TERORISME MASIH ADA. Terorisme kerap dibayangkan sebagai sesuatu yang jauh, keras, mencolok, dan mudah dikenali. Padahal, dalam kenyataannya, terorisme sering hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi, bersembunyi di balik kehidupan yang tampak biasa.

Di tengah masyarakat, sebagian pelakunya beraktivitas seperti warga pada umumnya. Mereka bekerja, berinteraksi, dan berbaur tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak selalu ada tanda yang terlihat. Tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka. Justru dalam ruang-ruang senyap itulah, paham radikal tumbuh dan menyebar secara perlahan.

Penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror di Parigi Moutong pada 6 Mei 2026 menjadi salah satu contoh. Delapan orang diamankan dan diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Jamaah Anshoru Daulah yang berafiliasi dengan ISIS.

Mereka bukan figur yang selama ini dikenal publik sebagai pelaku kekerasan, melainkan individu yang hidup di tengah masyarakat. Bahkan boleh jadi ada yang menjadi pegawai pemerintah, ada pula yang bekerja di perusahaan milik negara dan di tempat lain.

Menurut juru bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana, aktivitas mereka lebih banyak bergerak di ruang digital. Propaganda disebarkan melalui media sosial dalam bentuk gambar dan video yang dirancang untuk memengaruhi cara berpikir dan menarik simpati. Cara ini lebih halus, tetapi memiliki jangkauan yang luas.

“Para terduga teroris itu juga diduga terlibat dalam berbagai aktivitas terorisme lainnya dan saat ini masih didalami oleh penyidik,” kata Mayndra.

SEMAKIN INTENS MENYASAR GENERASI MUDA

Pengamat terorisme Noor Huda Ismail menilai bahwa di era digital, kelompok radikal semakin intens menyasar generasi muda yang akrab dengan internet.

“Upaya penyebaran radikalisme dan terorisme saat ini cenderung menyasar generasi muda. Hal tersebut dikarenakan generasi muda masih dalam proses pencarian jati diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, internet dan media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan ide-ide radikal secara luas. Anak muda kerap menjadi target karena berada dalam fase ingin menemukan identitas dan menunjukkan eksistensi diri.

“Biasanya anak muda yang terpapar radikalisme adalah mereka yang baru mendalami agama. Faktor lainnya karena keinginan untuk menunjukkan eksistensi diri,” katanya.

Dalam banyak kasus, lanjutnya, narasi yang diangkat kerap dikemas dalam semangat “jihad” yang emosional, terutama dengan isu penindasan terhadap umat Islam. Media sosial mempercepat proses ini, menggeser pola rekrutmen menjadi berbasis jejaring digital.

“Kelompok mereka bergerak dimulai dari melawan nilai-nilai multikulturalisme,” kata Huda.

Ia menekankan pentingnya tiga pendekatan: transmedia intervention, narasi kolaboratif, dan credible voice.

“Dengan pendekatan itu, diharapkan transformasi mantan radikalis dapat diarahkan kembali pada kemaslahatan umat secara umum,” ujarnya.

TERORISME TELAH BERADAPTASI

Fenomena ini menunjukkan bahwa terorisme telah beradaptasi. Terorisme tidak lagi bergantung sepenuhnya pada aksi fisik, tetapi juga memanfaatkan teknologi dan arus informasi. Ruang digital menjadi medan baru tempat ideologi disebarkan, diperkuat, dan rekrutmen dilakukan secara perlahan.

Karena itu, ancaman terorisme hari ini bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi juga ketahanan cara berpikir. Paham radikal ini menguji kewaspadaan, literasi, serta kemampuan masyarakat dalam memilah informasi.

Kasus di Parigi Moutong hanyalah satu contoh. Dari sana, terlihat gambaran yang lebih luas: terorisme belum benar-benar hilang, tetapi masih ada, bergerak dalam diam, dan terus mencari celah di tengah kehidupan yang tampak normal. (*)

(Ruslan Sangadji)