PAGI ITU, suara sapu lidi terdengar lebih dulu daripada deru kendaraan. Di halaman sebuah kantor desa, beberapa pegawai menyingsingkan lengan baju. Anak-anak sekolah memungut sampah plastik di tepi jalan, sementara ibu-ibu PKK sibuk membersihkan selokan kecil yang tersumbat daun kering. Tak ada spanduk besar, tak ada panggung. Hanya kerja bersama yang dilakukan pelan-pelan.
Di Kabupaten Sigi, gerakan itu dikenal dengan nama Pakagali Pakagaya Ngata. Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menyebutnya bukan sekadar program kebersihan biasa. “Pakagali Pakagaya Ngata adalah program prioritas dan masuk dalam inovasi pemerintah daerah,” katanya.
Bagi Bupati Rizal Intjenae, kebersihan adalah fondasi. Ia bahkan mengingatkan soal nilai yang paling mendasar. “Semua agama mengajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi kurang elok kalau kantor pemerintahan atau pekarangan rumah warga masih terlihat kumuh dan kotor,” ujarnya.
Data produksi sampah di Sigi yang mencapai sekitar 30 ton per hari menjadi alarm tersendiri. Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi gambaran beban lingkungan yang harus ditanggung setiap hari. Karena itu, menurutnya, perubahan tak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan.
“Yang kita ubah bukan hanya halaman kantor, tapi pola pikir masyarakat,” katanya. “Kita ingin hidup bersih sekaligus hidup hemat,” tambahnya.
Makna Pakagali Pakagaya Ngata sendiri mengandung filosofi menggali dan membangun kampung. Menggali kesadaran, membangun kebiasaan. Pemerintah daerah rutin mengevaluasi program tersebut dengan mengundang para camat serta meminta laporan dari Tim Penggerak PKK dan Dinas Lingkungan Hidup.
“Kalau ada desa yang belum bersih, tentu akan kita tegur. Itu artinya wilayah tersebut belum ikut menyukseskan program ini,” tegas Rizal.
Ke depan, setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan ditunjuk menjadi koordinator di masing-masing kecamatan untuk mengawasi kebersihan secara langsung. Langkah ini diharapkan membuat gerakan tidak berhenti sebagai imbauan administratif.
Hari Jumat kini punya wajah baru di Sigi. “Saya sudah tetapkan, setiap hari Jumat kita bersih-bersih lingkungan. Semua terlibat, termasuk anak-anak sekolah,” kata Rizal.
Di sejumlah desa, kegiatan itu mulai terasa sebagai rutinitas yang dinanti. Warga berkumpul lebih awal, sebagian membawa alat kebersihan dari rumah. Anak-anak terlihat antusias, meski kadang diselingi tawa dan candaan.
Gerakan ini memang sederhana. Namun dari sapu lidi, karung sampah, dan selokan yang kembali mengalir, Sigi sedang menata dirinya. Bukan dengan gemuruh proyek besar, melainkan lewat kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.
Di tengah hamparan sawah dan kaki pegunungan yang mengelilingi Kabupaten Sigi, Pakagali Pakagaya Ngata perlahan menjelma menjadi lebih dari sekadar program. Ia adalah ajakan untuk pulang pada nilai—bahwa membangun daerah bisa dimulai dari menjaga kebersihan halaman sendiri. (*)
(Ruslan Sangadji)
Pakagali Pakagaya Ngata, Gerakan Bersih Kampung Menata Wajah Sigi
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Tinggalkan Balasan