Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Sebab, sebanyak apa pun yang kita miliki, semoga tidak pernah lebih besar daripada rasa syukur yang kita pelihara

CATATAN INI tentang berkah. Pagi ini, Selasa, 22 September 2026, dingin Megamendung, Bogor, masih menggantung di udara. Kabut tipis seperti enggan beranjak dari lereng-lereng bukit. Saya menumpang ojek, membelah jalan menuju Stasiun Bogor. Dari sana, commuter line akan membawa saya ke Jakarta.

Hari ini, ada janji yang harus ditunaikan. Saya hendak bertemu dengan seorang tokoh besar.

Di atas kendaraan roda dua, angin pagi menyentuh wajah. Jalanan mulai dipenuhi orang-orang yang mengejar waktu. Ada yang berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, atau sekadar berusaha menaklukkan rutinitas yang tak pernah benar-benar memberi kesempatan untuk berhenti.

Saya pun sedang mengejar waktu.

Namun, di tengah perjalanan, sebuah mobil tangki berwarna silver di depan saya seolah meminta perhatian. Bukan karena bentuknya yang besar, bukan pula karena deru mesinnya. Tetapi karena sebuah kalimat yang tertulis di bagian belakangnya.

“Bukan soal seberapa banyak yang didapatkan, tapi seberapa berkah yang dibawa pulang.”

Kalimat itu sederhana. Tidak panjang. Tidak pula berusaha menggurui. Tetapi pagi itu, di antara dinginnya Megamendung dan deru kendaraan yang bergerak menuju Bogor, kalimat itu terasa seperti sebuah pesan yang sengaja dititipkan kepada siapa saja yang sedang melintas.

Saya membacanya sekali. Kemudian, entah mengapa, ingin membacanya lagi.

Barangkali karena pagi itu saya sedang menuju sebuah pada sebuah janji dengan seorang tokoh penting. Seseorang yang berada dalam ruang kekuasaan, tempat keputusan dibuat, anggaran dibicarakan, dan kepentingan banyak orang dipertaruhkan.

Tetapi kalimat di belakang mobil tangki itu membawa pikiran saya ke tempat yang jauh lebih sederhana: rumah.

Ke mana pun seseorang pergi, sejauh apa pun perjalanan yang ditempuh, pada akhirnya ada satu pertanyaan yang selalu menunggu di ujung hari: apa yang kita bawa pulang?

Bukan semata-mata uang. Bukan pula jabatan, pujian, atau pengakuan. Tetapi sesuatu yang tidak selalu tampak oleh mata, tetapi terasa dalam kehidupan. Itulah keberkahan.

Sebab, ada orang yang pulang membawa banyak hal, tetapi hatinya tetap gelisah. Ada pula yang pulang dengan tangan yang tidak penuh, namun wajahnya tenang. Karena apa yang diperoleh, datang melalui jalan yang baik dan digunakan untuk kebaikan.

Kita sering mengukur keberhasilan dari jumlah. Berapa yang didapatkan, berapa yang dimiliki, berapa yang bertambah. Kita menghitung pendapatan, menimbang pencapaian, dan membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.

Namun, jarang sekali kita berhenti untuk bertanya: dari mana semua itu datang, untuk apa digunakan, dan apakah ia membawa kebaikan bagi kehidupan?

Mobil tangki itu terus melaju. Saya mengikutinya dari belakang, sementara jalanan Megamendung perlahan berganti dengan kepadatan lalu lintas Bogor.

Kalimat itu pun perlahan menjauh dari pandangan.

Tetapi pesannya seperti masih tertinggal.

Barangkali, perjalanan menuju Jakarta pagi ini bukan hanya tentang mengejar kereta, memenuhi janji, atau bertemu dengan seorang gubernur. Barangkali, ada perjalanan lain yang berlangsung diam-diam di dalam diri: perjalanan untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya sedang kita cari dalam hidup.

Kita boleh bekerja keras. Boleh mengejar cita-cita. Boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Tidak ada yang salah dengan itu.

Tetapi di tengah segala upaya tersebut, semoga kita tidak lupa bahwa rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga tentang seberapa baik ia membawa manfaat dan ketenangan.

Karena pada akhirnya, kehidupan tidak selalu bertanya seberapa tinggi kita pernah berdiri, namun apa yang kita tinggalkan ketika melangkah pergi.

Dan mungkin, di antara dinginnya pagi, deru ojek, serta perjalanan panjang menuju Jakarta, sebuah mobil tangki berwarna silver telah mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana:

Hidup bukan sekadar tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang memastikan bahwa apa yang kita bawa pulang memiliki berkah.

Sebab, sebanyak apa pun yang kita miliki, semoga tidak pernah lebih besar daripada rasa syukur yang kita pelihara.

Dan sejauh apa pun perjalanan kita, semoga selalu ada kebaikan, ada berkah yang ikut pulang bersama kita. (*)