Tetapi mungkin, di balik tawa itu, tersimpan kesadaran sederhana: ketika sebuah kawasan industri tumbuh, yang ikut tumbuh bukan hanya pabriknya. Ada ribuan kehidupan yang menggantungkan harapan di sekelilingnya. Dan selama mesin-mesin itu terus bekerja, seduhan kopi pun akan terus mengepul

PAGI DI BAHODOPI dimulai dengan kesibukan yang hampir tak pernah berhenti. Kendaraan pekerja keluar-masuk kawasan industri, warung mulai membuka pintu, dan kedai-kedai kopi bersiap melayani mereka yang baru selesai bekerja atau menunggu pergantian sif.

Di luar pagar Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), aktivitas itu ikut menghidupkan banyak usaha warga—dari kedai kopi, kos-kosan, layanan transaksi, hingga usaha makanan.

Salah satunya Solusi Kopie milik Moh. Ahdiat atau Yudi di Desa Keurea. Usaha yang dirintis pada 2021 itu sempat sepi pada minggu-minggu pertama. Kini, kedainya menjadi salah satu usaha yang ramai didatangi pekerja IMIP.

Dan uap tipis mengepul dari secangkir kopi. Di balik meja kedai, tangan Moh. Ahdiat bergerak cekatan. Ia menuang, mengaduk, lalu menyajikan seduhan yang bagi sebagian orang mungkin sederhana.

Namun di Bahodopi, secangkir kopi bisa menjadi awal dari sebuah percakapan panjang—tentang pekerjaan, keluarga yang jauh, lelah setelah pergantian sif, dan kehidupan yang terus bergerak di kawasan industri nikel.

Anak muda yang akrab disapa Yudi itu mungkin tak pernah membayangkan, seduhan kopi yang ia racik dari sebuah rumah di Desa Keurea kelak menjadi bagian dari denyut ekonomi Bahodopi.

“IMIP tutup, selesai kita,” katanya setengah bergurau.

Kalimat itu terdengar ringan. Tetapi di balik kelakar tersebut tersimpan sebuah kenyataan: kehidupan ekonomi Bahodopi hari ini begitu erat dengan puluhan ribu pekerja yang setiap hari datang dan pergi dari kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Bahodopi memang tak pernah benar-benar tidur. Ribuan kendaraan melintas silih berganti. Jalan-jalan menjadi lebih sibuk terutama ketika pergantian sif pekerja IMIP. Orang-orang datang membawa harapan, bekerja, lalu mencari tempat untuk beristirahat sebelum kembali menjalani rutinitas.

Di tengah kawasan yang tumbuh cepat itu, kebutuhan hidup ikut tumbuh. Dan dari kebutuhan-kebutuhan sederhana itulah banyak cerita usaha bermula. Secangkir kopi dan keberanian untuk memulai

Pada 2021, Yudi menyulap bagian depan rumah kerabatnya di Desa Keurea menjadi kedai kopi. Namanya Solusi Kopie.

Minggu pertama menjadi ujian. Tak ada pelanggan. Kedai masih sepi. Nama Solusi Kopie belum dikenal. Yudi memang memiliki kemampuan meracik kopi, tetapi ia segera menyadari bahwa membuat kopi yang enak tidak otomatis membuat sebuah usaha bertahan.

Ada ilmu lain yang harus dipelajari: bagaimana membangun bisnis.

Keinginannya untuk kuliah ia korbankan. Selama dua tahun, Yudi memilih berkutat dengan usaha. Ia menyusun visi dan misi, memikirkan rencana jangka pendek dan jangka panjang, sekaligus melakukan rebranding.

Ia belajar dari kesalahan, dari sepinya kedai, dari pelanggan yang datang sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, kedai kecil itu menemukan jalannya.

Kini Solusi Kopie menjadi salah satu kedai yang ramai di Bahodopi. Omzetnya berada di kisaran Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Jika dikalkulasikan setahun, nilainya berpotensi mencapai Rp1,44 miliar.

Namun bagi Yudi, angka tersebut bukan satu-satunya cerita. Ada pemasok yang ikut mendapatkan pesanan. Ada pengemudi yang mengantar barang. Ada pekerja yang membutuhkan tempat tinggal. Ada laundry yang mencuci pakaian mereka. Ada toko-toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.

Ekonomi Bergerak Seperti Lingkaran

Sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie merupakan pekerja IMIP. Bahkan, tanpa diminta, sebagian dari mereka ikut mempromosikan kedai itu melalui media sosial.

Barangkali begitulah sebuah usaha tumbuh: bukan hanya karena pemiliknya bekerja keras, tetapi juga karena ada banyak orang yang tanpa sadar ikut membesarkannya.

Yudi sendiri memiliki harapan yang lebih jauh. Ia ingin pertumbuhan Solusi Kopie ikut mendorong industri kopi Indonesia, sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi hasil produksi petani kopi dari berbagai daerah.

Dari sebuah rumah keluarga di Desa Keurea, secangkir kopi ternyata bisa menghubungkan begitu banyak tangan.

Dari Tujuh Transaksi Menjadi Ribuan

Cerita serupa datang dari sebuah tempat yang berbeda. Bukan kedai kopi, melainkan gerai layanan perbankan.

Andi Azis Taba, pemilik Agen BRILink Kost Azis asal Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, telah merasakan perubahan Bahodopi sejak satu dekade silam.

Ketika pertama datang, ia lebih dahulu melihat kebutuhan akan tempat tinggal. Ia membangun kos-kosan. Namun pertumbuhan jumlah pekerja kemudian menghadirkan kebutuhan lain: layanan transaksi perbankan yang mudah dijangkau.

Pada akhir 2016, Azis mengajukan diri menjadi agen BRILink. Gerainya mulai beroperasi pada Juli 2017. Hari pertama hanya ada tujuh transaksi.

Kini, dua gerai BRILink yang dikelolanya bisa melayani sekitar 2.000 hingga 2.500 transaksi setiap bulan, dengan nilai transaksi mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.

Lonjakan paling terasa ketika masa pembayaran gaji tiba. Pada saat itu, kebutuhan uang tunai meningkat. Azis bahkan beberapa kali harus pergi ke bank untuk menambah persediaan uang tunai di gerainya.

Sekitar 60-70 persen pelanggannya merupakan karyawan IMIP. Pertumbuhan itu pula yang membuatnya beberapa kali memperoleh apresiasi dari Bank BRI.

“Waktu volume transaksi mencapai sekitar 15.000 per bulan atau 500 per hari, saya dapat hadiah Honda Mobilio. Pernah juga dapat dua unit sepeda motor, dua unit mobil, dan emas,” tutur Azis.

Tetapi di balik penghargaan dan angka transaksi, ada sesuatu yang lebih penting: sebuah peluang yang dibaca dari perubahan kehidupan masyarakat.

Kini Azis kembali melihat peluang dari pertumbuhan IMIP. Ia berencana mencari lokasi yang lebih dekat dengan pusat aktivitas kawasan untuk mengembangkan layanan BRILink, sekaligus merintis usaha makanan dan minuman.

Ia tidak sekadar ingin bertahan. Ia sedang membaca ke mana Bahodopi bergerak.

Rumah-rumah yang Berubah Menjadi Tempat Pulang

Sore menjelang malam, cerita Bahodopi kembali menemukan bentuknya di tempat lain. Di kamar-kamar kos.

Mayoritas pekerja IMIP adalah perantau. Mereka datang dari berbagai daerah, meninggalkan rumah, keluarga, dan kampung halaman untuk bekerja. Bagi mereka, kos bukan sekadar bangunan dengan empat dinding. Kos itu rumah sementara. Tempat meletakkan pakaian setelah seharian bekerja. Tempat merebahkan badan ketika tubuh lelah. Tempat menunggu waktu sebelum kembali berganti sif.

Nasrudin, warga Desa Fatufia, sudah melihat kebutuhan itu sejak jauh sebelum Bahodopi seramai sekarang. Pada 2007, ketika BDM (Bintang Delapan Mineral) mulai hadir, ia menjadi orang pertama yang membangun kos-kosan di Fatufia. Lima kamar menjadi awalnya. Harga sewanya saat itu hanya sekitar Rp150 ribu per kamar.

“Usaha kos-kosan di Bahodopi itu, awalnya di Desa Fatufia di tahun 2007. Waktu adanya BDM, yang buat kos pertama itu, saya,” kenangnya.

Waktu berlalu. Kawasan industri berkembang. Jumlah pekerja bertambah. Nasrudin mendapatkan tambahan modal dari bank. Lima kamar yang dulu ia bangun kini berkembang menjadi 30 kamar.

Ia melihat satu pola sederhana. Semakin banyak orang datang untuk bekerja, semakin besar pula kebutuhan akan tempat tinggal.

“Makin bertambah karyawan, otomatis usaha kos-kosan kami semakin berkembang dan ramai juga,” ujarnya optimistis.

Tidak sedikit warga lokal yang kemudian melihat tanah sebagai modal untuk ikut menikmati pertumbuhan tersebut. Sebagian menjual lahan untuk membangun rumah kos.

Sebab di Bahodopi, orang yang datang bekerja harus memiliki tempat untuk tidur. Dan kebutuhan sederhana itu ternyata mampu menciptakan usaha.

Ekonomi yang Tumbuh dari Kebutuhan Sehari-hari

Survei UMKM Tim SGA PT IMIP mencatat, sektor kuliner menjadi salah satu sektor usaha terbesar di Bahodopi. Terdapat 2.107 unit usaha kuliner dari total 7.643 UMKM, termasuk 111 kafe dan restoran.

Angka-angka tersebut memperlihatkan sesuatu yang sering luput ketika pertumbuhan kawasan industri hanya dibaca melalui angka investasi, kapasitas produksi, atau jumlah smelter.

Di luar pagar kawasan industri, ada kehidupan lain yang ikut bergerak. Ada kopi yang diseduh. Ada uang yang ditransfer. Ada kamar yang disewakan. Ada pakaian yang dicuci. Ada makanan yang dimasak. Ada warung yang buka hingga larut malam. Ada kendaraan yang terus mengantar orang dan barang. Semua itu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang tumbuh bersama kawasan industri.

Selama 13 tahun terakhir, IMIP menyadari bahwa pembangunan ekosistem nikel terintegrasi—mulai dari pengolahan bijih, smelter, hingga rantai pasok energi—tidak akan lengkap tanpa inklusi sosial dan ekonomi di sekitarnya.

Karena itu, para kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, pelaku UMKM kuliner, pemilik kos, hingga berbagai usaha jasa menjadi bagian dari lanskap yang tidak terpisahkan dari kehidupan kawasan.

Bahodopi, Ketika Nikel Bertemu Manusia

Pada akhirnya, Bahodopi bukan hanya tentang nikel. Bahodopi bukan sekadar tentang pabrik, smelter, investasi, atau angka produksi. Kampung itu kini membawa harapan.

Bahodopi adalah tentang Yudi yang memilih menunda kuliah, untuk mempertahankan secangkir kopi yang pada awalnya bahkan tak memiliki pelanggan. Tentang Azis yang memulai dengan tujuh transaksi, lalu menyaksikan angka itu tumbuh menjadi ribuan transaksi setiap bulan. Tentang Nasrudin yang membangun lima kamar kos pada 2007 dan kini memiliki 30 kamar. Mereka adalah wajah lain dari pertumbuhan kawasan industri. Wajah yang mungkin tidak selalu terlihat dari dalam pabrik, tetapi terasa kuat di luar pagar kawasan.

Sebab setiap pekerja yang datang membawa kebutuhan. Dan setiap kebutuhan membuka peluang. Satu gelas kopi menghidupi pemasok. Satu transaksi menggerakkan layanan. Satu kamar memberi tempat pulang. Satu usaha melahirkan usaha lainnya.

Begitulah ekonomi Bahodopi berdenyut. Yang tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana, tetapi jumlahnya ribuan. Dan semuanya berputar karena ada manusia yang datang, bekerja, makan, minum, tinggal, bertransaksi, dan pulang membawa sebagian penghasilannya kepada keluarga.

Karena itu, potret Bahodopi tidak cukup dibaca dari produksi nikel atau besarnya nilai investasi. Bahodopi juga dapat dibaca dari uap kopi yang mengepul di gelas Yudi, ribuan transaksi yang dilayani Azis, dan 30 pintu kamar kos yang dibuka Nasrudin setiap hari.

Di situlah wajah lain pertumbuhan industri terlihat. Lebih dekat. Lebih manusiawi. Namun ada satu kalimat yang diam-diam menjadi penanda betapa eratnya hubungan itu. “IMIP tutup, selesai kita.” Yudi mengucapkannya sambil bercanda.

Tetapi mungkin, di balik tawa itu, tersimpan kesadaran sederhana: ketika sebuah kawasan industri tumbuh, yang ikut tumbuh bukan hanya pabriknya. Ada ribuan kehidupan yang menggantungkan harapan di sekelilingnya. Dan selama mesin-mesin itu terus bekerja, seduhan kopi pun akan terus mengepul. (*)

(Ruslan Sangadji)