PALU, KAIDAH.ID – Kepala Pusat (Kapus) Moderasi Beragama pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, Ismail Pangeran, menegaskan pentingnya praktik moderasi beragama dalam kehidupan mahasiswa, tidak hanya sebatas teori di ruang kelas.
Menurut Ismail, moderasi beragama harus menjadi sikap hidup yang dibiasakan dalam keseharian civitas akademika. “Moderasi beragama tidak boleh berhenti menjadi slogan atau teks dalam buku materi semata, melainkan harus dipraktikkan,” katanya dalam rilis resmi Humas UIN Datokarama yang diterima media ini, Sabtu, 11 April 2026.
Ia menjelaskan, sebagai perguruan tinggi yang mengusung visi kampus moderasi beragama, UIN Datokarama memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang moderat, inklusif, serta berwawasan kebangsaan.
Dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pendidikan dan pengajaran, Ismail menekankan agar pembelajaran soal moderasi itu, tidak hanya bersifat teoritis. Ia mengusulkan komposisi pembelajaran ideal, yakni 40 persen teori dan 60 persen praktik lapangan.
“Penerapannya, idealnya 40 persen teori dan 60 persen praktik, agar sikap moderat benar-benar tumbuh dalam diri mahasiswa,” jelasnya.
Sebagai bentuk implementasi, Ismail mengusulkan agar mahasiswa diajak mengunjungi rumah-rumah ibadah lintas agama, bersilaturahmi, serta berdialog langsung dengan pemeluk agama lain. Menurutnya, langkah ini dapat memperluas wawasan tentang keberagaman sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan.
Ia juga menegaskan, moderasi berarti menempatkan diri di posisi tengah, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri, demi menjaga persatuan.
“Soal moderasi ini adalah bagaimana kita mempertebal rasa kemanusiaan. Mahasiswa harus dibiasakan bersikap moderat, berdiri tegak di tengah demi persatuan,” ungkapnya.
Ismail yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Palu itu optimistis, pimpinan kampus berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dalam seluruh aspek kemahasiswaan.
Ia berharap, langkah tersebut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap rendah hati, inklusif, dan mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.
“Kampus kita adalah laboratorium perdamaian. Dari Palu, kita bisa menginspirasi Indonesia dengan sikap moderat yang nyata,” tandasnya. (*)
(Moch. Subarkah / Advertorial)

Tinggalkan Balasan