Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID

SABTU SIANG, 30 Mei 2026, di Megamendung yang berhawa sejuk, suasana akhir pekan berjalan tenang. Langit tampak cerah dengan awan tebal yang melintas di atas perbukitan. Di dalam rumah, saya sedang bersantai menikmati sebuah film di Netflix, membiarkan cerita di layar mengalir pelan mengisi waktu.

Namun, perhatian saya beberapa kali teralihkan oleh suara riuh dari halaman depan.

Sekelompok anak kecil berusia sekitar empat dan lima tahun sedang bermain bersama. Mereka berlarian tanpa lelah, seolah memiliki persediaan energi yang tidak akan pernah habis.

Kadang mereka saling kejar, kadang tertawa karena hal-hal yang hanya dipahami oleh dunia anak-anak. Suara sandal kecil yang menghentak tanah bercampur dengan gelak tawa mereka menciptakan irama khas siang hari di kampung.

MAS BAHLIL GUANTENG

Yang paling menarik adalah lagu yang mereka nyanyikan berulang-ulang sambil berlari.

“MBG, Mas Bahlil Guanteng…”

Lalu disambung dengan pertanyaan yang mereka lantunkan bersama:

“Buah apa yang paling manis?”

Dan dengan kompak mereka menjawab sendiri:

“Buahlil!”

Setelah itu mereka kembali tertawa dan terus bermain. Beberapa anak mengulanginya lagi, kali ini dengan nada yang berbeda, lebih keras, lebih lucu, seolah sedang menampilkan pertunjukan besar di hadapan penonton imajiner.

Lagu berjudul: Bahlil My Bolu Ketan itu bukan lagi sekadar celetukan netizen. Dalam beberapa waktu terakhir, potongan lirik tersebut telah menjadi viral di berbagai media sosial. Dari video pendek, meme, unggahan kreator konten, hingga percakapan sehari-hari, lagu itu telah menembus batas usia, dan menjadi bagian dari budaya populer yang dikenali banyak orang.

LUCU DAN MUDAH DIINGAT

Nama yang disebut dalam lagu itu merujuk pada Bahlil Lahadalia. Salah satu tokoh yang cukup menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Selain menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ia juga memimpin Partai Golkar sebagai Ketua Umum.

Sosoknya yang sering muncul dalam pemberitaan media arus Utama dan media sosial, membuat namanya semakin akrab di telinga masyarakat, termasuk menjadi bahan berbagai meme, parodi, dan lagu-lagu viral yang beredar di internet.

Menariknya, ketika lagu viral sampai ke anak-anak usia empat dan lima tahun, bentuknya menjadi berbeda. Mereka tidak peduli siapa yang pertama kali membuatnya atau bagaimana asal-usulnya.

Mereka bahkan mungkin belum memahami siapa Bahlil Lahadalia atau apa tugas seorang menteri. Mereka hanya tahu bahwa lagu itu lucu, mudah diingat, dan menyenangkan untuk dinyanyikan bersama.

Bagi mereka, lagu tersebut bukan fenomena internet ataupun bagian dari dunia politik, melainkan permainan yang membuat teman-temannya tertawa.

Saya memerhatikan bagaimana mereka menyanyikannya dengan antusias, meskipun beberapa kata kadang terdengar kurang jelas, atau berubah sesuai cara pengucapan mereka. Tidak ada yang mempersoalkan ketepatan lirik. Yang penting adalah keseruan saat meneriakkannya bersama-sama.

Setiap kali sampai pada bagian yang dianggap paling lucu, mereka langsung tertawa dan berlari semakin kencang, seolah lagu itu memberikan tambahan energi yang tidak ada habisnya.

FENOMENA RUANG DIGITAL

Pemandangan itu membuat saya berpikir, tentang bagaimana budaya populer bergerak pada zaman sekarang. Dahulu sebuah lagu, slogan, atau lelucon mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal luas.

Kini, dalam hitungan hari atau minggu, sebuah potongan kalimat dapat menyebar ke seluruh negeri melalui telepon genggam dan media sosial.

Dari kota besar hingga daerah pegunungan seperti Megamendung, dari orang dewasa hingga anak-anak yang bahkan belum masuk sekolah dasar, semua bisa mengenal referensi yang sama. Fenomena yang lahir di ruang digital dapat dengan cepat berubah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Namun ketika sampai di halaman rumah siang itu, segala hiruk-pikuk dunia digital seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah sekelompok anak kecil, yang memanfaatkan lagu yang sedang viral sebagai bagian dari permainan mereka.

Mereka tidak sedang membuat konten. Tidak sedang mengejar jumlah tayangan atau tanda suka. Mereka hanya menikmati momen bersama teman-temannya, menggunakan lagu yang kebetulan sedang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Di dalam rumah, film yang saya tonton terus berjalan. Tetapi perhatian saya berkali-kali teralihkan ke luar. Ada sesuatu yang menarik, ketika melihat sebuah fenomena yang awalnya lahir di media social, akhirnya menjadi bagian dari kehidupan nyata.

Lagu yang mungkin pertama kali saya dengar dari TikTok itu, kini bergema di halaman rumah, dinyanyikan oleh anak-anak yang berlari tanpa beban di bawah langit Megamendung.

Menjelang sore, ketika udara mulai semakin dingin dan bayangan pepohonan memanjang di tanah, suara nyanyian itu masih terdengar. Mereka masih mengulang lagu yang sama, masih tertawa pada bagian yang sama, dan masih berlari dengan semangat yang sama.

Saat itulah saya menyadari bahwa ukuran keberhasilan sebuah lagu viral, mungkin bukan hanya jumlah tayangan atau banyaknya unggahan yang dibuat orang. Kadang ukurannya jauh lebih sederhana: ketika lagu itu keluar dari layar ponsel, masuk ke kehidupan sehari-hari, dan menjadi bagian dari keceriaan anak-anak, yang bermain di halaman rumah pada sebuah siang hingga sore yang tenang di Megamendung.

Dan pada akhirnya, anak-anak itu pun tak peduli siapa sebenarnya sosok yang disebut dalam lagu tersebut. Mereka tidak memikirkan jabatan Menteri ESDM, tidak pula memahami posisi Ketua Umum Golkar. Yang mereka tahu hanyalah bahwa lirik itu terdengar lucu, mudah diingat, dan selalu berhasil mengundang tawa.

Bagi mereka, yang penting satu hal: mereka happy.

LIRIK LAGU BAHLIL MY BOLU KETAN

MBG
Mas Bahlil Ganteng
Buah apa?
Yang paling manis
BUAAAHLILLLL
Tambah ganteng aja
My little bolu ketan

Ups kanda suka dinda punya gaya
Sialan dia
Makin lucu guys
Kalau diperhatiin lama-lama mirip
ZAYN MALIK IHH
My Bahlil Ganteng
Makin glowing ajanih
My Koko Bahlil kecintaanku. (*)