sekali acara hari ini. Tapi saya berharap setelah pelantikan, organisasi ini benar-benar bergerak. Jangan hanya ramai pas hari ini,” kata Ci Fany dalam percakapan di sela kegiatan.

Ci Tuty menyambut pandangan itu dengan perumpamaan musik yang mencerminkan gaya bicaranya yang santai dan penuh semangat.

“Batul! Pelantikan itu baru pembukaan. Ibarat musik, ini baru intro. Lagu sebenarnya blom mulai!” ujarnya.

Percakapan mereka kemudian mengarah pada tantangan yang kerap dihadapi organisasi kekeluargaan, yakni bagaimana membangun kerja sama di antara pengurus, agar tidak terjebak pada perebutan peran dan jabatan, tetapi mampu bergerak bersama untuk mencapai tujuan.

“Kalu bagitu, pengurus harus tahu irama. Jangan sampe samua mau jadi penyanyi utama, tetapi tara ada yang mau pegang alat musik,” timpal Ci Fany.

Bagi mereka, organisasi yang kuat bukan hanya yang memiliki banyak anggota atau dikenal luas, melainkan yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh anggotanya, tanpa membedakan jabatan maupun kondisi ekonomi.

“Orang datang ke organisasi bukan untuk diukur isi dompetnya. Torang datang karena merasa basudara,” ujar Ci Tuty.

Ci Fany menambahkan, kepedulian terhadap anggota harus menjadi bagian penting dari kerja organisasi. Ketika ada anggota yang sakit, berduka, atau membutuhkan bantuan untuk pendidikan anaknya, pengurus diharapkan hadir memberikan perhatian dan dukungan.

“Dan pengurus harus punya kepekaan. Kalau ada anggota sakit, berduka, butuh bantuan pendidikan, organisasi harus hadir,” katanya.

Dengan gaya bercanda, Ci Tuty mengingatkan, kepedulian tidak boleh datang terlambat, apalagi setelah persoalan yang dihadapi anggota sudah tidak dapat ditangani.

“Jang sampai anggota sakit, organisasi baru tahu setelah orangnya so bae. Itu bukan pelayanan, itu terlambat datang bahoba!” ujarnya, yang disambut tawa.

Meski disampaikan dengan nada humor, pernyataan itu mengandung kritik tentang pentingnya komunikasi dan kepekaan sosial dalam organisasi. Solidaritas, menurut pesan yang mengemuka dalam percakapan tersebut, harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sebatas ucapan dalam acara seremonial.

Pelestarian Budaya Maluku Utara

Selain persoalan sosial, keduanya menyoroti pentingnya pelestarian budaya Maluku Utara. Tarian Saloi dan Susiru yang ditampilkan dalam pelantikan, tidak seharusnya hanya menjadi bagian dari acara resmi, tetapi perlu diteruskan melalui ruang belajar dan kegiatan budaya yang melibatkan generasi muda.

Program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan sosial juga diharapkan menjadi bagian dari agenda kepengurusan baru, agar keberadaan IKA Halut Jabodetabek memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga Halmahera Utara di perantauan.

“Jangan hanya kaki yang bergerak waktu musik babunyi, tetapi tangan diam ketika basudara membutuhkan bantuan!” kata Ci Tuty.

Pembacaan puisi yang menggugah perhatian dalam acara tersebut, turut menjadi bahan refleksi mengenai arah organisasi. Kritik, menurut keduanya, merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki diri selama disampaikan dengan niat membangun. Sebaliknya, pengurus juga perlu diberi ruang untuk bekerja tanpa dibebani tuntutan yang tidak realistis.

“Pengurus bukan tukang sulap. Baru dilantik sore ini, besok pagi samua masalah harus selesai. Tara bagitu juga!” ujar mereka dalam percakapan yang menggambarkan perlunya keseimbangan antara harapan anggota dan proses kerja kepengurusan.

Dari percakapan tersebut, tersirat harapan agar IKA Halut Jabodetabek tumbuh menjadi organisasi yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga hangat dalam hubungan antaranggotanya. Kebersamaan perlu dirawat melalui kepedulian, komunikasi, dan kesediaan untuk saling membantu dalam berbagai keadaan.

“Kalu organisasi su bagus, basudara pasti betah. Sama seperti di rumah. Orang bukan cuma datang karena makanannya enak, tetapi karena merasa diterima,” kata Ci Tuty.

Pesan itu menjadi pengingat bagi pengurus yang baru dilantik, bahwa keberhasilan organisasi tidak semata-mata diukur dari megahnya acara pelantikan atau besarnya nama yang dibangun, tetapi dari manfaat yang dirasakan anggota dan masyarakat.

Karena itu, harapan yang mengemuka dalam momentum pelantikan tersebut sederhana, tetapi mendasar: jangan hanya ramai ketika dilantik, melainkan hadir ketika basudara membutuhkan; jangan hanya membangun nama besar organisasi, tetapi bangunlah manfaat besar bagi masyarakat.

Pada akhirnya, yang akan dikenang bukan semata-mata kemeriahan seremoni, melainkan pengalaman anggota yang pernah merasakan perhatian dan kepedulian dari pengurusnya.

Selamat mengemban amanah kepada Pengurus IKA Halut Jabodetabek. Semoga semangat Baku Dapa, Baku Sayang, Baku Jaga, Baku Kase Kuat terus hidup dalam setiap langkah pengabdian.

*Torang Samua Basudara!*

(Wan Kemendes/Tommy R. Arief)