Oleh: Ruslan Sangadji / Kepala Sekretariat & Jubir TKD Prabowo-Gibran Sulteng 2024

DALAM POLITIK, tidak ada yang benar-benar mustahil. Musuh bisa menjadi sekutu, rival bisa duduk semeja, dan perbedaan dapat berubah menjadi kekuatan baru ketika kepentingan bangsa dianggap lebih besar daripada ego politik.

Karena itu, saya membayangkan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan (kita beri singkatan Pro-Anies) berada dalam satu barisan pada Pilpres 2029, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mustahil. Justru, skenario itu bisa menjadi salah satu konfigurasi politik paling menarik dalam sejarah demokrasi Indonesia modern.

Prabowo adalah simbol ketegasan negara, nasionalisme, dan kepemimpinan yang lahir dari tradisi militer serta politik kebangsaan. Sementara Anies hadir dengan citra intelektual, narasi perubahan, dan kemampuan memainkan bahasa moral-politik yang kuat di ruang publik. Selama ini, keduanya sering dipersepsikan berada di jalur politik berbeda, bahkan basis pendukung mereka kerap berhadap-hadapan. Di sinilah Pro- Anies menemukan substansinya.

Namun justru di situlah letak daya tariknya. Jika dua arus besar (Pro-Anies) itu bertemu, maka yang lahir bukan sekadar koalisi elektoral, melainkan sebuah rekonsiliasi politik nasional.

Dua Lapis Kekuatan

Bila Prabowo menjadi calon presiden dan Anies menjadi wakil presiden pada 2029, publik tentu akan membaca pasangan ini dalam dua lapis.

Lapis pertama adalah kebutuhan strategis untuk memenangkan kontestasi. Prabowo memiliki jejaring kekuasaan, struktur partai, pengalaman pemerintahan, dan basis nasionalis yang kuat. Anies memiliki magnet elektoral di kelompok pemilih perubahan, kelas menengah perkotaan, serta kalangan intelektual dan religius. Jika digabungkan, pasangan ini bisa menjangkau spektrum pemilih yang sangat luas.

Namun lapis kedua jauh lebih menarik: kemungkinan bahwa posisi wakil presiden, menjadi ruang pematangan nasional bagi Anies menuju kepemimpinan berikutnya.

Bukan Sekadar Pendamping

Dalam konteks itu, posisi cawapres bukan namun fase konsolidasi pengalaman kenegaraan. Anies akan “belajar langsung” dari pusat kekuasaan nasional, memahami kompleksitas geopolitik, ekonomi global, pertahanan, dan tata kelola negara secara utuh.

Model seperti ini lazim terjadi di banyak negara: seorang tokoh besar dipersiapkan melalui pengalaman eksekutif, sebelum benar-benar maju sebagai pemimpin utama.

Bayangan itu mengingatkan saya pada serial drama politik Amerika (2016), Designated Survivor, karya David Guggenheim. Dalam serial tersebut, tokoh Tom Kirkman yang diperankan Kiefer Sutherland, awalnya hanyalah Menteri Perumahan dan Pengembangan Kota Amerika Serikat.

Ia ditempatkan di lokasi rahasia sebagai “designated survivor”, sosok cadangan yang disiapkan apabila terjadi keadaan darurat nasional. Ketika ledakan besar dalam acara kenegaraan menewaskan Presiden Amerika Serikat dan seluruh garis suksesi kepresidenan, Tom Kirkman mendadak dijemput dan dilantik menjadi presiden.

Dari titik itulah turbulensi politik dimulai. Konspirasi, tekanan elite, konflik keamanan, hingga serangan politik datang bertubi-tubi. Namun Tom Kirkman tidak menyerah. Ia membangun tim yang kuat, menghadapi krisis satu demi satu, dan perlahan mendapatkan kepercayaan rakyat Amerika.

Sosok Kirkman digambarkan sebagai pemimpin yang tenang, bijaksana, tetapi tetap tegas. Ia tidak hanya menghadapi persoalan geopolitik dan militer dunia, tetapi juga mendengarkan keresahan rakyat kecil di dalam negeri. Kepemimpinannya lahir bukan semata dari ambisi, melainkan dari proses dan pengalaman menghadapi krisis negara.

Kesediaan Anies dan Negarawan Prabowo

Tetapi pertanyaan paling penting justru ada pada Anies sendiri: apakah ia bersedia?

Sebab selama ini, Anies dikenal sebagai figur dengan daya kepemimpinan yang kuat dan basis pendukung, yang melihatnya sebagai “capres”, bukan “cawapres”. Di titik inilah ujian kedewasaan politik muncul. Kadang dalam politik, langkah mundur satu tahap, justru bisa menjadi lompatan besar pada periode berikutnya.

Jika Anies melihat jabatan wakil presiden, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memimpin Indonesia secara lebih matang, maka peluang itu bisa saja dipertimbangkan.

Di sisi lain, bagi Prabowo, menggandeng Anies juga akan menunjukkan kapasitas besar sebagai negarawan. Setelah pertarungan dan polarisasi panjang dalam politik nasional, Indonesia membutuhkan persatuan elite dan rekonsiliasi nasional yang lebih dalam.

Prabowo bisa dikenang, bukan hanya sebagai pemimpin kuat, tetapi juga sebagai figur yang membuka jalan regenerasi kepemimpinan nasional secara elegan.

Dari Polarisasi ke Konsolidasi

Tentu saja skenario ini tidak mudah. Akan ada resistensi dari elite partai, ketegangan di antara basis pendukung, hingga pertanyaan mengenai pembagian pengaruh politik. Pendukung Prabowo belum tentu nyaman dengan Anies, begitu pula sebaliknya. Tapi nantinya bisa bersatu dalan barisan Pro-Anies 2029.

Namun sejarah politik Indonesia menunjukkan, bahwa publik sering kali lebih cepat berdamai dibanding elite politiknya sendiri. Ketika rakyat melihat harapan stabilitas, persatuan, dan arah masa depan yang jelas, sekat-sekat politik perlahan bisa mencair.

Pada akhirnya, politik bukan hanya soal siapa melawan siapa, tetapi juga tentang siapa yang mampu membaca momentum sejarah. Jika suatu hari, Prabowo dan Anies (Pro-Anies) benar-benar berdiri di panggung yang sama pada Pilpres 2029, maka itu bukan sekadar koalisi biasa. Itu bisa menjadi simbol, bahwa politik Indonesia sedang bergerak dari era polarisasi menuju era konsolidasi besar nasional. (*)

Wallahu A’lam