Oleh Salihudin | Redaktur Ahli Kaidah.ID

Imam Shamsi Ali, anak kampung dari Kajang yang kini hidup di tengah gemerlap New York, mengingatkan bahwa di balik kemajuan material selalu ada persoalan manusia yang kompleks

DUA hari sebelumnya, saya memang sudah berniat menghadiri kegiatan Subuh Berkah di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng). Apalagi istri saya seorang ASN yang atasan tertingginya merupakan penyelenggara kegiatan tersebut. Apalagi di sana juga ada absensi. Dan apalagi, ini yang terakhir dari sekian banyak kata apalagi, penceramahnya istimewa.

Datang dari Amerika Serikat. Tepatnya New York, kota yang sering disebut sebagai ibu kota kapitalisme dunia. Siapa lagi kalau bukan Imam Shamsi Ali.

Seorang anak kampung dari Kajang, Sulawesi Selatan, yang sudah puluhan tahun menetap di Amerika. Menjadi imam, berdakwah, dan hidup di tengah masyarakat kosmopolitan yang sangat beragam.

Malam sebelum kegiatan, saya dan istri sudah bersepakat untuk bangun pukul 03.30. Itulah jam kebiasaan kami apabila hendak mengikuti kegiatan serupa di Kantor Gubernur.

Benar saja, istri membangunkan saya.

Sebenarnya saya mendengar. Tetapi dalam perkiraan saya, waktu masih sekitar pukul tiga. Lagi pula, tidur sedang enak-enaknya. Maka panggilan itu saya biarkan berlalu. Pura-pura tidak mendengar.

Entah berapa lama kemudian, saya tersentak. Tangan langsung meraih telepon genggam.

Upss… sudah pukul 04.35!

Artinya, sebentar lagi adzan Subuh. Atau mungkin sudah adzan.

“Masih dapat kita salat di Kantor Gubernur?” tanya istri.

“Masih. Biasanya salat Subuh dimulai jam lima,” jawab saya, sedikit meyakinkan diri sendiri.

Kami pun segera bersiap di kamar mandi masing-masing. Kebetulan, rumah kami memiliki kamar mandi terpisah sehingga kami bisa bersiap secara bersamaan tanpa harus mengantre.

Namun setelah mempertimbangkan waktu yang semakin sempit, istri mengusulkan sesuatu.

“Kita shalat berjamaah di rumah saja.”

Saya setuju. Daripada harus mengendarai mobil tergesa-gesa mengejar salat berjamaah di Kantor Gubernur, lebih baik shalat di rumah dengan tenang.

Selesai shalat, saya tidak berdzikir terlalu panjang. Waktu terus berjalan. Saya mengambil kunci kendaraan, memeriksa beberapa peralatan listrik yang masih terhubung ke stopkontak, lalu bersiap berangkat.

“Lampu teras tidak usah dimatikan. Masih gelap,” kata saya kepada istri.

Mesin mobil saya hidupkan. Saya menunggu sebentar sampai indikator kendaraan menunjukkan kondisi siap berjalan.

Mobil saya keluarkan perlahan dengan posisi mundur. Istri kemudian menutup pagar yang sebelumnya sudah saya buka. Setelah memastikan pintu rumah terkunci, kami berangkat.


Benar saja. Ketika tiba di Kantor Gubernur, jamaah Subuh Berkah masih melaksanakan shalat berjamaah.

Saya memarkir mobil di halaman belakang. Dari sana kami berjalan menuju halaman depan, tempat kegiatan berlangsung.

Kami memilih duduk di tangga teras kantor. Kebetulan sudah ada beberapa teman yang kami kenal duduk di sana. Sementara jamaah lainnya masih memenuhi halaman depan, duduk rapi mengikuti rangkaian acara.

Di bagian depan MC menyebutkan para tamu undangan, termasuk Gubernur, unsur Forkopimda, dan tentu saja penceramah yang sejak awal ingin saya dengarkan.

Pembawa acara mulai membuka kegiatan. Sejumlah sambutan disampaikan, termasuk oleh Kapolda Sulteng yang baru. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Nabi. Semua jamaah berdiri, termasuk kami yang sejak tadi duduk di tangga teras.

Setelah beberapa rangkaian acara, tibalah bagian yang saya tunggu. Ceramah agama oleh Imam Shamsi Ali, Ph.D., seorang imam dan pendakwah yang telah lama berkiprah di New York.

Sebenarnya, pokok ceramah yang disampaikan pagi itu, tidak jauh berbeda dengan yang saya dengarkan sehari sebelumnya ketika beliau berceramah Subuh di sebuah masjid di Lolu, Palu.

Namun ada satu bagian yang kembali menarik perhatian saya.

Tentang Amerika.

Menurut Imam Shamsi Ali, Amerika Serikat sampai sekarang masih merupakan negara dengan kekuatan ekonomi yang sangat besar dan pengaruh politik yang menentukan dalam hubungan internasional.

Tetapi di balik kekuatan itu, menurut beliau, Amerika sedang menghadapi persoalan yang sangat serius. Bahkan beliau menggunakan istilah yang cukup keras: Amerika sedang menuju kehancurannya.

Tentu pernyataan ini menarik. Bagaimana mungkin negara yang memiliki kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan pengaruh global sedemikian besar justru sedang menuju kehancuran?

Penjelasan beliau ternyata tidak dimulai dari utang negara, defisit perdagangan, persaingan dengan Tiongkok, atau kemunduran hegemoni Amerika dalam politik dunia.

Beliau justru bercerita tentang manusia.

Tentang orang-orang yang hidup di New York.

Dengan gaya bercerita yang sederhana, kadang seperti menggambar karikatur kehidupan sosial, beliau menggambarkan banyaknya orang yang dijumpai di jalanan New York dengan kehidupan yang tidak menentu. Sebagian menghadapi gangguan kesehatan mental, sebagian lainnya hidup dalam kesendirian dan keterasingan.

Imam Shamsi Ali juga menceritakan sebuah rumah sakit yang, menurut pengalamannya, memiliki fasilitas bertingkat untuk menangani pasien dengan gangguan mental.

Bahkan beliau mengisahkan seorang pasien yang masih muda dan berprofesi sebagai dokter.

Bayangkan. Seorang dokter, yang sehari-hari bekerja dalam dunia kesehatan, ternyata juga dapat mengalami persoalan kesehatan mental yang serius.

Tentu saja profesi dan pendidikan tinggi tidak membuat seseorang kebal terhadap gangguan mental. Justru di situlah menariknya cerita tersebut.

Kemajuan ilmu pengetahuan ternyata tidak otomatis menjamin ketenteraman batin manusia.

Dari pengalaman-pengalaman itulah Syamsi Ali menarik kesimpulan bahwa Amerika menghadapi krisis yang tidak cukup dibaca melalui angka pertumbuhan ekonomi atau keunggulan teknologinya.

Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni kesehatan mental dan kehidupan spiritual masyarakatnya.

Bagi beliau, di sinilah dakwah Islam menemukan relevansinya.

Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran ritual, tetapi juga menawarkan pegangan hidup, ketenangan batin, makna keberadaan manusia, dan hubungan dengan Tuhan.

Beliau bercerita bahwa dalam perjalanan dakwahnya di Amerika, ada orang-orang yang kemudian tertarik mempelajari Islam dan akhirnya memeluk agama ini.

Salah satu pengalaman yang beliau kemukakan berkaitan dengan peristiwa 11 September 2001.

Serangan terhadap World Trade Center justru membuat sebagian masyarakat Amerika semakin ingin mengetahui Islam. Menurut kisah beliau, permintaan terhadap Al-Qur’an meningkat sedemikian rupa hingga persediaannya di sejumlah toko buku dan layanan penjualan daring sempat habis.

Dalam pandangan Imam Shamsi Ali, ada hikmah yang bisa muncul dari sebuah peristiwa yang sangat buruk. Rasa ingin tahu terhadap Islam meningkat, sekalipun pemicunya adalah tragedi kemanusiaan yang mengerikan.

Beliau melihatnya sebagai salah satu cara Allah menghadirkan kebaikan melalui peristiwa yang tidak pernah dibayangkan manusia.

Dengan demikian, ketika Imam Shamsi Ali mengatakan Amerika sedang menuju kehancuran, yang terutama beliau maksudkan bukanlah kehancuran ekonomi atau keruntuhan kekuasaan politiknya.

Yang beliau khawatirkan adalah kerusakan manusia dari dalam. Masyarakat bisa semakin kaya, negara bisa semakin kuat, tetapi sebagian warganya justru kehilangan ketenangan, arah, dan makna hidup.


Saya mendengarkan bagian ini dengan cukup serius.

Bahkan sempat berpindah tempat duduk. Bukan karena posisi sebelumnya kurang nyaman, tetapi karena beberapa ibu di dekat saya sedang asyik berbincang sendiri. Suara mereka cukup mengganggu konsentrasi.

Padahal saya ingin menangkap dengan baik penjelasan Shamsi Ali, terutama ketika beliau berbicara mengenai kontradiksi kehidupan masyarakat Amerika.

Sebenarnya, kalau kita mau membawa cerita beliau ke wilayah yang lebih akademis, persoalan mengenai kemunduran Amerika bukanlah sesuatu yang baru dibicarakan.

Sudah cukup banyak ilmuwan sosial, ekonom, dan sejarawan yang menulis tentang kemungkinan melemahnya Amerika sebagai kekuatan dunia. Hanya saja, mereka melihatnya dari sudut yang berbeda-beda.

Saya teringat buku Paul Kennedy, The Rise and Fall of the Great Powers, yang terbit pada 1987. Kennedy menjelaskan bahwa kekuatan besar dalam sejarah dunia tidak selalu bertahan selamanya. Ada masa ketika kekuatan ekonomi, ambisi politik, dan beban militernya tidak lagi berjalan seimbang.

Sebuah negara dapat menjadi begitu kuat, tetapi justru kekuatan itu menciptakan beban yang semakin sulit dipertahankan. Kennedy menyebut persoalan ini dalam kerangka imperial overstretch, ketika komitmen strategis sebuah negara melampaui kemampuan sumber daya yang menopangnya.

Dalam konteks Amerika, pemikiran Kennedy menarik karena negara itu memiliki kepentingan dan komitmen keamanan di hampir seluruh kawasan dunia. Tetapi tentu saja, teori Kennedy bukan bukti bahwa Amerika pasti akan runtuh.

Ada pula Robert D. Putnam, ilmuwan politik dari Harvard, yang menulis buku Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community pada tahun 2000.

Putnam tidak terutama berbicara tentang kekuatan militer atau persaingan ekonomi global. Ia justru menyoroti sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: melemahnya hubungan sosial masyarakat Amerika.

Orang-orang semakin kehilangan keterlibatan dalam organisasi sosial, komunitas, dan kegiatan bersama. Ikatan sosial yang dahulu mempertemukan warga perlahan mengalami kemunduran.

Dalam istilah ilmu sosial, yang melemah adalah social capital atau modal sosial.

Padahal modal sosial merupakan salah satu fondasi penting kehidupan masyarakat. Kepercayaan, solidaritas, dan kebiasaan bekerja sama tidak bisa digantikan begitu saja oleh kemajuan teknologi atau peningkatan pendapatan.

Saya kira pemikiran Putnam mulai bersentuhan dengan cerita Imam Shamsi Ali. Keduanya, meskipun berangkat dari pendekatan berbeda, mengingatkan bahwa kualitas kehidupan masyarakat tidak cukup diukur dari kekayaan material.

Yang satu melihat melemahnya ikatan sosial. Yang lain menyaksikan kegelisahan manusia dalam kehidupan modern.

Ada lagi buku yang menurut saya lebih dekat dengan persoalan yang disampaikan Imam Shamsi Ali, yaitu Deaths of Despair and the Future of Capitalism, karya Anne Case dan Angus Deaton, yang diterbitkan pada 2020.

Deaton adalah ekonom penerima Nobel Ekonomi 2015. Bersama Case, ia meneliti fenomena yang mereka sebut deaths of despair, atau kematian akibat keputusasaan.

Fenomena ini mencakup kematian akibat bunuh diri, overdosis obat-obatan, dan penyakit yang berkaitan dengan konsumsi alkohol. Mereka menemukan persoalan serius terutama pada kelompok masyarakat Amerika dengan tingkat pendidikan dan kesempatan ekonomi yang lebih terbatas.

Menariknya, Case dan Deaton tidak semata-mata menjelaskan persoalan tersebut sebagai masalah individual. Mereka menghubungkannya dengan perubahan struktur ekonomi, hilangnya pekerjaan yang memberikan penghidupan layak, ketimpangan, dan melemahnya kedudukan sosial sebagian masyarakat pekerja.

Dengan kata lain, kemajuan kapitalisme ternyata tidak selalu memberikan kesejahteraan yang merata. Ada kelompok yang menikmati kemajuan luar biasa, tetapi ada pula yang semakin kehilangan harapan.

Di sinilah saya melihat titik pertemuan yang menarik antara cerita seorang imam dengan penelitian para ekonom.

Syamsi Ali melihat persoalan dari pengalaman dakwah dan kehidupan spiritual manusia. Sementara Case dan Deaton melihatnya melalui data ekonomi, kesehatan, dan struktur sosial.

Keduanya tidak identik. Gangguan kesehatan mental juga tidak dapat begitu saja disamakan dengan krisis spiritual. Tetapi keduanya membuka ruang pertanyaan yang sama: mengapa masyarakat yang hidup di negara sangat kaya masih dapat mengalami penderitaan yang begitu mendalam?

Tiga buku tersebut tentu tidak sedang membuktikan bahwa Amerika akan segera hancur. Paul Kennedy berbicara tentang keseimbangan kekuatan ekonomi dan militer. Putnam meneliti kemerosotan modal sosial. Case dan Deaton membahas penderitaan manusia yang berkaitan dengan ketimpangan dan perubahan ekonomi.

Namun jika ketiganya dibaca bersama, kita menemukan satu pelajaran penting. Kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya produk domestik bruto, kecanggihan persenjataan, atau penguasaan teknologi.

Ada fondasi lain yang tidak kalah penting, yakni kualitas kehidupan sosial dan manusia yang membentuk negara tersebut.


Saya kira di sinilah cerita Imam Shamsi Ali perlu ditempatkan secara proporsional.

Amerika memang menghadapi berbagai persoalan sosial. Tetapi terlalu jauh jika kita langsung menyimpulkan bahwa negara itu akan hancur hanya karena tingginya persoalan kesehatan mental.

Bahkan, semakin banyaknya orang yang memperoleh layanan kesehatan mental tidak selalu berarti masyarakatnya semakin sakit. Bisa jadi kesadaran untuk mencari pertolongan semakin tinggi dan fasilitas kesehatannya semakin mudah diakses.

Begitu pula dengan spiritualitas. Agama dapat memberikan makna, dukungan sosial, dan ketenangan bagi banyak orang. Namun gangguan mental juga memiliki dimensi biologis, psikologis, dan sosial yang memerlukan penanganan profesional. Pendekatan spiritual dapat menjadi pendamping, bukan pengganti seluruh pelayanan kesehatan.

Maka bagi saya, ungkapan Shamsi Ali tentang kehancuran Amerika lebih tepat dibaca sebagai sebuah peringatan moral daripada kesimpulan ilmiah tentang masa depan negara itu.

Tetapi peringatan moral tersebut tetap penting.

Sebab kita memang sering terpesona pada ukuran-ukuran material kemajuan. Negara dianggap berhasil apabila ekonominya tumbuh, investasinya meningkat, infrastrukturnya bertambah, dan teknologinya semakin canggih.

Semua itu tentu penting. Tidak ada alasan untuk meremehkan kemajuan ekonomi.

Hanya saja, pertanyaan berikutnya sering terlupakan: apakah manusia yang hidup di tengah kemajuan itu juga semakin bahagia?

Pertanyaan tersebut sesungguhnya tidak hanya berlaku bagi Amerika.

Indonesia pun perlu merenungkannya.

Kita sedang berusaha menjadi negara maju. Kita membangun kawasan industri, mempercepat hilirisasi, menarik investasi, memperluas infrastruktur, dan mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Tetapi jangan sampai dalam perjalanan menuju kemajuan itu kita justru mengabaikan kualitas kehidupan manusia.

Jangan sampai pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi hubungan sosial melemah. Jangan sampai kota-kota semakin megah, tetapi warganya semakin terasing. Jangan sampai pendapatan meningkat, tetapi ketenangan hidup justru semakin sulit diperoleh.

Saya teringat bahwa dalam ilmu ekonomi pembangunan, kemajuan memang tidak lagi cukup dipahami hanya sebagai pertambahan pendapatan. Amartya Sen, misalnya, mengingatkan bahwa pembangunan juga berkaitan dengan perluasan kebebasan dan kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga.

Dengan cara pandang seperti itu, kesehatan, pendidikan, hubungan sosial, rasa aman, dan kesempatan menjalani kehidupan yang bermakna merupakan bagian penting dari pembangunan.

Bukan sekadar pelengkap setelah pertumbuhan ekonomi tercapai.


Pagi itu, saya datang ke Kantor Gubernur dengan niat mendengarkan ceramah seorang imam yang telah puluhan tahun hidup di Amerika. Imam Shamsi Ali.

Saya datang sedikit terlambat. Bahkan salat Subuh berjamaah terpaksa kami lakukan di rumah. Saya juga harus berpindah tempat duduk karena terganggu percakapan beberapa jamaah.

Tetapi rupanya ada sesuatu yang cukup berharga saya bawa pulang dari ceramah Imam Syamsi Ali.

Bukan tentang kapan Amerika akan hancur. Saya sendiri tidak percaya bahwa masa depan sebuah negara dapat diramalkan hanya dari beberapa gejala sosial.

Yang saya bawa pulang justru sebuah pertanyaan mengenai hakikat kemajuan manusia.

Imam Shamsi Ali, anak kampung dari Kajang yang kini hidup di tengah gemerlap New York, mengingatkan bahwa di balik kemajuan material selalu ada persoalan manusia yang kompleks. (*)