Oleh: Ruslan Sangadji/KAIDAH.ID

Senin malam, 26 Mei 2025, sebuah episode ILC (Indonesia Lawyers Club) kembali mencuri perhatian publik. Mengusung tema satiris “Dulu Mulyono, Kini Mulyadi”, tayangan itu menyorot sosok Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, sekaligus mencuatkan perbandingan unik antara politisi dan pesulap.

Pernyataan legendaris datang dari sang pembawa acara, Karni Ilyas. Dalam nada santai namun penuh makna, ia melontarkan kalimat yang memancing refleksi:

“Politisi dan pesulap itu sama-sama pintar melakukan sesuatu yang orang tidak memerhatikannya. Mereka sangat lihai mengalihkan perhatian publik.”

“Atau jangan-jangan-jangan itu hanya kamuflase saja,” lanjut Karni Ilyas, menyiratkan adanya ilusi dalam politik.

Tak berhenti di sana, melalui akun X miliknya, Karni mengutip Ben Okri, novelis asal Nigeria-Inggris. Ben Okri, lahir pada 15 Maret 1959, di Minna, Nigeria, adalah seorang novelis, penulis cerita pendek, dan penyair Nigeria yang menggunakanrealisme magis untuk menyampaikan kekacauan sosial dan politik di negara kelahirannya.

“Politisi dan pesulap punya banyak kemiripan. Mereka sama-sama mampu mengalihkan perhatian orang-orang dari yang sebenarnya mereka kerjakan,” tulis Karni Ilyas.

Pernyataan itu menjadi benang merah dalam diskusi hangat ILC, yang menghadirkan sejumlah narasumber: Rocky Gerung, Ade Armando, Rudi S. Kamri, Mardiansyah Semar, dan Freddy Damanik.

POLITIK SIMBOLIK

Dedi Mulyadi dikenal sebagai politisi yang membangun karier dari bawah. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD, Bupati Purwakarta, anggota DPR RI, hingga kini Gubernur Jawa Barat. Gaya komunikasinya merakyat, kerap blusukan, dan dekat dengan warga, citra yang mengingatkan publik pada gaya Jokowi di awal kepemimpinannya.

Namun, dalam era politik digital seperti sekarang, pendekatan semacam itu semakin kompleks. Dedi tidak hanya tampil sebagai pejabat daerah, tetapi juga sebagai figur publik digital. Kanal YouTube miliknya memiliki lebih dari 7 juta subscriber, berisi konten sosial, kisah rakyat kecil, hingga kontroversi.

Salah satu kebijakan Dedi yang menyita perhatian adalah pengiriman siswa ‘nakal’ ke barak militer. Sebagian pihak menyebutnya bentuk disiplin sosial, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya sebagai pencitraan yang mengorbankan hak anak.

Rocky Gerung dalam diskusi menyorot kebijakan ini sebagai bagian dari politik simbolik. Rocky bilang: dalam teori komunikasi adalah, masyarakat doyan menonton kedangkalan. Teori itu disponsori oleh pikiran-pikiran Marxisme, yang menganggap bahwa ucapan dan penampilan itu komoditas.

“Jadi, kita hanya menonton orang menjual komoditas yang namanya penampilan. Visualisasi, bukan visi. Dedi Mulyadi melakukan itu,” katanya lugas.

Saya menilai, yang penting kelihatan tegas. Bukan benar-benar menyelesaikan akar persoalan.

Analogi Karni Ilyas soal politisi dan pesulap di ILC itu, ternyata tidak sekadar satire. Dalam literatur komunikasi politik, dikenal istilah distraction strategy, sebuah teknik untuk mengalihkan perhatian publik dari isu krusial ke narasi yang lebih menarik secara emosional.

Pesulap menggunakan ilusi untuk menghibur, sedangkan politisi menggunakan ilusi untuk membentuk persepsi. Trik-trik politik dilakukan melalui narasi populis, penciptaan musuh bersama, atau dramatisasi kebijakan yang viral. Tujuannya: menguasai narasi, bukan menyelesaikan persoalan.

Politik hari ini adalah soal emosi, bukan data. Kita hidup di zaman visual. Yang viral, yang emosional, itulah yang dipercaya.

Dedi Mulyadi, dalam hal ini, memainkan peran ganda: pemimpin daerah sekaligus influencer politik. Dalam algoritma media sosial, ia memahami betul bahwa citra visual lebih menjual ketimbang uraian kebijakan panjang.

Namun, keberhasilan membangun narasi digital tidak selalu sejalan dengan keberhasilan dalam menjalankan pemerintahan. Politik bukan panggung sulap. Ilusi di dunia politik dapat berdampak langsung pada kebijakan publik, anggaran, dan nasib warga.

Pesulap bekerja di dunia hiburan. Politisi bekerja di ranah realitas sosial. Ketika pesulap gagal, yang terjadi adalah kekecewaan sesaat. Tapi ketika politisi gagal, yang terkena dampaknya adalah masyarakat luas.

Karni Ilyas, melalui satire-nya, sesungguhnya sedang mengajak publik untuk lebih waspada. Di era konten viral dan manipulasi citra, masyarakat tidak cukup hanya terhibur. Mereka harus cermat membaca mana realitas dan mana manipulasi.

Panggung politik saat ini hampir menyerupai panggung pertunjukan. Siapa yang menguasai kamera, menguasai frame. Namun substansi tetaplah ukuran utama kepemimpinan.

Pernyataan Karni Ilyas menjadi pengingat keras, bahwa demokrasi membutuhkan publik yang kritis. Bukan sekadar penonton, tetapi juga penilai. Karena dalam politik, siapa yang mengendalikan narasi, sering kali juga mengendalikan arah kebijakan.

Akhirnya, tayangan ILC yang saya nonton ini, bukan sekadar hiburan atau debat. Ia menjadi refleksi tentang masa depan politik Indonesia. Apakah kita akan terus terpukau oleh gaya, atau mulai menuntut substansi? Apakah kita akan puas dengan ilusi, atau menuntut perubahan nyata?

Itu semua bergantung pada kita, para penonton…. yang sesungguhnya adalah pemilik panggung demokrasi. (*)