Gubernur Anwar menyebut sebelum 2024, sekitar 50 persen lulusan SMA di Sulawesi Tengah tidak melanjutkan pendidikan. Dari sekitar 23.000 lulusan SMA setiap tahun, separuhnya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi
BAGI GUBERNUR Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, pembangunan tidak selalu harus meninggalkan bangunan yang bisa dilihat mata. Jalan bisa dibangun. Jembatan bisa diresmikan. Gedung bisa berdiri megah.
Tetapi ada satu pembangunan yang menurutnya jauh lebih penting dan hasilnya baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian: manusia yang berpendidikan.
Dari situlah lahir sebuah mimpi besar Anwar Hafid untuk Sulawesi Tengah pada 2045: setiap rumah memiliki setidaknya satu sarjana.
“Saya ingin satu saat kalau saya sudah pensiun, saya datang ke rumah-rumah masyarakat pasti ada sarjana di dalam rumah itu**,” kata Gubernur Anwar dalam wawancara Podcast Madilog Forum Keadilan TV berjudul: Sindiran Sulawesi Tengah Pemerintah Pusat, yang tayang Ahad, 13 September 2026 dan dikutip kaidah.ID, Senin, 14 September 2026.
Bagi Gubernur Anwar Hafid, itulah legasi yang ingin ia tinggalkan. Bukan sekadar nama pada sebuah proyek pembangunan, melainkan perubahan kualitas hidup masyarakat melalui pendidikan.
47 Ribu Anak Sulteng Sudah Mendapat Beasiswa
Mimpi itu tidak berhenti sebagai gagasan. Dalam Podcast di Studio Madilog itu, Gubernur Anwar Hafid menyebut selama dirinya menjabat, sudah 47.000 anak Sulawesi Tengah mendapatkan beasiswa.
Program itu mencakup pendidikan S1, S2, S3 hingga dokter spesialis. Para penerimanya tersebar di sekitar 300 perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, termasuk perguruan tinggi di luar negeri.
“Skema utama bantuan diberikan dalam bentuk Uang Kuliah Tunggal (UKT),” katanya.
Ada jalur afirmasi yang menyasar mahasiswa berdasarkan kondisi ekonomi, serta jalur prestasi. Untuk jalur prestasi, anak-anak Sulawesi Tengah yang masuk perguruan tinggi melalui jalur bebas tes, mendapatkan bantuan tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Mahasiswa yang sedang kuliah dan memiliki IPK minimal 3,0 juga mendapatkan bantuan pembayaran UKT, sebagai bentuk penghargaan atas prestasi akademiknya.
Bagi Gubernur Anwar, prinsipnya sederhana: selama merupakan anak Sulawesi Tengah dan memenuhi ketentuan program, kesempatan kuliah tidak boleh terhalang persoalan biaya.
Rp260 Miliar: Bukan Beban, Tapi Investasi
Komitmen itu terlihat dari besarnya anggaran yang disiapkan. Pada 2025, kata Gubernur Anwar, sekitar Rp85 miliar dialokasikan untuk membiayai sekitar 23.000 mahasiswa. Sementara pada 2026, anggarannya diperkirakan mencapai sekitar Rp260 miliar, untuk membiayai mahasiswa yang melanjutkan program sekaligus penerima baru.
Nilainya memang besar. Namun Anwar tidak melihatnya sebagai beban bagi APBD.
“Kita tidak pernah merasa bahwa itu adalah beban bagi APBD, tapi ini adalah sebuah investasi buat daerah,” katanya.
Investasi itu, menurut dia, merupakan bagian dari kontribusi Sulawesi Tengah terhadap cita-cita Indonesia Emas 2045.
Ia bahkan mengakui pilihan pembangunan selalu memiliki konsekuensi. Ketika pemerintah memilih memprioritaskan pendidikan, maka sebagian program lain harus disesuaikan.
“Kita harus pilih. Kalau kita fokus di sini, maka kita harus relakan yang lain untuk kurang,” ujarnya.
Tetapi bagi Gubernur, pendidikan adalah prioritas yang tidak boleh dikurangi. Ia menyontohkan, ketika kemampuan anggaran dihitung, kebutuhan program Berani Cerdas harus terlebih dahulu dipenuhi. Setelah itu, anggaran yang tersisa baru dibagi untuk program lainnya.
Dari Morowali, Mimpi Itu Dibawa ke Sulteng
Program beasiswa yang kini dijalankan Gubernur Anwar, sebagai gubernur bukan sesuatu yang sama sekali baru.
Ia mengatakan, telah menerapkan gagasan serupa ketika menjabat sebagai Bupati Morowali sejak sekitar 2012.
Saat itu, ia mencanangkan program “kuliah bagi siapa saja”. Bahkan, menurut dia, masyarakat yang ingin kuliah dapat dibiayai hingga menyelesaikan semester delapan.
Pengalaman itulah yang semakin menguatkan keyakinannya, bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan utama untuk mengubah kehidupan masyarakat.
Gubernur Anwar mengaku berasal dari keluarga yang benar-benar kesulitan secara ekonomi. Bahkan, sebagian saudaranya harus berhenti sekolah, karena orang tuanya harus memprioritaskan biaya pendidikannya.
“Karena pendidikan itulah sehingga saya jadi begini,” katanya.
Pengalaman personal tersebut kemudian menjadi dasar keyakinannya.
“Saya punya keyakinan bahwa merubah hidup itu hanya satu jalannya pendidikan,” ujarnya.
50 Persen Lulusan SMA Tak Melanjutkan Kuliah
Ada persoalan besar yang ingin dijawab melalui kebijakan tersebut. Gubernur Anwar menyebut sebelum 2024, sekitar 50 persen lulusan SMA di Sulawesi Tengah tidak melanjutkan pendidikan. Dari sekitar 23.000 lulusan SMA setiap tahun, separuhnya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Setelah program beasiswa dijalankan, menurutnya, minat melanjutkan pendidikan meningkat. Kini proporsinya sudah berada di atas 60 persen.
Bahkan, ia menemukan orang yang sebelumnya telah melewati usia kuliah, kembali memiliki keinginan untuk masuk perguruan tinggi setelah adanya program tersebut.
“Saya mau kuliah, Pak. Karena dengan kesempatan ini, saya bisa merubah hidup saya,” tutur Gubernur Anwar mengutip salah satu masyarakat yang ditemuinya.
Bagi Gubernur Anwar, perubahan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar angka dalam laporan pemerintah.
Sebab, ketika seseorang memeroleh pendidikan tinggi, ia tidak hanya mendapatkan ijazah. Menurutnya, cara berpikir dan kualitas sumber daya manusia ikut berubah.
“Kalau dia sudah sarjana bedalah, Mas. Udah sarjana dia pikirannya beda,” katanya.
Tak Masalah Tidak Populer
Di titik inilah, Gubernur Anwar tampak sadar, bahwa investasi pendidikan tidak selalu menghasilkan popularitas dalam waktu cepat.
Pembangunan jalan, jembatan, gedung atau proyek fisik lebih mudah dilihat dan diingat karena memiliki bentuk yang kasatmata.
Sebaliknya, hasil pendidikan baru mungkin terasa setelah bertahun-tahun.
Karena itu, Gubernur Anwar Hafid mengaku, tidak keberatan apabila selama lima tahun menjadi gubernur dirinya tidak dianggap popular, karena tidak banyak meninggalkan proyek monumental.
“Biarlah saya tidak populer dalam 5 tahun ini jadi gubernur, tapi saya hanya berharap bahwa 20 tahun yang akan datang, 2045 itu Sulteng pasti akan menonjol sumber daya manusianya,” tegasnya.
Ia membandingkan proyek fisik dengan investasi pendidikan. Jalan dan jembatan, menurut dia, tetap penting dan akan dibangun selama anggaran tersedia. Namun pendidikan memiliki efek yang jauh lebih panjang.
“Kalau yang begitu-begitu 5 tahun juga hilang,” katanya mengenai proyek-proyek yang sekadar menjadi penanda masa jabatan.
Sebaliknya, seorang sarjana yang lahir dari sebuah rumah akan membawa perubahan yang terus hidup.
Satu Desa Satu Dokter
Mimpi Gubernur Anwar Hafid, ternyata tidak berhenti pada satu sarjana dalam setiap rumah. Ia juga ingin melahirkan satu dokter di setiap desa.
Untuk mengejar target itu, kepala sekolah SMA di Sulawesi Tengah diberikan target, agar semakin banyak anak didiknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Bahkan, Gubernur Anwar mengatakan, akan memberikan penghargaan kepada kepala sekolah yang berhasil meluluskan setidaknya satu anak menjadi dokter.
“Target kita satu desa satu dokter itu bisa tercapai,” katanya.
Dengan demikian, pendidikan dan kesehatan ditempatkan dalam satu garis besar pembangunan sumber daya manusia.
Setiap rumah diharapkan memiliki sarjana. Setiap desa diharapkan memiliki dokter.
Dua target itu menjadi gambaran sederhana tentang Sulawesi Tengah yang ingin dibangun Gubernur Anwar hingga 2045.
Bukan Hanya Soal Kuliah, Tapi Memutus Kemiskinan
Bagi Gubernur Anwar, beasiswa bukan sekadar kebijakan pendidikan. Ada tujuan ekonomi yang lebih besar di belakangnya: mengurangi beban hidup masyarakat sekaligus membuka jalan keluar dari kemiskinan.
Ia merumuskan cara mengurangi kemiskinan dalam dua langkah: mengurangi beban hidup masyarakat dan kemudian memberikan pemberdayaan.
Dalam kondisi kemampuan fiskal yang terbatas, menurutnya, mengurangi beban masyarakat menjadi langkah awal yang penting.
Pembayaran UKT membuat sebagian keluarga tidak lagi harus memikirkan biaya kuliah anak.
Uang yang sebelumnya mungkin harus digunakan untuk membayar kuliah dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk mengembangkan usaha keluarga.
Karena itu, menurut Gubernur Anwar, dampaknya bisa berantai terhadap ekonomi masyarakat.
Ia juga menyebut, dalam dua tahun terakhir indeks pembangunan manusia Sulawesi Tengah terus meningkat dan angka kemiskinan turun dari 11 persen menjadi 10,45 persen.
Sulteng Harus Siap Ketika Nikel Habis
Ada alasan lain mengapa Gubernur Anwar begitu keras mendorong pendidikan.
Sulawesi Tengah adalah daerah yang ekonominya sangat berkaitan dengan sumber daya alam, termasuk nikel.
Namun Gubernur Anwar melihat kekayaan alam bukan sesuatu yang akan bertahan selamanya.
“Morowali akan habis, nikel ini akan habis, Sulteng ini nikel akan habis,” katanya.
Pertanyaannya kemudian, bukan sekadar berapa banyak nikel yang bisa ditambang hari ini. Tetapi, apa yang akan dimiliki masyarakat ketika nikel itu suatu hari habis?.
Jawaban Gubernur Anwar: pendidikan.
“Solusinya tidak ada yang lain kecuali rakyat itu diisi dengan ilmu pengetahuan, pendidikan, pendidikan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong perusahaan tidak hanya berbicara tentang investasi dan produksi, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia lokal.
Ia menyontohkan gagasan, agar anak-anak Sulawesi Tengah yang berpotensi dapat ditempa melalui pendidikan teknologi, termasuk dengan belajar di China, sehingga kelak kembali membawa keahlian ke daerah.
Dengan cara itu, menurut Anwar, ketika sumber daya alam menurun, manusia yang telah dibangun kualitasnya tetap bisa menjadi kekuatan ekonomi baru.
2045: Ketika Gubernur Mungkin Sudah Tak Ada
Gubernur Anwar sadar, target 2045 bukan target yang bisa diselesaikan dalam satu periode pemerintahan.
Bahkan, ia mengatakan pada saat itu dirinya mungkin sudah tidak ada lagi. Namun justru di situlah makna legasi yang ia inginkan.
“Mungkin saya sudah tidak ada atau sudah meninggal tapi nanti akan jadi legasi yang luar biasa,” katanya.
Ia tidak ingin, Sulawesi Tengah hanya dikenang karena siapa yang pernah menjadi gubernur atau siapa yang meresmikan sebuah proyek.
Ia ingin suatu hari nanti, ketika datang ke rumah-rumah warga, pertanyaan tentang pendidikan tidak lagi berakhir pada “tidak ada yang kuliah”.
Sebaliknya, jawabannya sederhana: “Ada. Anak saya sarjana.”
Dan di desa-desa, jawabannya pun diharapkan sama: “Ada dokter.”
Itulah gambaran Sulteng 2045 yang diimpikan Gubernur Anwar Hafid: sebuah provinsi yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi memiliki keunggulan sumber daya manusia.
“Tiap rumah minimal satu sarjana di dalam rumah. Minimal satu sarjana, minimal satu dokter satu desa,” katanya.
Bagi dia, ketika pendidikan dan kesehatan sudah dekat dengan rakyat, maka pembangunan tidak lagi sekadar terlihat dari jalan yang mulus atau jembatan yang berdiri.
Pembangunan itu hidup di dalam rumah-rumah warga. Dan di sanalah Gubernur Anwar ingin meninggalkan legasinya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan