Ruslan Sangadji | Kaidah.ID
Di balik kemudi taksi bernomor SE 4833, ia bukan hanya mengantarkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga membawa puluhan buku yang setiap pekan berganti dan terus mencari pembacanya sendiri
DARI kehilangan pekerjaan di industri pariwisata Bali akibat pandemi, Heri Siswanto justru menemukan jalan baru sebagai pengemudi Bluebird. Dari balik kemudi taksi, ia membawa misi sederhana: mempertemukan penumpang dengan buku dan mengubah waktu di tengah kemacetan menjadi kesempatan membaca.
Pandemi Covid-19 pernah membuat kehidupan pariwisata Bali seolah berhenti dalam sekejap. Hotel-hotel kehilangan tamu, restoran dan tempat wisata menjadi sepi, sementara jalan-jalan yang biasanya dipenuhi wisatawan dari berbagai penjuru dunia mendadak lengang.
Bagi banyak pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata, situasi tersebut bukan sekadar perubahan suasana. Pandemi menjadi persoalan tentang bagaimana mempertahankan kehidupan ketika sumber penghasilan tiba-tiba menghilang.
Di antara mereka adalah Heri Siswanto, pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1985. Ketika pandemi melanda, Heri bekerja sebagai Public Relations di LV 8 Resort Canggu, Bali.
Dunia komunikasi sebenarnya sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup Heri, jauh sebelum ia bekerja di industri perhotelan. Ia merupakan alumni jurusan Komunikasi, Public Relations LP3i Bandung dan pernah menjadi penyiar Qyu FM Radio di Bandung. Saat berada di Bali, selain menjalankan pekerjaannya di hotel, Heri juga masih aktif menyiar di Kuta Radio.
Namun, pandemi mengubah semuanya. Ketika pariwisata Bali berhenti dan hotel-hotel kehilangan pengunjung, pekerjaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya ikut terdampak. Heri pun harus mengambil keputusan untuk mencari pekerjaan lain agar tetap memiliki penghasilan.
Pada 2021, ia memilih menjadi pengemudi taksi Bluebird. Keputusan itu pada awalnya lebih banyak didorong oleh kebutuhan untuk bertahan hidup daripada sebuah rencana besar mengenai masa depan.
“Saya betah jadi pengemudi Bluebird, karena hasilnya lumayan,” kata Heri Siswanto, Jumat, 14 Agustus 2026 malam yang kebetulan menjadi penumpang.
Dari Balik Kemudi, Muncul Gagasan
Dari balik kemudi itulah kehidupan Heri kemudian menemukan babak baru. Pekerjaan sebagai pengemudi membuatnya kembali bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan menempatkannya dalam ruang yang dekat dengan dunia komunikasi.
Bedanya, kali ini ia tidak berhadapan dengan mikrofon radio atau tamu hotel, melainkan dengan penumpang yang datang dan pergi di dalam kabin sebuah taksi.
Di ruang yang relatif sempit itulah, muncul sebuah gagasan sederhana yang kemudian menjadi ciri khas Heri: membawa buku untuk dibaca penumpang.
Bagi penumpang yang pertama kali memasuki taksi Heri, pemandangan itu mungkin cukup mengejutkan. Di dalam kabin terdapat belasan buku dengan beragam jenis bacaan, mulai dari cerita anak-anak, novel, komik, hingga buku-buku yang membahas sejarah dan berbagai tema serius lainnya.
Taksi dengan nomor lambung SE 4833 itu, tidak hanya menjadi sarana transportasi yang mengantarkan penumpang menuju tempat tujuan. Kabin tersebut berubah menjadi semacam perpustakaan kecil yang bergerak mengikuti lalu lintas Jakarta.
Perpustakaan Mini yang Berjalan
Buku-buku tersebut bukan sekadar hiasan untuk membuat suasana kabin terlihat berbeda.
Heri memang sengaja menyediakannya, karena ingin memberikan kesempatan kepada penumpang untuk membaca selama perjalanan, terutama ketika mereka harus menghadapi kemacetan Jakarta.
“Saya sengaja menaruh buku di taksi, karena memang bertujuan mendorong literasi bagi penumpang saya,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut dijalankan Heri sejak 2021, tidak lama setelah ia mulai menjadi pengemudi Bluebird.
Setiap pekan, buku-buku yang berada di dalam taksinya diganti dengan koleksi lain yang dibawa dari rumah. Dengan cara itu, buku yang tersedia tidak terus-menerus sama, dan penumpang memiliki kesempatan menemukan bacaan yang berbeda dalam setiap perjalanan.
Di rumahnya di Dramaga, Bogor, Heri memiliki lebih dari 500 judul buku. Koleksi tersebut kemudian menjadi sumber bacaan yang secara bergantian dibawa ke dalam taksi.
Buku-buku berpindah dari rumah ke kabin taksi, kemudian berada di hadapan penumpang yang mungkin sebelumnya tidak memiliki rencana untuk membaca. Dari satu perjalanan ke perjalanan lainnya, koleksi itu terus berputar dan berpotensi menemukan pembaca yang berbeda.
Mengubah Waktu Macet Menjadi Waktu Membaca
Gagasan Heri sebenarnya berangkat dari sesuatu yang sangat sederhana. Ia melihat bahwa perjalanan dengan taksi, terutama di tengah kemacetan Jakarta, sering kali membuat penumpang hanya duduk dan menunggu waktu berlalu.
Karena itu, ia mencoba memberikan alternatif dengan menyediakan buku yang dapat dibaca selama perjalanan.

Kemacetan yang bagi sebagian orang merupakan sumber kejengkelan dan pemborosan waktu, diharapkan Heri dapat berubah menjadi kesempatan untuk membaca beberapa halaman.
Tidak ada kewajiban bagi penumpang untuk mengambil buku. Tidak ada pula aturan mengenai berapa banyak halaman yang harus dibaca.
Buku-buku tersebut hanya tersedia. Keputusan untuk membukanya sepenuhnya berada di tangan penumpang.
“Lumayan, bisa baca beberapa halaman,” kata Ny. Lisa Herlita (42), seorang penumpang taksi Bluebird yang dikemudikan Heri Siswanto dari Thamrin City menuju Stasiun Gondangdia, Jumat malam itu.
Menurut ibu rumah tangga tersebut, ia cukup sering menjadi penumpang taksi Bluebird. Namun, baru kali ini ia mendapatkan taksi yang menyediakan buku untuk dibaca selama perjalanan.
“Ini taksi perpustakaan mini,” ujarnya.
Buku yang Menemukan Pembacanya
Mungkin ada penumpang yang hanya membaca beberapa halaman sebelum tiba di tujuan. Ada pula yang sempat menyelesaikan satu bab.
Bisa jadi, ada penumpang yang menemukan sebuah buku yang kemudian membuatnya tertarik untuk mencari dan membacanya sampai selesai setelah perjalanan berakhir.
Bagi Heri, apa pun hasilnya, kesempatan untuk mempertemukan buku dengan pembaca sudah menjadi sesuatu yang berarti.
Ia tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah penumpang turun dari taksinya.
Ia tidak tahu apakah buku yang dibaca sebentar itu akan terus diingat, apakah judulnya akan dicari kembali, atau apakah kebiasaan membaca tersebut akan berlanjut setelah perjalanan selesai.
Namun, Heri memilih untuk tetap menyediakan buku. Sebab baginya, kesempatan kecil untuk mempertemukan seseorang dengan bacaan tetap memiliki arti. Karena itu, kebiasaan tersebut terus ia jalankan dari pekan ke pekan.
Mendapat Perhatian dari Ika Natassa
Apa yang dilakukan Heri akhirnya menarik perhatian lebih luas. Penulis Ika Natassa pernah me-mention kebiasaannya membawa buku ke dalam taksi melalui X dan Instagram. Cerita mengenai seorang pengemudi taksi yang menyediakan bacaan bagi penumpangnya itu kemudian sampai ke manajemen Bluebird.
Perhatian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Heri sebagai pengemudi. Pada 2024, ia mendapat penghargaan dari Bluebird dan dinobatkan sebagai pengemudi teladan.
Tidak berhenti sampai di sana, Heri juga dipercaya menjadi pembina bagi pengemudi-pengemudi lainnya, sebuah peran yang masih dijalaninya hingga sekarang.
Penghargaan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan Heri setelah pandemi.
“Alhamdulillah, itu penghargaan dari perusahaan yang sangat saya syukuri,” ungkapnya.
Jika pada awalnya ia masuk ke dunia transportasi, karena harus mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi, akibat berhentinya aktivitas pariwisata, pekerjaan tersebut kemudian justru memberinya ruang, untuk melakukan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar mengantarkan penumpang.
Komunikasi yang Berubah Bentuk
Ada semacam kesinambungan dalam perjalanan hidup Heri Siswanto. Dunia komunikasi yang pernah ia jalani melalui radio dan pekerjaan Public Relations tetap hadir, tetapi dalam bentuk yang berbeda.
Dulu ia berkomunikasi melalui suara di udara. Kini, ia berkomunikasi melalui buku yang diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau penumpang.
Tidak ada perpustakaan besar yang dibangun Heri. Tidak ada ruangan khusus dengan rak-rak tinggi. Tidak ada pula program literasi yang membutuhkan fasilitas besar. Ia hanya memanfaatkan ruang yang tersedia di dalam sebuah taksi dan koleksi buku yang dimilikinya di rumah.
Namun, dari ruang kecil itu, buku dapat bertemu dengan banyak orang yang mungkin tidak akan bertemu dengannya dalam keadaan lain.
Sebuah Taksi, Banyak Cerita
Setiap hari, taksi bergerak melewati berbagai ruas jalan Jakarta dan membawa penumpang dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Ada pekerja yang sedang menuju kantor, orang yang pulang setelah menjalani aktivitas seharian, keluarga, maupun penumpang yang sekadar membutuhkan kendaraan untuk mencapai tujuan.
Di antara perjalanan tersebut, selalu ada kemungkinan seseorang mengambil sebuah buku, membukanya, lalu membaca beberapa halaman.
Heri mungkin tidak mengetahui apa yang terjadi setelah penumpang turun dari taksinya. Tetapi ia memilih untuk tetap menyediakan buku karena percaya bahwa kebiasaan membaca dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bahkan dari sebuah perjalanan singkat.
“Memang Pak, niat dan tujuan saya untuk mendorong literasi bagi penumpang saya. Kalau ada yang membaca ya Alhamdulillah. Kalau ada yang sekadar lihat-lihat juga gak masalah,” tuturnya.
Dari Krisis Menjadi Kesempatan
Pandemi yang dahulu membuatnya kehilangan pekerjaan di Bali pada akhirnya justru membawa Heri ke jalan yang berbeda.
Dari kesulitan itu, ia menjadi pengemudi Bluebird dan menemukan ruang baru untuk meneruskan kecintaannya pada komunikasi sekaligus menumbuhkan budaya literasi.
Di balik kemudi taksi bernomor SE 4833, ia bukan hanya mengantarkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga membawa puluhan buku yang setiap pekan berganti dan terus mencari pembacanya sendiri.
Di tengah kemacetan Jakarta yang sering membuat perjalanan terasa panjang, Heri Siswanto menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi tidak biasa: kesempatan untuk mengubah waktu menunggu menjadi waktu membaca.
Sebab perjalanan, bagi Heri, rupanya tidak harus berhenti pada urusan sampai di tujuan.
Selama masih ada sebuah buku yang terbuka di kursi belakang, selalu ada kemungkinan bahwa perjalanan singkat di tengah padatnya Jakarta, akan membawa seseorang sedikit lebih jauh—bukan secara geografis, tetapi ke dunia lain yang terdapat di dalam halaman-halaman buku. (*)

Tinggalkan Balasan